Just another WordPress.com weblog

akhlak tasawuf

Judul buku : Tasawuf
Pada bab : Akhlak Tasawuf
Pengarang : Muhammad zakki Ibrahim
Penerbit : PT. Raja Grafindo
Halaman : 1-60 + I-III
Tahun : 2002

A. Pendahuluan
Pertama-tama penulis mengucapkan puji dan syukur kepada Allah swt karena dengan rahmat dan hidayahnya makalah ini bisa terselesaikan dengan baik denagn tidak kurang suatu apapun.
Pada buku karangan seorang yang konservatif yang terkenal diindonesia ini, penulis mencoba mereveu bab yang pertamanya pada buku tasawuf yaitu “akhlak tasawuf”.
Alasan mengapa saya memlih bab ini karena hangat-hangat diperbincangkan oleh masyarakat tentang masalah tersebut masalah ini berkaitan dengan kehidupan orang-orang tasawuf, apakah dengan konsep yang mereka yakini berimplikasi pada kehidupan sehari-harinya baik perbuatan, perkataan. Ataupunn hanya sebatas teori saja. Untuk itu penulis menyajikan makalah ini agar bisa menyelesaikan tugas semester III.
Saya mengambil tema ini untuk menjadi petunjuk yang bersifat umum membahas tentang dasar-dasar sufi. Salah satu dari pihak yang berseteru dalam masalah Tasawuf tidak akan meninggalkan apa yang selama ini mereka yakini terlebih jka kita berharap perubahan tersebut terjadi hanya karena mereka membaca buku ini. Sesuatu masalah yang telah berlangsung lama dan mungkin akan terus berlangsung lama, bahkan masalah tersebut telah mengambil bentuk yang dilarang oleh syariat pembelaan terhadap mazhab telah semakin tinggi, sehingga kepimpinan ilmu menjadi kabur. Sesungguhnya penulis merasa tidak sesuatu yang baru dalam tasawuf.dan kebenaran itu pada hakikatnya bukan milik semua insan kan?. Atau menyalahkan orang-orang yang tidak sepaham dengan masalah-masalah cabang (furu’) yang perbedaan pendapat di dalamnya merupakan sesuatu hal yang menjadi sebuah kemestian. Perbedaan tersebut memang terlahir dari dalil-dalil yang ada, lahir dari perbedaan pribadi seorang mujtahid. Timbul dari situasi dan kondisi yang mempengaruhi seseorang dalam menggali hukum.
Kenapa tidak mencoba menyelami kembali tata cara dalam berdiskusi, sebagaimana yang Allah swt firmankan:
Katakanlah: “Siapakan yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah”, dan Sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. (Q.S. Saba (34): 24)

Dan firman Allah yang lain didalam Al-qur’an, yang artinya:
(ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu. (Q.S An-Nahl (25): 16)

Menurut penulis, bahwa Furu’ merupakan suatu hal yang mustahil terwujud, walau dengan penantian yang panjang-bersikap keras kepala dalam hal furu’ adalah sia-sia memaksakannya adalah suatu hal yang menggelikan sekaligus menyedihkan. Furu’ sebagai permaslahan pokok (ushul) atau sebaliknya menjadikan permaslahan ushul menjadi furu’.
Menurut para ahli taswuf menyatakan bahwa tasawuf amali adalah usaha dan pengalaman batin yang dapat menjadikan kita sebagai kondisi rasa yang selama ini tidak pernah di rasakan. Tasawuf bukan sekedar ilmu pengetahuan tanpa praktek. Ia tidak dapat dirasakan hanya dengan pendekatan filsafat, karena ilmu dan filsafat merupakan lahan garapan akal manusia, sedangnkan tasawuf adalah garapan hati dan perasaan. Sungguh antara keduannya terdapat perbedaan yang besar, ungkapan-ungkapan tasawuf apabila di terima rasa dan dengan pendalaman batin. tasawuf juga adalah penghambaan. ia akan di butuhkan oleh manusia dalam setiap zaman, dan di butuhkan dalam setiap wilayah tasawuf. Tasawuf sebenarnya merupakan suatu paket dengan terwujudnya kekhalifahan di bumi ini. Menurut tokoh Islam pengertian tasawuf mengandung dengan banyak makna. Bagi kami tasawuf adalah ilmu makrifat. Ia adalah pengelaman dari Islam yang shahih. Perwujudan dan kebenaran iman dan perwujudan dari ikhsan. Dan karena itu, tasawuf tidak akan dapat dicapai dengan hanya sekedar membaca buku tasawuf . hal ini bisa terlihat dari mereka yang berkecimpung dalam ilmu-ilmu tasawuf.
Setiap ayat dalam Al-qur’an dengan jelas memperlihatkan rekatnya hubungan antara dunia dan akhirat. Dunia dianggap sebagai jalan untuk mencapai akhirat. Melalui ketakwaan dan usaha membersihkan diri. Allah swt, menggatakan dalam al-qur’an:
Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), (Q.S Al-‘ala (87): 14)
Oleh sebab itu, berbahagialah orang yang membersihkan diri. Diantara fungsi diturunkan risalah adalah usaha membersihkan diri manusia dimana Allah swt mengatakan dalam firmannya
Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, (Q.S Al-Syams (91): 9)
Tasawuf juga bisa dikatakan sebagai tasawuf atau adab, akidah adalah adab, ibadah adalah adab. Muamalah juga merupakan adab. Penulis sering mendengar orang tua selalu melantunkan do’a, “Ya, Allah ajarkanlah kami tentang adab?. Barang siapa yang mempelajari adab maka ia akan sampai kepada sesuatu yang menjadi tujuannya.
Menurut penulis jika kata tasawuf dianggap sebgai kata yang diambil dari kata “shafa” yang berarti bersih, maka tasawuf menjadi dari suatu yang di ingini.
Tasawuf juga bisa diartikan sebagai al-Rabbaniyah. Ia adalah takwa tasawuf adalah usaha membersihakan diri. Setiap sisi memerlukan sisi yang lain. Tidak ada sifat keRabbaniyahan tanpa adanya sifat takwa.
Tasawuf mengajak dan menyebarkan cinta diantara manusia. Ia mengajak manusia untuk mencari cinta yang hilang dari diri manusia.Manusia terkadang kehilangan kemanusiaannya meski jasad manusia bersamanya. Cinta adalah sesuatu yang merukapan Ciri khas bagi seorang yang menampaki jalan menuju Allah swt.
Bayangkanlah tentang sebuah masyarakat yang digerakkan oleh cinta, kedamaian. Saling pengertian, lemah-lembut, penghambaan kepada pencipta, saling berkasih sayang, mengutamakan kehormatan, mendahulukan kepentingan orang lain dari diri sendiri, serta berusaha mrenjadikan nilai-nilai kebajikan sebagai ruh dari perbuatan.
Para pembesar sufi mengatakan rahasia hekekat terbuka lebar, ilmu makrifat sebagai bendera yang ditegakkan pintu menuju Allah swt. Mereka para sufi dan ulama mengatakan jalan menuju Allah swt. Demikian jelas, petunjuk tergambar jelas, orang yang mengajak kearahnya demikian terdengar ajakannya. Demikian meyakinkan dan mengasyikan oleh sebab itu, tidak ada kebinggungan lagi kecuali bagi mereka yang jiwanya lupa dan batin nya lalai.
Akhir dari semua yang bergerak adalah diam, dan akhir dari setiap yang ada adalah ketiadaan. Guru-guru waktu penulis masa dibangku SD telah memberikan sebuah nasehat kepada kami tujuh dasar kedekatan diantara kami (manusia)
1. keingginan yang kuat
2. menjaga diri dari keharaman
3. pengabdian yang sempurna
4. pelaksanaan azimah
5. menghargai nikmat
6. memberikan yang terbaik untuk umat
7. menghilangkan kebatilan dengan cara yang bijaksana
Dengan istilah apapun yang mungkin di pergunakan untuk melukiskannya, penghayatan dengan mana pengakiman kejiwaan meningkat keterasingannya dengan sejak yang bukan dirinya, dari apa yang bukan Tuhan.
Dalam tasawuf pengahayatan menunggaling kawula- gusti ini bisa mereka capai melalui memuncaknya penghayatan fana’ hingga fana’ Al-Fana’ dalam zikir dan bisa pula dari pendalaman rasa cinta rindu yang memuncak pada mabuk cinta ( sakar). Di dalam Tuhan, atau dari kedua-duanya dari mendalamnya cinta dalam zikir dan fana’ al-fana’.
Tauhidnya para sufi yang berpaham yang menunggaling kawula-gusti adalah menyatunya kembali antara manusia dengan Tuhannya. Dalam hal ini R.A Nucholson menerangkan sebgaai berikut:
Bath Moslem and sufi decilare that god is one , but the statement bears a different meaning in each instance. The Moslem means that god is unrigue in his essence qualities un like all other beings.
Keduanya baik muslim ataupun sufi menyatakan bahwa Allah adalah es, akan tetapi pernyataan kedua belah pihak menganduk arti yang (jauh) berbeda.

Para muslim (biasa) mengartikannya bahwa Allah adalah unik baik zatnya, sifat-sifatnya dan perbuatannya bahwa dia berbeda secara absolute dengan segala makhluk hidup. Dengan konsep hulul, yaitu imamnesi roh Tuhan dalam diri manusia, timbul masalah bagaimana roh Tuhan tadi menempat dalam semesta. Hulul, dari kata :……….yang berarti, aitis berekarnasi, yakni immanet istilah filsafatnya. Persoalan terjadinya alam semesta dan manusia yang jamak ini dari zat Tuhan yang Tunggal yang dijawab Al Halazj dengan meminjam teori penciptaan secara emanasi, atau faradly, ( memancar, melimpah), dari khazanah filsafat.
Uraian diatas menunjukkan dengan immanensi Tuhan dalam diri manusia, akhirnya Al Halazj mencangkok pula teori emanasi untuk menjelaskan terpancarnya alam semesta yang bersifat majemuk dari zat yang esa.
Hal ini di terangkan Annemarie Schimmel sebagai berikut:
In this chapter Hallaj discuss his own claim together with that of pharaoh and satan. Pharaoh having asserted according to the Koran: ”I’am your highrest lord” (surat 79:24) and satan, “ I’am better than adam”. (surat 7: 12). Hallaj, then, assrets his own claim, “ I’am the absolute truth”. This passage led later mytics into deep speculations abaut the two different “I’s,” that of pharaoh and that of the loving mystics.
Pada bab ini Al-Halaj membicarakan pernyataan sendiri dibandingkan dengna pernyataan fir’aun dan setan. Dalam al-qur’an fir’aun mengatakan “akulah Tuhan mu yang maha tinggi “ (surat 79:24), dan setan mengatakan aku lebih baik (mulia) dari pada adam “ (surat 7:12) Al hallaj, lalu mengetenahkan pernyataannya, “ akulah kebenaran yang mutlak itu”. Dengan ungkapan diatas para sufi yang datang kemudian mencoba menafsirkan secara spekulasi tentang perbedaan dua kata” aku “ diatas, yakni diantara aku-Nya fir’aun dan aku-Nya hallaj sang pencipta Allah.
Dalam ajaran Al hallaj dasar pikiran falsafih telah diletakkan.
• Jalan sufi
Lebih dari seribu tahun silam, seorang guru sufi bernama Ali ibnu Ahmad, yang berasal dari kata Busyanj di pasir timur, pernah mengeluh bahwa tak banjyak orang mengetahui ihwal apa sesungguhya ”tasawuf”.
Nama tasawuf telah dikenal luas, tetapi relitasnya malah lebih gelap dari pada yang pernah ada di dunia Islam. Tasawuf juga menjadi label mujarab. Apabila kita cermati asal kata arab dari tasawuf atau sufisme (sufi), kita ketahui bahwa istilah itu sudah problematis dalam peradaban Islam.
Carl ernest menunjukkan bahwa istilah itu dibuatb kabur bukan oleh teks-teks Islam, melainkan oleh kaum orientates inggris karena mereka menggiginkan adanya sebuah istilah yang mengacu pada berbagai sisi peradaban Islam yang menarik mereka dan yang bisa menghindari berbagai stereotype negative tentang agama Islam stereotype-stereotipe yang ironisnya sering mereka propagandakan sendiri.
Dalam teks-teks Islam tidak ada kata sepakat mengenai arti sufi, para penulisnya yang berbeda pendapat tentang makna maupun legitimasinya.
Lazim dijumpai orang-ornag dibarat yang akrab dengan berbagai ajaran dan praktik sufi, tetapi tidak mengetahui atau bahkan menggikari adanya hubungan yang erat antara tasawuf dalam Islam. Pandangan tentang tasawuf yang umumnya di jumpai ini diperkuat oleh reaksi kalangan muslim modern atasnya. Lima puluh tahun silam H.A.R Gibb, pakar sejarah peradaban Islam terkemuka menggemukakan bahwa kaum muslim dari kalanggan ini memandang tasawuf sebagai “pelestarian tahayul”, dari “Islam sejati”. ‘Gibb tampaknya sukup sesitif dengan realitas tasawuf. Sampai memahami bahwa sikap semacam itu cenderung ”memutuskan ekspresi pengalaman keagamaan paling outentik” dari dunia Islam.
Dalam teks-teks kurun awal, berbagai definisi dikemukakan untuk istilah “suf” dan “tasawuf” sama banyaknya dengan definisi yang dikemukakan untuk istilah-istilah teknis menyangkut guru sufi.

A. Analisis dan kritikan
Tasawuf dapat diartikan sebagai proses menuju kesempurnaan, tasawuf pada jaman dulu bisa diartikan sebagai realitas tanpa nama, tapi pada jaman modern bisa diartikan sebagai nama tanpa realitas. Asal mula tasawuf berasal dari nama gerakan hidup zuhud. Ada beberapa konsep zuhud seperti zuhud, tidak bergantung dengan dunia zuhud juga tidak terlalu berlebihan dengan hal-hal yang berbau materi.
Ada beberapa aliran-aliran tasawuf yang diangkat oleh beberapa sufi misalnya.
 Tasawuf akhlaqi yang disebarkan oleh Imam Al-Ghazali
 Tasawuf falasafi yang disebarkan oleh Ibnu Al-Farabi
 Tasawuf irfan

Sebelumnya saya telah mengatakan bahwa “tasawuf teoritis” mewakili salah satu dari tiga pendekatan ulama dalam menghamipiri kemauan dan pemahaman. Kita juga bisa mengatakan bahwa yang membedakan pendekatan sufi pada keimanan Islam adalah titik beratnya pada makrifat pengetahuan langsung tentang diri dan Allah yang memancar dengan kuasa dari hati yang telah tersucikan.
Sepertin halnya para ahli ilmu kalam dan berbeda dengan para filosofi, kaun sufi nenberikan tempat yang penting kepada Al-qur’an dan hadis. Mereka senang mengutip ayat al-qur’an Karen atakwa kepada Allah “(takwa)” telah disebutkan oleh al-qur’an sendiri.
Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S Al-Hujjrat (49): 13)

C. Penutup
Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya oleh penulis, kaum sufi umumnya menyebut pengetahuan langsung tentang Allah ini. Sebagai “penyingkapan” (kasyf)
Seperti halnya Imam, praktik sufi juga berakar pada sahadat. Dengan pemikiran, ia menghubungkan dua perspektif kamplekmenternegasi dan afirmasi, atau “tidak ada Tuhan” dan “kecuali Allah”.
Pada umumnya para sufi selalu memandang diri mereka sebagai umat muslim yang sangat patuh kepada seruan Allah. Para kaum sufi tidak mau terlepas dari ajaran-ajaran Allah. Mereka selalu memakai al-qur’an dan hadis sebagai pedoman mereka untuk menuju kesempurnaan diri mereka.
Menurut ada beberapa tokoh filosofi sufi di Indonesia misalnya Hamzah fansuri. Hamzah fansuri membicarakan tentang tauhid. makrifat, dan sulut, dama dengan paham Ibnu Arab. Dan unsur-unsur yang paling penting dalam buku fansuri adalah pendapatnya yang diambil dari perkataan kaum sufi klasik yang bersih dari penyimpangan dan tidak ditambah-tambah! Atau dihilangkan agar sesuai dengan lingkungan pada masa itu
Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa dalam sejarah kaum sufi Indonesia, fansuri di pandnag sebagai ahli sufi pertama di Indonesia yang menuliskan buku-buku tentang tasawuf Islam.
Arti tentang hakekat tasawuf dan sufi, Al-Syilbi mengatakan: “tasawuf ialah duduk bersama Allah tanpa ada rasa duka. “ dan katanya pula “ tasawuf adalah kehalusan yang membakar “ selanjutnya, katanya sufi ialah seorang yang terputus hubungannya dengan makhluk dan senatiasa berhubungan dengan khalik.

D. Daftar Pustaka

Muhammad zakki Ibrahim, Mystical dimensions Of Islam, Cet. Ke-IV Bandung, 2002

Simuh, The Mystics of Islam, 79-80 Cet. Ke-II, Jakarta, 1992

Ernest, the shambala guide to Sufism (Boston: shambala, 1997)
“the structure of religions thought in Islam” (1948), dicetak kembali dalam Gibb, studies on the civilization of Islam (Boston: Beach Press, 1062), h. 218

Islam sufistik, Islam pertama dan pengaruhnya hingga kini di Indonesia, oleh Dr. Alwi Shihab, Cet. Ke-1, 2001

J. Nurbakhsh, Sufism: meaning, knowledge, and Unity (New York: khaniguhi-nimatullahi Publications, 1981), h. 16-41

Q.S Al-Hujjrat (49): 13

http://blogspot.com pendapat al-Ghazali tentang tasawuf, senin 07 november 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: