Just another WordPress.com weblog

Adikku” @ Budi cakep

“Adikku” @ Budi cakep
Titik air hanya mrmbasahai pemukiman yang kumuh itu, jalannannya berkelok-kelok dan penuh becek untuk pergi ketempat orang-orang yang tiada berpunya, rumah dipemukiman kumuh ini tiada terawat seakan perhatian pemerintah hanyalah untuk kaum elit dan orang yang berpunya.
Aku menatap langit-langit kamarku yang atapnya terbuat dari kardus, bila hujan aku dan adikku diliputi rasa dingin. “rumahku adalah istanaku” begitu ucapku dalam hati. “adikku satu-satunya sesuatu yang berharga dalam hidupku” gumamku.
Aku beranjak dari tidurku, untuk pergi mencari sesuap nasi untuk adikku, terkadang aku harus menahan sakitnya perut ini.
* **
Klatson mobil beririgan seakan memberi isyarat mobil didepan untuk berjalan, suasana itu sudah biasa ketika ada lampu merah. Aku menghampiri mobil berwarna hitam bila dilihat sangatlah keren aku menatap kaca mobil itu berharap orang yang didalam mobil itu membuka kacanya untukku. Dengan suara merdu yang ku dendangkan dengan di iringi bunyi gitar ku dekatkan wajahku kearah kaca tersebut.
Sedetik kemudian, tiba-tiba lampu lalu lintas yang menjadi peraturan tata tertib bagi pengendara roda empat ataupun roda dua mulai berubah menjadi warnah biru Aku tersentak kaget karena ku tak sadari mobil itu menindas jari kakiku yang penuh debu dan bau, mobil hitam itu pergi tanpa membuka pintu kacanya.
Aku berteriak dan menjerit dalam hati, ingin rasanya berteriak dalam hati, tapi sudahlah aku sadari diriku orang yang tiada berpunya dibuang oleh orangtua. “Mungkin kehidupan dunia ini adalah neraka untuk orang-orang sepertiku”.
Kupaksakan kakiku untuk mencari rezeki dengan bermodal gitar dan suaraku. Tapi rasa sakit ini membuat tubuhku terjatuh hamir-hampir nyawaku melayang ketika mobil didepan berhenti. “he, cari mati kamu” itulah ocehan yang keluar dari mulut sopir itu, seakan tiada kebaikan di dalam hatinya. Aku berusaha untuk berdiri dan pergi dari tempat itu “kota Jakarta memang kejam yang dipenuhi orang-orang kaya yang tiada menoleh kebelakang” gumamku dalam hati.
***
Langkahku tersendat-sendat untuk melangkah menuju rumah, seorang gadis kecil berumur empat tahun dengan wajah pucat yang dari kemarin ku melihat wajahnya imut yang pucat berlari kearahku. “kak, kaki kakak kenapa?…” ujarnya.
“tidak apa-apa adikku sayang, hanya jatuh sedikit” kataku untuk meyakinkan adikku. “tapi kak, darahnya banyak yang keluar”. “tidak apa-apa yang penting kakak dapat uang untuk membeli obat dan ansi bungkus untukmu” kataku.
Tiba-tiba aku mendengar suara yang parau dari mulutnya disertai batuk yang membuatku terkejut. Nilla adikku menutup mulutnya dengan tangan kecilnya, hatiku sedih manakala ku melihat ada darah ditangan imutnya “adik? Kenapa kau tidak bilang bahwa separah itu” kataku dengan perasaan sedih.
“ini hanya batuk biasa ka?” ujarnya. “tidak! Tidak111 ini bukan batuk biasa?” tiba-tiba aku merasakan tubuhku terjatuh karena terasa berat menahan cobaan ini. Aku merasakan seakan dalam pandanganku terasa gelap. Tubuhku pingsan.
***
Aroma minyak telon hinggap dihidungku membuat aku terbangun dari tidurku, aroma ini sangatlah khas, “pasti Ma Lila disampingku” ujarku. Ma lila tetangga disebelah rumahku, hanyalah dia satu-satunya orang yang perhatian sama aku dan adikku. “akhirnya tuhan mengabulkan doa’ku, nak?” ujarnya. “ kamu pingsan tiga bulan, karena kata dokter di puskesmas tadi kakimu sangat parah, banyak darah yang keluar”. Lanjutnya ”jari kakimu ada yang patah, Cuma adikmu……??” seperti ada sesuatu yang dia tidak bias diungkapkan. “ ada apa dengan adikku?..ma lila…???’ ujarku. “ adikmu sebulan lalu batuk terus, bicaranya agak susah di mengerti..?” katanya. “ dimana nilla bu…?” aku berusaha untuk bangkit namun tidak bisa. “jangan dipaksa nak, adikmu sudah dipuskesmas karena tadi anto mengangkat adikmu kepuskesmas dekat jalan dipenogoro sana?” ujarnya sambil menaggis. “ boleh ya bu…? Aku kesana?” ujarku. “ boleh…? Ujarnya meyakinkan. Kemudian tubuhku diangkat dan ibu tua itu berusaha agar aku bisa berjalan menuju puskesmas tempat adikku dirawat.
***
Suasana hatiku mulai tak tentu arah, “ Ya Allah, selamatkan adikku” ujarku dalam hati. Selangkah lagi kakiku sudah sampai dikamar tempat adikku berbaring. Ma lila pelan-pelan menurunkan tubuhku dan berusaha membuat aku bisa duduk disebelah adikku yang tengah berbaring.
Badan yang kecil itu berbaring ditempat tidur tua itu, ku menatap wajahnya yang imut dengan hati sedih. “dok, ..berapa biayanya?” ujarku. “dua ratus ribu de..?” kata dokter lanjutnya “sejak lahir adikmu mengidap penyakit ini, kami tidak bisa mengobatinya, dan penyakit adikmu cukukp parah” ujarnya.
Ku tatap wajahnya yang pucat itu, hatiku sedih “ kemana harus kucari uang sebanyak itu” gumamku dalam hati. “ka.., anu..tapa?” ujarnya dengan kata-kata yang sulit dimengerti. Adik kecil ini berusaha untuk meyakinkan dnegna perkataan yang terbata-bata. Walaupun suaranya sulit dimengerti oleh orang lain yang mendengarnya tapi aku bisa menangkap apa yang dia katakan. “ka? A..nu pigi?” katanya seakan member isyarat kepadaku. “ nilla?..kau tak boleh pergi!!?”. Matanya yang kecil pelan-pelan mulai tertutup membuat aku bertambah sedih dan tidak menerima kenyataan yang terjadi. “tidak!! Hik..hiks!!! kau tak boleh pergi adikku? kau satu-satunya harta yang berharga bagiku!!?”. Nilla hanya diam, “adikku, bangun..bangun..?” aku menanggis sejadi-jadinya dan berteriak, seakan suaraku terdengar sampai di penjuru dunia. Ma lila dan dokter berusaha menenagkan aku yang dilanda duka dalam tapi mereka tidak bisa menenangkanku. “ kenapa Tuhan itu tidak adil.., kenapa harus aku yang mengalami, kenapa….?” Jeritku dalam hati.
“sepahit apapun cobaan yang kita hadapi, tetap istikomah dan bersandar diri kepada allah. Hanyalah dia tempat kita kembali. Dan jika terasa sakit untuk merasakan cobaan hidup maka sebai-baik penenang hati adalah mencurahkan kepada-Nya”
~#~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: