Just another WordPress.com weblog

Ilmu Tafsir

Pandangan Ulma Tafsir terhadap suri tauladan Rasulullah saw

Sesungguhnya telah ada bagi kamu pada Rasulullah suri teladan yang baik..” [QS al-Ahzab [33]: 21]. Ayat ini, menunjukkan bahwa kepribadiaan beliau secara totalitas merupakan teladan. Cendekiawan Mesir terkemuka al-‘Aqqâd menjelaskan bahwa ada empat tipe manusia, yaitu Pemikir, Pekerja, Seniman, dan Yang larut beribadah. Jarang ditemukan sosok yang berkumpul dalam dirinya–dan dalam tingkat yang tinggi–dua dari keempat tipe tersebut. Dan mustahil keempatnya berkumpul pada diri seseorang. Namun yang mempelajari pribadi Muhammad Saw akan menemukan bahwa keempatnya bergabung dalam peringkat tertinggi pada diri beliau. Inilah yang menjadikan beliau dapat diteladani oleh siapa pun.

Pakar hukum, al-Qurthuby, mengemukakan bahwa dalam soal keagamaan, beliau wajib diteladani selama tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa ia adalah anjuran. Sedang dalam persoalan keduniaan, Rasul Saw sendiri telah menyerahkan sepenuhnya kepada para pakar di bidang masing-masing.
Bagi umat Islam, Nabi Muhammad Saw merupakan sosok yang ideal dan panutan.
Bersikap dan berperilaku seperti beliau menjadi cita-cita tertinggi setiap umat Muslim. Semua karena akhlak beliau yang mulia.

Suatu ketika, saat Nabi Muhammad Saw dan para sahabat berkumpul di masjid, datanglah seorang laki-laki dari pedesaan. Tiba-tiba ia berdiri dan kemudian buang air kecil di dalam masjid. Mengetahui perbuatan laki-laki itu, para sahabat berteriak, “Di sana, di sana! Jangan kencing di sini!” Tapi, Nabi justru melarang para sahabat berbuat kasar pada laki-laki itu. Beliau mengatakan, “Jangan kalian ganggu, ia sedang buang air kecil.”

Setelah laki-laki itu usai membuang hajat, Nabi memanggilnya. Kemudian beliau berkata dengan santun, “Ketahuilah, masjid itu tidak patut untuk dipakai sebagai tempat kencing dan kotoran yang lain, karena masjid adalah tempat untuk mengingat Allah, tempat shalat, dan tempat membaca al-Qur’an.”

Kepada para sahabatnya, beliau berkata, “Sesungguhnya kalian diutus untuk membawa kemudahan dan kalian tidak diutus untuk membawa kesulitan. Siram air kencing lelaki itu dengan seember air.” Mengetahui sikap Nabi yang santun itu, laki-laki itu kemudian berdoa, “Ya Allah, rahmati aku dan rahmati pula Muhammad, dan jangan rahmati orang lain selain kami.” Mendengarnya, Nabi mengatakan, “Kamu telah menyempitkan rahmat yang luas.”

Begitulah kebesaran dan kelapangan hati beliau yang tergambar dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim

Bagaimana Meneladani Nabi Muhammad Saw?
Langkah pertama adalah dengan terlebih dahulu memantapkan hati kita untuk yakin bahwa Nabi Muhammad Saw adalah benar-benar utusan Allah swt. Beliaulah rahmat bagi seluruh alam semesta yang apabila kita mengikuti semua ajarannya, kita akan selamat di dunia maupun di akhirat nanti.

Janganlah kita menjadi seperti orang-orang kafir Quraisy yang buta hatinya, menolak Nabi Muhammad Saw sebagai utusan Allah swt, padahal bukti-bukti kerasulan Nabi Muhammad Saw tampak jelas di hadapannya.

Dalam buku Muhammad, Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, Martin Lings mengisahkan, pada masa awal Nabi Muhammad Saw diutus, orang-orang Quraisy mengirim utusan ke Yatsrib untuk bertemu rabi Yahudi. Utusan tersebut diperintahkan untuk menanyakan tentang Muhammad. Kemudian rabi Yahudi memberikan tiga pertanyaan untuk diberikan kepada Nabi Muhammad Saw. Jika bisa menjelaskan tiga pertanyaan tersebut, maka Nabi Muhammad Saw benar-benar utusah Allah swt.

Mendapat tiga pertanyaan itu, Nabi Muhammad Saw mengatakan kepada para pemimpin Quraisy, “Esok akan kujelaskan kepada kalian.” Nabi lupa mengucap “insya Allah”.

Ketika keesokan harinya mereka datang kembali, Nabi Muhammad Saw tak bisa memberi jawaban karena beliau belum menerima wahyu untuk pertanyaan-pertanyaan itu. Selama limabelas malam, tak satu pun wahyu turun. Nabi sangat sedih. Lalu Jibrîl membawakan sebuah wahyu yang mengingatkan Nabi yang sedih karena apa yang dikatakan kaumnya dan memberinya jawaban atas tiga pertanyaan tersebut.

Peristiwa itu memberi arti yang sangat besar bagi kaum Muslimin dan Quraisy yang berada dalam keraguan. Sekarang mereka menjadi yakin bahwa Nabi tidak ikut campur soal wahyu dan tak kuasa mengatur kapan turunnya wahyu itu. Pikir mereka, tak masuk akal bagi Nabi untuk menunda wahyu [jika benar beliau yang membuatnya], padahal banyak hal yang dipertaruhkannya. Namun demikian, bagi kaum kafir Quraisy yang bebal, tetap saja peristiwa tersebut tak mengubah pandangan mereka sedikit pun.

Setelah yakin akan kerasulan Nabi Muhammad Saw, kita juga harus yakin bahwa semua perilaku dan sikap Nabi Muhammad Saw tak mustahil kita teladani. Mengapa begitu? Ya, karena Nabi Muhammad Saw adalah manusia seperti kita juga. Dalam al-Qur’an, setidaknya ada dua ayat yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah seorang manusia.

Dalam surah Fushshilat, Allah swt berfirman yang artinya: “Katakanlah: Bahwasanya aku adalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku: Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka bersungguh-sungguhlah menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya dan kecelakaan yang besar bagi orang-orang yang mempersekutukan” [QS Fushshilat [41]: 6].

Sedangkan dalam QS al-Kahf Allah swt berfirman: “Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka barang siapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan dalam beribadah kepada Tuhannya sesuatu pun’” [QS al-Kahf [18]: 110].

Kata basyar dalam kedua ayat di atas digunakan untuk menyebut manusia dengan sifat lahiriahnya. Dalam kedua ayat tersebut, Nabi Muhammad Saw diperintahkan untuk mengatakan bahwa beliau juga seorang manusia yang sama seperti manusia lain di seluruh dunia.

Munasabah
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, kata Akhlak diartikan sebagai Budi Pekerti atau kelakuan. Kata akhlak walaupun terambil dari bahasa arab ( yang biasa berartikan tabiat, perangai, kebiasaan, bahkan agama ), namun kata seperti itu tidak ditemukan hanyalah bentuk tunggal kata tersebut, yaitu : Khuluq yang tercantum dalam Al Qur’an ayat 4 surat Al Qalam :
وإنك لعلى خلق غظيم
“Sesungguhnya engkau ( Muhammad ) berada di atas budi pekerti yang agung”. ( Q.S Al Qalam : 4 ).
Kata Akhlak banyak ditemukan dalam hadits-hadits Nabi SAW, dan yang paling populer adalah :
إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق ( رواه مالك ).
Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.
Akhlak merupakan perbuatan yang lahir dari kemauan dan pemikiran, dan mempunyai tugas yang jelas dan dapat disimpulkan bahwa akhlak adalah : Jalan menuju kebahagiaan manusia, baik sebagai individu maupun masyarakat.
Keluarga Muhammad SAW telah menanamkan ajaran-ajaran yang membimbing kita menuju kebahagiaan yang diimpikan semua orang. Bahkan lebih dari itu, kita dapat mengambil faedah dari Akhlak yang telah diajarkan Rasulullah SAW dan keluarganya untuk berhias diri dengan ajaran Rasul SAW, serta membentuk keperibadian kita pada sosoknya yang paling baik, paling cemerlang dan suci.
Al-Mufadhdhal bin Umar meriwayatkan dari Al-Shadiq yang mengatakan : “Hendaklah kamu sekalian memiliki akhlak mulia, karena sesungguhnya Allah SWT mencintainya, dan hendaklah kalian menjauhkan diri dari perangai buruk karena Allah SWT membencinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: