Just another WordPress.com weblog

BAB I

Sejarah Penyusunan Alqur’an

1. Pengertian Al-Qur’an
Apakah itu al-Quran?
• “Quran” menurut pendapat yang paling kuat seperti yang dikemukakan Dr. Subhi Al Salih bererti “bacaan”, asal kata qara’a. Kata Al Qur’an itu berbentuk masdar dengan arti isim maf’ul yaitu maqru’ (dibaca).
• Di dalam Al Qur’an sendiri ada pemakaian kata “Qur’an” dalam arti demikian sebagal tersebut dalam ayat 17, 18 surah (75) Al Qiyaamah:
Artinya: ‘Sesungguhnya mengumpulkan Al Qur’an (didalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggunggan kami. kerana itu jika kami telah membacakannya, hendaklah kamu ikut bacaannya”.
Kemudian dipakai kata “Qur’an” itu untuk Al Quran yang dikenal sekarang ini.
Adapun definisi Al Qur’an ialah: “Kalam Allah s.w.t. yang merupakan mukjizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad dan yang ditulis di mushaf dan diriwayatkan dengan mutawatir serta membacanya adalah ibadah”
Dengan definisi ini, kalam Allah yang diturunkan kepada nabi-nabi selain Nabi Muhammad s.a.w. tidak dinamakan Al Qur’an seperti Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s. atau Injil yang diturun kepada Nabi Isa a.s. Dengan demikian pula Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w yang membacanya tidak dianggap sebagai ibadah, seperti Hadis Qudsi, tidak pula dinamakan Al Qur’an.

Bagaimanakah al-Quran itu diwahyukan.
• Nabi Muhammad s.a.w. dalam hal menerima wahyu mengalami bermacam-macam cara dan keadaan. di antaranya:
1) Malaikat memasukkan wahyu itu ke dalam hatinya. Dalam hal ini Nabi s.a.w. tidak melihat sesuatu apapun, hanya beliau merasa bahwa itu sudah berada saja dalam kalbunya. Mengenai hal ini Nabi mengatakan: “Ruhul qudus mewahyukan ke dalam kalbuku”, (lihat surah (42) Asy Syuura ayat (51)
2) Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi berupa seorang laki-laki yang mengucapkan kata-kata kepadanya sehingga beliau mengetahui dan hafal benar akan kata-kata itu.
3) Wahyu datang kepadanya seperti gemerincingnya loceng. Cara inilah yang amat berat dirasakan oleh Nabi. Kadang-kadang pada keningnya berpancaran keringat, meskipun turunnya wahyu itu di musim dingin yang sangat. Kadang-kadang unta beliau terpaksa berhenti dan duduk karena merasa amat berat, bila wahyu itu turun ketika beliau sedang mengendarai unta. Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit: “Aku adalah penulis wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah. Aku lihat Rasulullah ketika turunnya wahyu itu seakan-akan diserang oleh demam yang keras dan keringatnya bercucuran seperti permata. Kemudian setelah selesai turunnya wahyu, barulah beliau kembali seperti biasa”.
• Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi, tidak berupa seorang laki-laki seperti keadaan no. 2, tetapi benar-benar seperti rupanya yang asli. Hal ini tersebut dalam Al Qur’an surah (53) An Najm ayat 13 dan 14.
Artinya: “Sesungguhnya Muhammad telah melihatnya pada kali yang lain (kedua). Ketika ia berada di Sidratulmuntaha”
Hikmah diturunkan al-Quran secara beransur-ansur
Al Qur’an diturunkan secara beransur-ansur dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari atau 23 tahun, 13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah. Hikmah Al Qur’an diturunkan secara beransur-ansur itu ialah:
1) Agar lebih mudah difahami dan dilaksanakan. Orang tidak akan melaksanakan suruhan, dan larangan sekiranya suruhan dan larangan itu diturunkan sekaligus banyak. Hal ini disebutkan oleh Bukhari dan riwayat ‘Aisyah r.a.
2) Di antara ayat-ayat itu ada yang nasikh dan ada yang mansukh, sesuai dengan permasalahan pada waktu itu. Ini tidak dapat dilakukan sekiranya Al Qur’an diturunkan sekaligus. (ini menurut pendapat yang mengatakan adanya nasikh dan mansukh).
3) Turunnya sesuatu ayat sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi akan lebih mengesankan dan lebih berpengaruh di hati.
4) Memudahkan penghafalan. Orang-orang musyrik yang telah menayakan mengapa Al Qur’an tidak diturunkan sekaligus. sebagaimana tersebut dalam Al Qur’an ayat (25) Al Furqaan ayat 32, yaitu:

Ayat Makkiyah dan ayat Madaniyah
Ditinjau dari segi masa turunnya, maka Al Qur’an itu dibahagi atas dua golongan:
a) Ayat-ayat yang diturunkan di Mekah atau sebelum Nabi Muhammad s.a.w. hijrah ke Madinah dinamakan ayat-ayat Makkiyyah.
b) Ayat-ayat yang diturunkan di Madinah atau sesudah Nabi Muhammad s.a.w. hijrah ke Madinah dinamakan ayat-ayat Madaniyyah.
Ayat-ayat Makkiyyah meliputi 19/30 dari isi Al Qur’an terdiri atas 86 surah, sedang ayat-ayat Madaniyyah meliputi 11/30 dari isi Al Qur’an terdiri atas 28 surah. Perbezaan ayat-ayat Makiyyah dengan ayat-ayat Madaniyyah ialah:
A. Ayat-ayat Makkiyyah pada umumnya pendek-pendek sedang ayat-ayat Madaniyyah panjang-panjang; surat Madaniyyah yang merupakan 11/30 dari isi Al Qur’an ayat-ayatnya berjumlah 1,456, sedang ayat Makkiyyah yang merupakan 19/30 dari isi Al Qur’an jumlah ayat-ayatnya 4,780 ayat. Juz 28 seluruhnya Madaniyyah kecuali ayat (60) Mumtahinah, ayat-ayatnya berjumlah 137; sedang juz 29 ialah Makkiyyah kecuali ayat (76) Addahr, ayat-ayatnya berjumlah 431. Surat Al Anfaal dan surat Asy Syu’araa masing-masing merupakan setengah juz tetapi yang pertama Madaniyyah dengan bilangan ayat sebanyak 75, sedang yang kedua Makiyyah dengan ayatnya yang berjumlah 227.
B. Dalam ayat-ayat Madaniyyah terdapat perkataan “Ya ayyuhalladzi na aamanu” dan sedikit sekali terdapat perkataan ‘Yaa ayyuhannaas’, sedang dalam ayat ayat Makiyyah adalah sebaliknya.
C. Ayat-ayat Makkiyyah pada umumnya mengandung hal-hal yang berhubungan dengan keimanan, ancaman dan pahala, kisah-kisah umat yang terdahulu yang mengandung pengajaran dan budi pekerti; sedang Madaniyyah mengandung hukum-hukum, baik yang berhubungan dengan hukum adat atau hukum-hukum duniawi, seperti hukum kemasyarakatan, hukum ketata negaraan, hukum perang, hukum internasional, hukum antara agama dan lain-lain.
Nama-nama al-Quran
Allah memberi nama Kitab-Nya dengan Al Qur’an yang berarti “bacaan”. Arti ini dapat kita lihat dalam surat (75) Al Qiyaamah; ayat 17 dan 18 sebagaimana tersebut di atas. Nama ini dikuatkan oleh ayat-ayat yang terdapat dalam surat (17) Al lsraa’ ayat 88; surat (2) Al Baqarah ayat 85; surat (15) Al Hijr ayat 87; surat (20) Thaaha ayat 2; surat (27) An Naml ayat 6; surat (46) Ahqaaf ayat 29; surat (56) Al Waaqi’ah ayat 77; surat (59) Al Hasyr ayat 21 dan surat (76) Addahr ayat 23. Menurut pengertian ayat-ayat di atas Al Qur’an itu dipakai sebagai nama bagi Kalam Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad s.a.w. Selain Al Qur’an, Allah juga memberi beberapa nama lain bagi Kitab-Nya, seperti:
a) Al-Kitab atau Kitaabullah: merupakan synonim dari perkataan Al Qur’an, sebagaimana tersebut dalam surat (2) Al Baqarah ayat 2 yang artinya; “Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya….” Lihat pula surat (6) Al An’aam ayat 114.
b) Al Furqaan: “Al Furqaan” artinya: “Pembeda”, ialah “yang membedakan yang benar dan yang batil”, sebagai tersebut dalam surat (25) Al Furqaan ayat 1 yang artinya: “Maha Agung (Allah) yang telah menurunkan Al Furqaan, kepada hamba-Nya, agar ia menjadi peringatan kepada seluruh alam”
c) Adz-Dzikir. Artinya: “Peringatan”. sebagaimana yang tersebut dalam surat (15) Al Hijr ayat 9 yang artinya: Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan “Adz-Dzikir dan sesungguhnya Kamilah penjaga-nya” (Lihat pula surat (16) An Nahl ayat 44. Dari nama yang tiga tersebut di atas, yang paling masyhur dan merupakan nama khas ialah “Al Qur’an”. Selain dari nama-nama yang tiga itu dan lagi beberapa nama bagi Al Qur’an. lmam As Suyuthy dalam kitabnya Al Itqan, menyebutkan nama-nama Al Qur’an, diantaranya: Al Mubiin, Al Kariim, Al Kalam, An Nuur.
Surah-surah dalam al-Quran
Jumlah surat yang terdapat dalam Al Qur’an ada 114; nama-namanya dan batas-batas tiap-tiap surat, susunan ayat-ayatnya adalah menurut ketentuan yang ditetapkan dan diajarkan oleh Rasulullah sendiri (tauqifi). Sebagian dari surat-surat Al Qur’an mempunyai satu nama dan sebagian yang lain mempunyai lebih dari satu nama, sebagaimana yang akan diterangkan dalam muqaddimah tiap-tiap surat. Surat-surat yang ada dalam Al Qur’an ditinjau dari segi panjang dan pendeknya terbagi atas 4 bagian, yaitu:
a) ASSAB’UTHTHIWAAL, dimaksudkan, tujuh surat yang panjang Yaitu: Al Baqarah, Ali Imran, An Nisaa’, Al A’raaf, Al An’aam, Al Maa-idah dan Yunus.
b) Al MIUUN, dimaksudkan surat-surat yang berisi kira-kira seratus ayat lebih seperti: Hud, Yusuf, Mu’min dsb.
c) Al MATSAANI, dimaksudkan surat-surat yang berisi kurang sedikit dari seratus ayat seperti: Al Anfaal. Al Hijr dsb.
d) AL MUFASHSHAL, dimaksudkan surat-surat pendek. seperti: Adhdhuha, Al Ikhlas, AL Falaq, An Nas. dsb.
e) Huruf-huruf Hijaaiyyah yang ada pada permulaan surat.
Di dalam Al Qur’an terdapat 29 surat yang dimulai dengan huruf-huruf hijaaiyyah yaitu pada surat-surat: (1)• Al Baqarah, (2) Ali Imran, (3) Al A’raaf. (4) Yunus, (5) Yusuf, (7) Ar Ra’ad, (8) lbrahim, (9) Al Hijr, (10) Maryam. (11) Thaaha. (12) Asy Syu’araa, (13) An Naml, (14) Al Qashash, (15) A1’Ankabuut, (16) Ar Ruum. (17) Lukman, (18) As Sajdah (19) Yasin, (20) Shaad, (21) Al Mu’min, (22) Fushshilat, (23) Asy Syuuraa. (24) Az Zukhruf (25) Ad Dukhaan, (26) Al Jaatsiyah, (27) Al Ahqaaf. (28) Qaaf dan (29) Al Qalam (Nuun).
Huruf-huruf hijaaiyyah yang terdapat pada permulaan tiap-tiap surat tersebut di atas, dinamakan ‘Fawaatihushshuwar’ artinya pembukaan surat-surat. Banyak pendapat dikemukakan oleh para Ulama’ Tafsir tentang arti dan maksud huruf-huruf hijaaiyyah itu, selanjutnya lihat not 10, halaman 8 (Terjemah).
Al-Quran karim merupakan firman Allah Swt yang turun secara berangsur-angsur selama 23 tahun dan tentunya urutan ayatnya tidak seperti yang kita lihat dalam Mushaf yang ada. Di mana mayoritas ulama menyakini bahwa hal pertama yang turun sebagai wahyu kepada Rasulullah Saw adalah 5 ayat pertama dari surat al-‘Alaq bukan surah al-Fatihah.
Nah pertanyaannya sekarang adalah penyusunan Al-Quran yang kita lihat hasilnya saat ini atas perintah siapa, di zaman siapa dan begaimana prosesnya?
Dalam penyusunan dan pengumpulan al-Quran terdapat polemic di antara para ulama, di mana pendapat itu terlihat dalam tiga pendapat berikut ini:
Pendapat pertama,
Penyusunan al-Quran terjadi setelah wafat Rasulullah Saw. Pendukung pendapat ini beragumentasi bahwa:
1. Kemungkinan penyeusunan quran sulit dilakukan mengingat adanya terpisah-pisahnya dan ketidak teraturan turunnya wahyu saat itu.
2. Riwayat-riwayat juga menunjukkan hal tersebut yang mengatakan bahwa saat nabi wafat quran tidak terkumpul sama sekali.
Pendapat kedua,
Penyusunan al-Quran dengan bentuk yang sekarang kita lihat (susunan ayat dan surah-surahnya) sudah terjadi pada masa Rasulullah Saw. Kelompok ini berdalil:
1. Keterjagaan Al-Quran dari tahrif tanpa tersusunya di masa Rasulullah saw sangat sulit dibayangkan. Karena bagaimana penyusunan itu akan maksimal jika tidak dihadiri oleh sosok yang bersentuhan langsung dengan wahyu tersebut.
2. Tantangan dari al-Quran menuntut ayat dan surah-surah itu sudah tersusun.
3. Beberapa riwayat juga menunjukkan adanya beberapa sahabat yang sibuk melakukan penyusunan ini. Sya’bi menuturkan bahwa ada 6 orang dari Anshar telah mengumpulkan al-Quran di masa Rasulullah saw. Mereka adalah Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Mu’adz bin Jabal, Abu Darda’, Said bin Ubaid dan Abu Zaid.

Pendapat Ketiga,
Menyakini bahwa quran memiliki tiga tahap pengumpulan dan penyusunan; tahap pertama, penyusunan ayat demi ayat. Hal ini dilakukan di masa Rasulullah Saw. Tahap kedua adalah pengumpulan mushhaf-mushhaf yang tercecer dan peletakannya dalam sebuah jilid, hal ini terjadi pada masa Abu Bakar. Tahap ketiga, pengumpulan seluruh quran para pencatat wahyu sebagai upaya penyatuan dalam bacaan atau yang lainnya. Tahap ketiga ini terjadi pada masa Utsman. Pendapat ketiga ini juga mengemukakan dalil-dali dan argumentasinya yang dapat dirujuk dalam kitab-kitab Ulumul Quran.
Al-hasil, dari yang sudah dijelaskan tadi menunujukkan bahwa mayoritas ulama Islam tidak menyetujui penyusunan Quran terjadi di zaman Rasulullah Saw. Namun ada beberapa ulama yang memiliki pendapat lain yang meyakini penyusunan itu sudah dilakukan di masa nabi dan menolak secara tegas tiga tahapan di masa para khalifah itu. Di antara mereka adalah Ayatullah Khu’I, dalam kitab al-Bayannya, Ayatullah Hasan Zadeh Amuli dan Dr. Subhi Saleh dalam kitab al-Mabahis Fi Ulumil Quran, hal 73.
Ayatollah Khu’I dalam rangka menjustifikasi pendapatnya, beliau menyatakan beberapa sebab dan keberatan:
1. Hadis-hadis yang menujukkan pengumpulan dan penyusunan Al-Quran setelah wafat Rasul Saw kontradiksi satu sama lain. Ada yang mengatakan di zaman Abu Bakar, ada yang mengatakan di zaman Umar bin Khatab dan sebagian di zaman Utsman.
2. Hadis-hadis tersebut bertentangan dengan riwayat yang menegaskan penyusunan itu di masa nabi.
3. Hadis-hadis tersebut bertentangan dengan logika sehat. Tidak mungkin nabi yang begitu perhatian terhadap Quran baik dalam pengumpulan dan pencatatannya tidak menyuruh para sahabat untuk melakukannya. Padahal hal-hal kecil beliau perhatikan lalu kenapa quran diabaikan.
4. Riwayat-riwayat tersebut juga bertentangan dengan ijmak muslimin akan kemutawatiran quran karim.
5. Penyusunan yang terlambat dan kasep semacam ini tentunya tidak dapat menepis sanggahan adanya tahrif quran secara sempurna.
Hanya saja, keberatan-keberatan ini dijawab oleh para ulama yang menyakini penyusunan itu tidak terjadi di masa rasul dengan pernyataan berikut ini. Masalah pengumpulan dan penyusunan al-Quran adalah kasus sejarah dan tidak ada kaitannya dengan masalah logika, sehingga dalam hal ini kita harus merujuk kepada teks-teks sejarah yang kredibel dan valid.
Kelompok ini dalam menjawab pertanyaan, mengapa di zaman nabi tidak tersusun? Mengatakan, perhatian nabi terfokus pada penyusunan dan perangkaian ayat demi ayat. Sedang pengumpulan dan penyusunan surah-surahnya sebagai satu mushhaf satu yang utuh adalah pekerjaan setelah wafat beliau. Sebabnya adalah beliau senantiasa menanti turunnya wahyu. Nah, bagaimana kita terima quran disusun sedang wahyunya masih berjalan dan belum berakhir. Oleh karenanya, ketika Rasul sudah menyaksikan tanda-tanda akan dekatnya kematian beliau dan berakhirnya wahyu beliau memerintahkan dan berwasiat kepada Imam Ali a.s. untuk menyusunnya.
Menurut pendapat ini, setelah wafat nabi para sahabat besar dengan ilmu dan kemampuannya mereka menyusun quran dan menata surah-surahnya dan masing-masing mereka memiliki mushhaf tersendiri. Hingga akhirnya dengan tersebarnya kawasan pemerintahan Islam maka jumlah mushhaf itupun bertambah.
Sebagaian mushhaf ini semakin populer di kawasan para penyusunnya dan mendapatkan tempat di dunia Islam saat itu. Contohnya, Mushhaf Abdullah bin Mas’ud populer di Kufah, Mushhaf Abu Musa As’ari di Bashrah dan Mushhaf Miqdad bin Aswad di Damaskus. Para penyusun begitu banyak dan satu sama lain tidak ada hubungan. Oleh karena itu, masing-masing memiliki metode, penyusunan, qiroat dan lain-lainya dan satu dengan yang lainnya berbeda-beda.
Akhirnya perbedaan ini juga terasa begitu berat di tengah-tengah masyarakat, perbedaan ini semakin santer sampai merambah ke pusat pemerintahan pada waktu itu, Madinah. Para guru mengajarkan kepada murid-murid mereka sesuai bacaan dan metode yang dipahami. Hal inilah yang melandasi upaya Usman untuk menyatukan mushhaf-mushhaf yang ada tersebut. Tim penyusun yang terdiri dari empat orangpun dia tunjuk yang terdiri dari; Zaid bin Tsabit, Abdur Rahman bin Harits bin Hisyam, Said bin ‘Ash dan Abdullah bin Zubair.
Dengan dibantu delapan orang lagi, tim tersebut mulai mengumpulkan mushhaf-mushhaf yang beredar di pemerintahan Islam kala itu dan akhirnya mereka berhasil membuat dan menyusun quran yang kemudian populer dengan nama Quran Imam atau Quran Utsmani. Sedang mushhaf-mushhaf yang lain atas perintah Usman atau ada yang menyebut atas titah Umar dibakar dan dimusnahkan.
Mushhaf Usmani dalam sebuah pernyataan dikopi dan disalin kepada empat salinan dan masing-masing salinan quran itu dibawa oleh guru-guru qiraat ke pusat-pusat pemerintahan Islam saat itu. Agar mereka dapat menyebar luaskannya di daerah-daerah tersebut.Para Imam Ahlul bait a.s. mendukung quran tersebut dan mengajurkan untuk membacanya. Allamah Thaba’thabai dalam hal ini mengatakan:” Imam Ali a.s. kendati beliau juga mengumpulkan al-Quran sebelum mereka, menujukkannya tapi tidak diterima dan pada pengumpulan tahap awal dan kedua beliau tidak diberi bagian, semasa hidupnya beliau sama sekali tidak menentang dan setuju dengan quran yang ada bahkan dalam masa pemerintahn beliau sendiri. Begitu juga dengan para imam Ahlul bait a.s. yang lainnya yang menjadi pelanjut beliau tidak pernah mengatakan sepatah katapun tentang ketidak setujuannya kepada Quran tersebut bahkan kepada pengikut dan shabat karib mereka sekalipun. Malah sebaliknya, mereka memerintahkan para pengikutnya untuk mengikuti bacaan yang dilakukan oleh muslimin yang lainnya.”

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Tafsir, Pengertian Al-qur’an, Bandung:Rosdakarya, 1992

Abd. Mukti, Konstruksi Pendidikan Islam; Sejarah Al-qur’an, Bandung: Citapustaka Media, 2007

Ahmad Syalabi, Sejarah Penyusunan Al-Qur’an, Terj. Mukhtar Yahya dan Sanusi Latief, Jakarta: Bulan Bintang, 1973

Hasan Asari, Menyingkap Al-Qur’an, Bandung: Citapustaka Media, 2007

Ali Al-Jumbulati, Perbandingan Al-Qur’an, Jakarta: Rineka Cipta, 1994

Hasan Langgulung, Azas-Azas Al-Qur’an, Jakarta: Pustaka al- Husna, 1992

Moh. Abd. Rahim Ghunaimah, Susunan Al-Qur’an, al-Magribiyyah, 1953

Zainuddin dkk, Seluk Beluk Al-Qur’an dari al-Gazali, Jakarta: Bumi Akasara, 1991

Minggu, 12 September 2010 14:32 Administratorwww.qurandanhadits.com/Sejarah-Al-Qur…/penyusunan-al-quran.html

KEASLIAN QUR-AN (2/2)

Suatu Surat yang diturunkan sesudah Hijrah, menyebutkan
tentang lembaran-lembaran yang di dalamnya tertulis
perintah-perintah suci.

Surat 98 ayat 2 dan 3:

“Seorang Rasul dari Allah (yaitu Nabi Mahammad) yang
membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Qur-an). Di
dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus.”

Dengan begitu maka Qur-an sendiri memberitahukan bahwa
penulisan Quran telah dilakukan semenjak Nabi Muhammad masih
hidup. Kita mengetahui bahwa Nabi Muhammad mempunyai juru
tulis-juru tulis banyak, di antaranya yang termashur adalah
Zaid bin Tsabit.

Dalam pengantar dalam Terjemahan Qur-annya (197) Prof.
Hamidullah melukiskan kondisi waktu teks Qur-an ditulis
sampai Nabi Muhammad wafat.

Sumber-sumber sepakat untuk mengatakan bahwa tiap kali suatu
fragmen daripada Qur-an diwahyukan, Nabi memanggil seorang
daripada para sahabat-sahabatnya yang terpelajar dan
mendiktekan kepadanya, serta menunjukkan secara pasti tempat
fragmen baru tersebut dalam keseluruhan Qur-an.
Riwayat-riwayat menjelaskan bahwa setelah mendiktekan ayat
tersebut, Muhammad minta kepada juru tulisnya untuk membaca
apa yang sudah ditulisnya, yaitu untuk mengadakan pembetulan
jika terjadi kesalahan. Suatu riwayat yang masyhur
mengatakan bahwa tiap tahun pada bulan Ramadlan, Nabi
Muhammad membaca ayat-ayat Qur-an yang sudah diterimanya di
hadapan Jibril. Pada bulan Ramadlan yang terakhir sebelum
Nabi Muhammad meninggal, malaikat Jibril mendengarkannya
membaca (mengulangi hafalan) Qur-an dua kali. Kita
mengetahui bahwa semenjak zaman Nabi Muhammad, kaum
muslimin membiasakan diri untuk berjaga pada bulan Ramadlan
dan melakukan ibadat-ibadat tambahan dengan membaca seluruh
Qur-an. Beberapa sumber menambahkan bahwa pada pembacaan
Qur-an yang terakhir di hadapan Jibril, juru tulis Nabi
Muhammad yang bernama Zaid hadir. Sumber-sumber lain
mengatakan bahwa di samping Zaid juga ada beberapa orang
lain yang hadir.

Untuk pencatatan pertama, orang memakai bermacam-macarn
bahan seperti kulit, kayu, tulang unta, batu empuk untuk
ditatah dan lain-lainnya.

Tetapi pada waktu yang sama Muhammad menganjurkan supaya
kaum muslimin menghafalkan Qur-an, yaitu bagian-bagian yang
dibaca dalam sembahyang. Dengan begitu maka muncullah
sekelompok orang yang dinamakan hafidzun (penghafal Qur-an)
yang hafal seluruh Qur-an dan mengajarkannya kepada
orang-orang lain. Metoda ganda untuk memelihara teks Qur-an
yakni dengan mencatat dan menghafal ternyata sangat
berharga.

Tidak lama setelah Nabi Muhammad wafat (tahun 632 M.),
penggantinya (sebagai Kepala Negara), yaitu Abu Bakar,
Khalifah yang pertama, minta kepada juru tulis Nabi, Zaid
bin Tsabit untuk menulis sebuah Naskah; hal ini ia
laksanakan.

Atas initiatif Umar (yang kemudian menjadi Khalifah kedua),
Zaid memeriksa dokumentasi yang ia dapat mengumpulkannya di
Madinah; kesaksian daripada penghafal Qur-an, copy Qur-an
yang dibikin atas bermacam-macam bahan dan yang dimiliki
oleh pribadi-pribadi, semua itu untuk menghindari kesalahan
transkripsi (penyalinan tulisan) sedapat mungkin. Dengan
cara ini, berhasillah tertulis suatu naskah Qur-an yang
sangat dapat dipercayai.

Sumber-sumber mengatakan bahwa kemudian Umar bin Khathab
yang menggantikan Abu Bakar pada tahun 634 M, menyuruh bikin
satu naskah (mushaf) yang ia simpan, dan ia pesankan bahwa
setelah ia mati, naskah tersebut diberikan kepada anaknya
perempuan, Hafsah janda Nabi Muhammad

Khalifah ketiga, Uthman bin Affan yang menjabat dari tahun
644 sampai 655, membentuk suatu panitya yang terdiri
daripada para ahli dan memerintahkan untuk melakukan
pembukuan besar yang kemudian membawa nama Khalifah
tersebut. Panitya tersebut memeriksa dokumen yang dibuat
oleh Abubakar dan yang dibuat oleh Umar dan kemudian
disimpan oleh Hafsah, panitya berkonsultasi dengan
orang-orang yang hafal Qur-an. Kritik tentang autentisitas
teks dilakukan secara ketat sekali. Persetujuan saksi-saksi
diperlukan untuk menetapkan suatu ayat kecil yang mungkin
mempunyai arti lebih dari satu; kita mengetahui bahwa
beberapa ayat Qur-an dapat menerangkan ayat-ayat yang lain
dalam soal ibadat. Hal ini adalah wajar jika kita mengingat
bahwa kerasulan Muhammad adalah sepanjang dua puluh tahun.7

Dengan cara tersebut di atas, diperolehlah suatu teks di
mana urutan Surat-surat mencerminkan urutan yang dilakukan
oleh Nabi Muhammad ketika membaca Qur-a:n di bulan Ramadlan
di muka malaikat Jibril seperti yang telah diterangkan di
atas.

Kita dapat bertanya-tanya tentang motif yang mendorong 3
Khalifah pertama, khususnya Uthman untuk mengadakan koleksi
dan pembukuan teks. Motif tersebut adalah sederhana;
tersiarnya Islam adalah sangat cepat pada beberapa dasawarsa
yang pertama setelah wafatnya Nabi Muhammad. Tersiarnya
Islam tersebut terjadi di daerah-daerah yang penduduknya
tidak berbahasa Arab. Oleh karena itu perlu adanya
tindakan-tindakan pengamanan untuk memelihara tersiarnya
teks Qur-an dalam kemurnian aslinya. Pembukuan Uthman adalah
untuk memenuhi hasrat ini.

Uthman mengirimkan naskah-naskah teks pembukuannya ke
pusat-pusat Emperium Islam, dan oleh karena itu maka menurut
Professor Hamidullah , pada waktu ini terdapat naskah Qur-an
(mushaf) Uthman di Tasykent8 dan Istambul. Jika kita sadar
akan kesalahan penyalinan tulisan yang mungkin terjadi,
manuskrip yang paling kuno yang kita miliki dan yang
ditemukan di negara-negara Islam adalah identik. Begitu juga
naskah-naskah yang ada di Eropa. (Di Bibliotheque National
di Paris terdapat fragmen-fragmen yang menurut para ahli,
berasal dan abad VIII dan IX Masehi, artinya berasal dari
abad II dan III Hijrah). Teks-teks kuno yang sudah ditemukan
semuanya sama, dengan catatan ada perbedaan-perbedaan yang
sangat kecil yang tidak merubah arti teks, jika konteks
ayat-ayat memungkinkan cara membaca yang lebih dari satu
karena tulisan kuno lebih sederhana daripada tulisan
sekarang.

Surat-surat Qur-an yang berjumlah 114, diklasifikasi menurut
panjang pendeknya, dengan beberapa kekecualian. Oleh karena
itu urutan waktu (kronologi) wahyu tidak dipersoalkan;
tetapi orang dapat mengerti hal tersebut dalam kebanyakan
persoalan. Banyak riwayat-riwayat yang disebutkan dalam
beberapa tempat dalam teks, dan hal ini memberi kesan
seakan-akan ada ulangan. Sering sekali suatu paragraf
menambahkan perincian kepada suatu riwayat yang dimuat di
lain tempat secara kurang terperinci. Dan semua yang mungkin
ada hubungannya dengan Sains modern, seperti kebanyakan
hal-hal yang dibicarakan oleh Qur-an, dibagi-bagi dalam
Qur-an dengan tidak ada suatu tanda adanya klasifikasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: