Just another WordPress.com weblog

makalah sosiologi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Agama dan wahyu memiliki arti penting dalam konteks kinsepsi Islam tentang dunia dan karenanya perlu dijelaskan dengan benar dalam konteks modern, yang seringkali istilah-istilah tersebut menjadi kabur dalam penggunaan sehari-hari. Kata agama dalam bahasa Arab yang paling dekat maknanya adalah kata “din”, dalam bahasa Inggris adalah “religion” yang disimpulkan oleh banyak orang memiliki dasar mematuhi, menyerahkan dan merendahkan diri di hadapan Tuhan. Agama adalah panduan hidup menyeluruh yang disandarkan pada aturan yang telah diberikan oleh Tuhan. Kemudian ajaran-ajaran ini sampai kepada manusia melalui wahyu yang artinya penyampaian pesan langsung dari langit.

B. Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam pembahasan ini adalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan wahyu dan agama?
2. Bagaimana peran wahyu dalam kehidupan manusia?
3. Apa perbedaan antara agama dan wahyu?
4. Apa persamaan antara agama dan wahyu?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Agama
Agama berasal dari bahasa sansekerta yaitu “a” berarti tidak dan “gama” berarti kacau. Jadi, kata agama berarti tidak kacau. Dengan demikian agaam adlaah aturan yang mengatur manusia agar kehidupannya menjadi teratur dan tidak kacau. Menurut Sidi Gazalba agama adalah keperayaan pada hubungan manusia dengan yang kudus, dihayati sebagai hakikat yang ghaib, yang menyatakan diri serta sistem kultur dan sikap hidup berdasarkan doktrin tertentu.
Agama juga dapat diartikan sebagai suatu sistem credo (tata keyakinan) atas adanya yang mutlak di luar manusia atau suatu sistem ritus (tata peribadatan) manusia kepada yang dianggapnya yang mutlak serta suatu system norma (tata kaidah) yang mengatur hubungan manusia dengan sesame manusia dan dengan alam lainnya, sesuai denga jalan tata keimanan dan tata peribadatan.

B. Pengertian Wahyu
Wahyu berasal dari bahasa Arab “al-Wahy” yang berarti suara, api dan kecepatan. Disamping itu mengandung arti bisikan, isyarat, tulisan dan kitab. “Al-Wahy” selanjutnya mengandung arti pemberitahuan secara sembnunyi dan dengan cepat. Tetapi kata itu lebih dikenal dalam arti “apa yang disampaikan kepada Nabi”. Dengan demkian terkandung arti penyampaian sabda Tuhan kepada orang pilihannya agar diteruskan kepada umat manusia dalam perjalanan hidunya baik di dunia maupun di akhirat nanti. Sementara dalam Islam, wahyu atau sabda Tuhan disampaikan kepada Nabi Muhammad saw yang tertumpuk dalam al-Qur’an sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat berikut:

Terjemahan:
Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang dia kehendaki. Sesungguhnya dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (Q.S Asy-Syu’ura: 51)
Jadi terdapat tiga cara Allah berkata-kata kepada manusia, pertama melalui jantung hati seseorang dalam bentuk ilham, kedua dari belakang tabir, dan yang ketiga melalui utusan yang dikirimkan dalam bentuk malaikat.
Adanya wahyu yang disampaikan kepada Nabi bukanlah hal yang tidak bisa masuk akal, kekuasaan Tuhan adalah penentu terhadap semua keinginan Tuhan. Dan wahyu yang sekarang kita kenal dalam bnetuk al-Qur’an, adalah sekumpulan ayat-ayat Tuhan yang dturunkan dalam bahasa Arab. Dengan demikian al-Qur’an merupakan firman Allah yang bukan hanya isi akan tetapi juga termasuk dengan kata-katanya. Dengan kata lain teks Arab yang mengandung isi dan arti tersebut adalah diwahyukan Tuhan kepada Nabi Muhammad saw melalui malaikat Jibril. Karena salah satu sumber yang paling penting untuk memperoleh pengetahuan dan salah satu area berfikir adalah wahyu Allah.
Menurut al-Baghadi, bahwa segala kewajiban dan larangan harus melalui wahyu, sekiranya tidak ada wahyu, tidak ada kewajiban dan tidak ada larangan bagi manusia.
Dengan demikian kedudukan wahyu sangat besar terhadap tata peraturan hidup manusia dan dalam ketentuan Tuhan.
Wahyu merupakan pengetahuan yang sempurna tentang realitas-realitas alam semesta, nilai-nilainya dan tujuan-tujuan mulia kehidupan manusia. Pengetahuan ini jelas dan langsung. Pengetahuan ini merupakan karunia istimewa dari Tuhan yang dianugerahkan kepada seorang manusia yang suci. Wahyu bukanlah pengetahuan biasa yang dapat melalui pikiran rasional atau akal, pengamatan atau eksperimen juga bukan pengetahuan yang berbasis pengetahuan terdahulu berkat upaya produktif pikiran manusia.
Oleh karena itu, wahyu juga merupakan pengetahuan yang dari kekuratan dan kebenaran Tuhan. Wahyu juga merupakan pengetahuan transendental (pengetahuan yang berada di luar pengalaman manusia bersama berbagai fenomena). Al-Qur’an menyatakan wahyu adalah cahaya dan visi (segalanya jelas dan akurat), sesuatu yang membantu, menjelaskan, kearifan, pemecah masalah, hujjah, bukti, argument yang memperkuat fakta atau kebenaran sesuatu, sumber dari kehidupan dan pengetahuan.
Cahaya dan visi mula-mula harus mencerahkan hati Nabi sendiri, karena Nabilah yang mendapat wahyu. Dalam al-Qur’an surat an-Najm ayat tiga dan empat Allah SWT berfirman :

Terjemahan:
Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).
Nabi dapat melihat dengan jelas dan akurat karena pikirannya suci maka nabi maksum, pandangan misinya bebas dari kesalahan, kekeliruan atau kekhilafan apapun.
Sangat jelas bahwa wahyu tidak diturunkan kepada manusia biasa melainkan hanya diberikan kepada seorang nabi yang terlepas dari kekeliruan,. Kesalahan, dan kekhilafan.
Islam memandang wahyu bukan seperti konsep inkarnasi dalam ajaran Agama Hindu dan Kristen, melainkan Islam memandang wahyu sebagai proses turunnya kata-kata Tuhan dalam bentuk kitab suci kepada nabi. Dan terbukti al-Qur’an menggunakan istilah-istilah kitab-kitab, tidak hany al-Qur’an tetapi juga bagi kitab-kitab suci lainnya serta bagi wahyu secara keseluruhan. Seluruh kitab suci berhubungan satu dengan yang lainnya dalam menyampaikan pesan dasar yang sama, yaitu kesatuan primordial seluruh agama tapi dalam bahasa dan konteks yang berbeda. Allah SWT berfirman:

Terjemahan
Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkansiapa yang dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang dia kehendaki. dan Dia-lah Tuhan yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S Ibrahim: 4)

C. Peran Wahyu dalam Kehidupan Manusia
Telah kita ketahui bahwa mewujudkan suatu revolusi yang jelas dan yang kuat dengan dampak positif dan produktif dalam kehidupan para Nabi. Wahyu tidak secara otomatis berperan langsung dalam kehidupan kita, kecuali kalau kita mengakui kebenaran Nabi, mengetahui dan menyadari sumber luar biasa ilmu dan iman. Kalau kita tidak beriman kepada Nabi, maka satu-satunya sumber pengetahuan kita adalah pengalaman, pikiran dan pemahaman kita sendiri. Namun, kalau kita sudah mengetahui dan yakin dnegan kebenaran Nabi dan yakin betul bahwa Nabi mamiliki kontak langsung atau memiliki jalan untuk menjangkau sumber baru pengetahuan, dan juga percaya sekali bahwa ajaran yang disebut-sebutnya diterima melalu kontak langsung dengan sumber eksistensinya, bukan pemikiran atau pandangan pribadinya dan juga bukan produk pengalaman pribadinya, melainkan jelas-jelas merupakan risalah dari Sang Pencipta, maka otomatis wahyu akan mendasar sangat penting peranannya dalam kehidupan kita. Lewat Nabi, kita dapat menjangkau sumber pengetahuan tentang awal dan akhir dunia ini dan jalan untuk bias hidup lurus dan berakhlak mulia.
Oleh karena itu, mengimani dan meyakini Nabi merupakan slaah satu jalan untuk mendapatkan sebuah pengetahuan yang dapat bermanfaat di dunian dan di akhirat serta sebagai penunjuk jalan manusia.

D. Perbedaan antara Agama dan Wahyu
Agama mempunyai makna taslim, jalan, dan balasan. Agama-agama Ilahi (baca: kitab-kitab Ilahi) diturunkan untuk memberi hidayah pada manusia dan dalam tingkatan-tingkatan kesempurnaan, mereka satu sama lain saling menyempurnakan. Agama-agama Ilahi ditinjau dari dimensi kebenarannya tidak memiliki perbedaan antara satu dan lainnya dan hanya ditinjau dari segi syarat tempat dan zaman dalam mizan program hidayah yang mempunyai intensitas kuat dan lemah. Agama Islam adalah agama Ilahi yang paling akhir diturunkan dan merupakan paling sempurnanya agama Ilahi serta nabinya dan kitabnya merupakan khâtam anbiyâ dan kitab-kitab suci.
Jika kita mengambil pemahaman kenabian secara mutlak maka dahulu dan kemudian dalam hal ini tidak menunjukkan atas kesempurnaan dan kekurangan. Misalnya, meskipun Nabi Ya’kub As datang setelah Nabi Ibrahim As, tetapi ini tidak bisa menjadi dalil atas lebih sempurnanya Nabi Ya’kub As ketimbang Nabi Ibrahim As. Dalam hal kesempurnaan para nabi terdapat derajat yang bertingkat-tingkat, tetapi tidak ditinjau dari aspek kesejarahan awal dan akhir kedatangannya (di sini kita meninjau wahyu lebih umum dari kenabian dan risalah dan dalam subyek ini tidak terdapat perbedaan di antara keduanya).
Wahyu tidak mengambil kehujjahannya dari sejarah dan faktor kesejarahan, karena itu kedudukan wahyu lebih atas dari dahulu dan kemudian (baru). Jika seorang teolog ingin berbicara tentang kemajuan dan kemunduran dalam sejarah agama, dia mesti mengisyaratkan dalam pembicaraannya unsur-unsur penting dan spesifik dalam pemahan agama dan wahyu. Dari pengertian dan pemahaman diatas dapat diketahui bahwa yang membedakan antara agama dan wahyu terletak pada waktu manakah yang lebih dulu agamakah? Atau wahyu? Bila kita simpulkan bahwa wahyulah yang pertama turun baru ada agama. Secara signifikan bahwa yang membedakan antara agama dan wahyu terletak pada aplikasinya bahwa wahyu hanya untuk nabi seorang ataupun rasul ataupun seorang lelaki yang dipilih oleh ilahi yang dipercaya. Sedangnkan agama merupakan konsep yang sudah paten yang berasal dari sang ilahi yang diamantkan untuk disampaiakan kepada umat manusia demi keselamatan dunia dan akhirat.
E. Persamaan antara Agama dan Wahyu
Bila kita melihat persamaan dari konsep tersebut maka kita lihat dulu seperti apa pengertian agama dan wahyu. Agama (dalam hal ini ad-din dalam bahsa arab) memiliki makna jalan, balasan, dan kecenderungan. Agama-agama Ilahi turun satu menggantikan lainnya dalam bentuk saling menyempurnakan dengan tekanan pengajaran yang berbeda-beda untuk memberi hidayah dan petunjuk kepada manusia. Karena itu, substansi agama-agama Ilahi adalah hidayah (memberikan petunjuk) dan dalam implementasi tujuan ini tidak ada perbedaan di antara agama-agama Ilahi. Akan tetapi dalam mizan hidayah dan kadar pengajaran, mereka satu sama lain mempunyai perbedaan secara intensitas kuat dan lemah.
Descartes berkeyakinan bahwa hakikat ada pada semua dan tak satupun kelompok yang berrhak membatasi hakikat hanya pada dirinya dan semuanya dalam pemahaman hakikat adalah sama. Tentu ungkapan ini menimbulkan tanda tanya besar bagi kadar validitas sebuah agama. Sementara itu Kant berkeyakinan bahwa di dalam proposisi-proposisi analitis akal teoritis, kita tidak mempunyai kemampuan pengetahuan apriori dan keluarnya hukum-hukum (pembenaran dan pengafirmasian) sebelum pengalaman (eksperimen).
Kendatipun pemikiran-pemikiran ini dalam posisi dan kedudukannya tersendiri dari sudut benar dan salahnya masih perlu dikaji, akan tetapi pemikiran-pemikiran ini biasnya di era sekarang sudah disertai dengan natijah yang sama, yakni pluralisme filsafat, agama, dan akhlak.
Disamping itu wahyu mengandung arti bisikan, isyarat, tulisan dan kitab. “Al-Wahy” selanjutnya mengandung arti pemberitahuan secara sembnunyi dan dengan cepat. Tetapi kata itu lebih dikenal dalam arti “apa yang disampaikan kepada Nabi”. Dengan demkian terkandung arti penyampaian sabda Tuhan kepada orang pilihannya agar diteruskan kepada umat manusia dalam perjalanan hidunya baik di dunia maupun di akhirat nanti.
Pada kesimpulannya bahwa wahyu adn agama memiliki persamaan yaitu sama-sama disampaiakn oleh satu orang saja yang mendengar wahyu dan menyampaiakn agama yang dibawanya. Dengan demikian peranan wahyu dan agama memiliki kesamaan yaitu untuk keselamatan dunia dan akhi

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari pembahasan ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa agama merupakan panduan hidup yang menyeluruh pada aturan-aturan yang telah diberikan Tuhan. Sedangkan wahyu adalah pengetahuan yang diakui kesakralannya, kebenarannya, dan keandalannya atau sebagai penyampaian pesan langsung dari langit. Wahyu juga memberi kemampuan atau bakat yang ada pada diri manusia untuk berkembang optimal dan mengembangkan kecenderungan dan pandangan tinggi manusia dan juga wahyu memandu manusia dan menunjukkan jalan yang benar. Sebab, tanpa wahyu semua orang bebas melakukan apa saja yang dia inginkan tidak mengenal mana yang dilarang (haram) dan mana yang dibolehkan (halal) apalagi dalam masalah keagamaan.

B. Saran

Sebagai manusia biasa tentunya dalam penulisan makalah ini terdapat banyak kekurangan, untuk itu, sangat diharapkan saran serta kritik yang membangun dari rekan-rekan mahasiswa terutama dosen mata kuliah.

Daftar Pustaka

Anshari, Endang Saifuddin, Kuliah Akidah Islam, Jakarta: Rajawali Pers, 1992

Hawari, Dadang, Al-Qur’an dan Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa, Jogjakarta: Dana Bhakti Prima Yasa, 1999

Husain, Muhammad, Intisari Islam, Jakarta: Lentera, 2003

Mubarok, Zaki, Akidah Islam, Jogjakarta: UII Press, 1998

Nasr, Sayyed Husain, Pesan-Pesan Universal Untuk Kemanusiaan, Bandung: Mizan Pustaka, 2003

Nasution, Harun, Teologi Islam, Jakarta: UI Pres, 1986

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: