Just another WordPress.com weblog

BAB II (SKRIPSI)

BAB II
KAJIAN TEORI

A. Pengertian Interaksi Edukatif
Istilah interaksi pada dasarnya menekankan pada hubungan pada timbal balik antara orang satu dengan orang lainnya. Sebagai makhluk sosial, kecenderungan manusia untuk berhubungan dengan yang lain melahirkan komunikasi dua arah, baik melalui bahasa atau perbuatan karena ada aksi maka reaksi pun terjadi dan inilah unsur yang membentuk interaksi.
Namun perlu di pahami bahwa tidak semua interaksi dapat di katakan dengan interaksi edukatif atau interaksi pendidikan. Oleh karena itu, yang di maksud dengan interaksi edukatif di sini adalah: menurut Winarno Surakhman interaksi edukatif adalah interaksi yang terjadi dalam situasi pendidikan dan berlangsung dalam ikatan tujukan pendidikan dengan maksud untuk membawa perubahan dalam tingkah laku pelajar. Jadi, hal yang paling pokok dalam sebuah interaksi pendidikan adalah tujuannya.
Sedangkan menurut Sardiman (2004) interaksi dapat di katakan sebagai interaksi edukatif, apabila secara sadar mempunyai tujuan untuk mendidik, untuk mengantarkan anak didik ke arah kedewasaanya. Jadi dalam hal ini yang penting bukan interaksinya, tapi yang pokok adalah maksud atau tujuan berlangsungnya interaksi itu sendiri. Karena tujuan menjadi hal yang pokok, maka kegiatan interaksi itu memang di rencana atau di sengaja.
Djamarah menjelaskan bahwa interaksi yang bernilai edukatif, yakni interaksi yang dengan sadar meletakkan tujuan untuk mengubah tingkah laku dan perbuatan seseorang. Dengan konsep di atas, memunculkan istilah guru di satu pihak dan anak didik di pihak lain. Keduanya berada dalam interaksi edukatif dengan posisi, tugas dan tanggung jawab yang berbeda, namun bersama-sama mencapai tujuan. Sehingga, dalam hal ini guru bertanggung jawab untuk mengantarkan anak didik kearah kedewasaan susila yang cakap dengan memberikan sejumlah ilmu pengetahuan dan membimbingnya. Sedangkan anak didik berusaha untuk mencapai tujuan itu dengan bantuan dan pembinaan dari guru.
Menurut Roestiyah kata interaksi merupakan salah satu pengertian dari komunikasi. Di mana interaksi, yaitu proses komunikasi dua arah yang mengandung tindakan atau perbuatan komunikator atau komunikan. Di dalam dunia pendidikan, komunikasi seperti ini di sebut interaksi edukatif, yaitu interaksi yang berlangsung dalam ikatan tujuan pendidikan. Interaksi tersebut juga di sebut interaksi belajar – mengajar. Dalam interaksi semacam itu terjadi siswa belajar, dan sebagai tugasnya adalah mengembangkan potensi seoptimal mungkin agar tujuan tercapai sesuai dengan apa yang di cita- citakan di dalam dirinya. Sedangkan, guru mengajar di mana guru harus membimbing anak belajar, dengan meyediakan situasi dan kondisi yang tepat agar potensi anak dapat berkembang seoptimal mungkin sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai.
Interaksi edukatif adalah interaksi yang berlangsung dalam suatu ikatan untuk tujuan pendidikan dan pengajaran. Interaksi edukatif sebenarnya komunikasi timbal balik antara pihak yang satu dengan pihak yang lain, sudah mengandung maksud – maksud tertentu yakni untuk mencapai tujuan ( dalam kegiatan belajar berarti untuk mencapai tujuan belajar).
Interaksi yang di katakan sebagai interaksi edukatif, apabila secara sadar mempunyai tujuan untuk mendidik, untuk mengantarkan anak didik ke arah kedewasaannya. Kegiatan komunikasi bagi diri manusia merupakan bagian yang hakiki dalam kehidupannya. Kalau di hubungkan dengan istilah interaksi edukatif sebenarnya komunikasi timbal balik antara pihak yang satu dengan pihak yang lain, sudah mengandung maksud – maksud tertentu, tidak semua bentuk dan kegiatan interaksi dalam suatu kehidupan berlangsung dalam suasana interaksi edukatif, yang di desain untuk suatu tujuan tertentu. Demikian juga tentunya hubungan guru dan siswa, anak buah dengan pimpinannya serta lain – lain. Proses belajar – mengajar akan senantiasa merupakan proses kegiatan interaksi antara dua unsur manusia, yakni siswa sebagai pihak pembelajar dan guru sebagai pihak mengajar, dengan siswa sebagai subjek pokoknya. Dalam proses interaksi antara siswa dengan guru, di butuhkan komponen – komponen, komponen – komponen tersebut dalam berlangsunya proses belajar tidak dapat di pisah – pisahkan. Dan perlu di tegaskan bahwa proses teknis ini juga tidak dapat di lepaskan dari segi normatifnya, segi normatif inilah yang mendasari proses belajar – mengajar. Interaksi edukatif yang secara spesifik merupakan proses atau interaksi belajar mengajar itu, memiliki ciri – ciri yang membedakan dengan bentuk interaksi yang lain.
Pendidikan dan pengajaran adalah salah satu usaha yang bersifat sadar tujuan yang dengan sistematis terarah pada perubahan tingkah laku menuju kedewasaan anak didik. Pengajaran merupakan proses yang berfungsi membimbing mengembangkan diri sesuai dengan tugas perkembangan yang harus di jalankan oleh para siswa itu. Tugas perkembangan itu akan mencakup kebutuhan hidup baik individu maupun sebagai masyarakat dan juga sebagai makhluk ciptaan tuhan.

B. Ciri – Ciri Interaksi Edukatif
Dalam interaksi edukatif yang sering juga di sebut dengan interaksi belajar – mengajar, di dalamnya pasti terdapat dua (2) unsur pokok, yaitu unsur kegiatan guru dan unsur kegiatan murid. Sehingga apa yang di lakukan oleh guru mendapat respon dari murid, dan demikian pula sebaliknya apa yang di lakukan oleh murid akan mendapatkan sambutan dari para guru. Semua kegiatan itu dapat di ikhtisarkan dengan beberapa ciri – ciri interaksi edukatif. Muhaimin menjelaskan bahwa ciri – ciri interaksi edukatif tersebut minimal terdapat hal – hal sebagai berikut:
1. Tujuan yang akan di capai telah di rumuskan secara jelas.
2. Bahan ajar pendidikan yang akan menjadi isi interaksi telah di pilih dan di tetapkan.
3. Guru dan pelajar aktif dalam melakukan interaksi.
4. Pelajar dan bahan ajar berinteraksi secara aktif.
5. Kesesuaian metode yang akan di gunakan untuk mencapai tujuan pendidikan.
6. Situasi yang memungkinkan terciptanya proses interaksi dapat berlangsung dengan baik.
7. Penilaian terhadap hasil interaksi proses belajar – mengajar.
Meskipun terdapat sedikit perbedaan, menurut Miftahul ciri – ciri interaksi edukatif adalah; memiliki tujuan, prosedur, materi khusus, aktivitas anak didik, pendidik sebagai pembimbing, kedisplinan, batas waktu, dan evaluasi.
Pendapat ini serupa dengan pendapat Djamarah yang lebih di jelaskan lagi bahwa interaksi edukatif mempunyai ciri – ciri sebagai berikut :
a) Ada tujuan yang ingin di capai.
b) Mempunyai prosedur (jalannya interaksi) yang di rencanakan dan di desain untuk mencapai tujuan.
c) Di tandai dengan penerapan materi khusus.
d) Di tandai dengan aktivitas anak didik.
e) Ada guru yang melaksanakan sebagai pembimbing.
f) Interaksi ini membutuhkan di siplin.
g) Mempunyai metode untuk mencapai tujuan
h) Mempunyai situasi yang memungkinkan proses belajar – mengajar dengan baik.
i) Mempunyai batas waktu.
j). Ada penilaian terhadap hasil interaksi (evaluasi). Penjelasan di samping juga di sampaikan secara persis oleh Sardiman, dan itu merupakan ciri – ciri khusus yang membedakan dengan bentuk interaksi yang lain.
Untuk memahami pengetahuan interaksi edukatif atau dalam kegiatan pengajaran secara khusus di kenal dengan “Interaksi Belajar Mengajar” yang titik penekanannya pada unsur motivasi, maka terlebih dulu perlu di pahami hal – hal yang mendasarinya. Sekurang – kurangnya harus memahami kapan suatu interaksi itu di katakan sebagai interaksi edukatif, termasuk pemahaman terhadap konsep belajar dan mengajar. Setelah perlu itu di kaji tujuan pendidikan dan pengajaran sebagai dasar motivasi dengan segala jenisnya serta apa pula yang di maksud dengan motivasi dan kegiatan dalam belajar. Dan persoalan yang tidak dapat di tinggalkan dalam pembicaraan interaksi belajar – mengajar ini, ada pemahaman terhadap siapa guru yang di katakan sebagai tenaga professional kependidikan itu dan siapa pula siswa yang di katakan subjek belajar itu. Bagi guru yang memahami akan keprofesiannya dan mengerti tentang diri anak didiknya, maka dapat melakukan kegiatan interaksi dan motivasi secara mantap. Kemudian operasionalisasinya, guru harus juga memahami dan melaksanakan pengelolaan interaksi belajar – mengajar.
Edi Suardi dalam bukunya Pedagogik (1980) merinci ciri – ciri interaksi belajar – mengajar itu sebenarnya senada dengan ciri – ciri interaksi edukatif, sebagaimana di sebutkan terdahulu. Memang kalau di lihat secara spesifik kegiatan pengajaran, apa yang di katakan interaksi edukatif itu akan berlangsung dengan kegiatan interaksi belajar – mengajar. Bila terjadi proses belajar – mengajar, maka bersama ini pula terjadi pula proses mengajar. Hal ini kiranya mudah di pahami, karena bila ada yang belajar sudah barang tentu ada yang mengajarnya, dan begitu pula sebaliknya kalau ada yang mengajar tentu ada yang belajar. Kalau sudah terjadi suatu proses/saling berinteraksi, antara yang mengajar dengan yang belajar, sebenarnya berada pada suatu kondisi yang unik, sebab secara sengaja atau tidak di sengaja, masing – masing pihak berada dalam suasana belajar. Jadi guru walaupun di katakan sebagai pengajar, sebenarnya secara tidak langsung juga melakukan belajar.
Perlu di tegaskan bahwa setiap saat dalam kehidupan terjadi suatu proses belajar – mengajar, baik sengaja maupun tidak di sengaja, di sadari atau tidak di sadari. Dari proses belajar – mengajar ini akan di peroleh suatu hasil, yang pada umumnya di sebut sebagai hasil pengajaran, atau dengan istilah tujuan pembelajaran atau hasil belajar. Tetapi agar memperoleh hasil yang optimal, proses belajar – mengajar harus di lakukan dengan sadar dan di sengaja serta terorganisasi secara baik.
C. Model – Model Interaksi
Metode atau model yang ada dalam interaksi edukatif, sebagai berikut:
1. Model interaksi edukatif dalam kelas.
2. Model interaksi edukatif di luar kelas.
1. Metode interaksi edukatif dalam kelas, meliputi:
a. Metode Ceramah
Metode ceramah merupakan metode yang paling umum atau paling banyak di gunakan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran. Metode ceramah merupakan salah satu metode yang di gunakan untuk menyampaikan informasi atau materi pelajaran kepada siswa dalam kegiatan pembelajaran. Beberapa pengertian metode ceramah antara lain:
i. Metode Ceramah dapat di artikan sebagai cara menyajikan pelajaran melalui penuturan lisan atau penjelasan langsung kepada kelompok siswa. (Wina Sanjaya, Strategi pembelajaran h. 147).
ii. Metode Ceramah adalah metode yang boleh di katakan metode tradisional. Karena sejak dulu metode ini telah di pergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan anak didik dalam proses belajar – mengajar. (Yatim Riyanto, Pengembangan Kurikulum, h. 27).
Berdasarkan pendapat tersebut bisa di simpulkan bahwa metode ceramah merupakan metode yang sudah sejak lama di gunakan dalam kegiatan pembelajaran, khususnya pada kegiatan pembelajaran yang bersifat konvensional atau pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered). Ada beberapa alasan mengapa metode ceramah sering di gunakan. Alasan ini merupakan sekaligus menjadi keunggulannya. Keunggulannya – keunggulannya adalah :
i. Guru lebih mudah untuk menguasai kelas.
ii. Mudah mengorganisasikan tempat duduk/kelas.
iii. Dapat di ikuti oleh jumlah siswa yang besar.
iv. Mudah mempersiapkan dan melaksanakan proses – proses pembelajaran.
v. Guru mudah menerangkan pelajaran lebih baik. Kelemahan – kelemahannya adalah :
vi. Mudah terjadi verbalisme (pengertian kata – kata).
vii. Yang visual menjadi rugi, yang auditif (mendengar) yang besar menerimanya.
viii. Bila selalu di gunakan dan terlalu lama, membosankan.
ix. Guru menyimpulkan bahwa siswa sukar mengerti dan tertarik pada ceramahnya.
b. Metode Tanya Jawab (Dialog).
Secara umum pengertian metode tanya jawab adalah interaksi dalam kegiatan pembelajaran yang di lakukan dengan komunikasi verbal, yaitu dengan memberikan siswa pertanyaan untuk jawab, di samping itu juga memberikan kesempatan pada siswa untuk mengajukan pertanyaan kepada guru atau dengan kata lain cara penyampaian pelajaran dengan mengajukan pertanyaan dan murid memberikan jawaban atau sebaliknya murid bertanya dan guru memberikan jawaban.
Metode tanya jawab di gunakan sebagai sarana untuk menguji penguasaan siswa secara verbal terhadap materi yang telah di pelajari. Di samping itu, metode tanya jawab memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih memahami pelajaran yang belum di mengerti dengan cara bertanya. Metode tanya jawab sebaiknya di gunakan pada materi – materi pelajaran umumnya sulit di mengerti siswa. Dalam hal tersebut guru harus peka membaca kondisi anak didiknya sebelum memutuskan menggunakan metode tanya jawab. Keunggulan – keunggulannya dari metode tanya jawab adalah :
i. Pertanyaan menarik dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa, sekalipun ketika siswa sedang ribut, yang mengantuk kembali semangatnya dan hilang kantuknya.
ii. Menjadikan siswa untuk melatih dan mengembangkan cara berpikir, termasuk daya ingatan.
iii. Mengembangkan keberanian dan ketrampilan siswa dalam menjawab dan mengemukakan pendapat. Adapun kelemahan – kelemahan dari metode tanya jawab ini adalah :
iv. Siswa merasa takut, apabila nanti tidak dapat menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh guru.
v. Tidak mudah membuat pertanyaan yang sesuai dengan tingkat berpikir dan mudah di pahami siswa.
vi. Waktu sering banyak terbuang, terutama apabila siswa tidak dapat menjawab pertanyaan – pertanyaan sampai dua atau tiga orang.
vii. Dalam jumlah siswa yang banyak, tidak mungkin cukup waktu untuk memberikan pertanyaan kepada setiap siswa.
c. Metode Diskusi/Musyawarah/Kelompok
Metode diskusi merupakan suatu cara penyajian bahan pelajaran, Dengan demikian di harapkan tidak akan ada siswa yang pasif. Ada beberapa keunggulan dari metode diskusi, yaitu:
i. Siswa memperoleh kesempatan untuk berpikir.
ii. Siswa mendapat pelatihan mengeluarkan pendapat, sikap dan aspirasinya secara bebas.
iii. Siswa belajar toleran terhadap teman – temannya.
iv. Diskusi dapat menumbuhkan partisipatif aktif di kalangan siswa.
v. Diskusi dapat mengembangkan sikap demokratif, dapat menghargai pendapat orang lain.
vi. Dengan diskusi, pelajaran menjadi relevan dengan kebutuhan masyarakat.(Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran:1989). Adapun beberapa kelemahan – kelemahan penggunaan metode diskusi, di antaranya:
vii. Diskusi terlalu menghabiskan waktu.
viii. Pada umumnya siswa tidak terlatih untuk melakukan diskusi dan menggunakan waktu diskusi dengan baik, maka cenderung mereka tidak sanggup berdiskusi.
ix. Kadang – kadang guru tidak dapat memahami cara – cara melaksanakan diskusi, maka kecenderungannya diskusi tanya jawab.
2. Metode interaksi edukatif di luar kelas, meliputi:
a. Metode Karya Wisata
Metode karya wisata adalah suatu metode mengajar yang di rancang terlebih dahulu oleh pendidik dan di harapkan siswa membuat laporan dan di diskusikan bersama dengan peserta didik yang lain serta di dampingi oleh pendidik, yang kemudian di bukukan. Kelebihan dari metode karya wisata, yaitu:
i. Karya wisata menerapkan prinsip pengajaran modern yang memanfaatkan lingkungan nyata dalam pengajaran.
ii. Membuat bahan yang di pelajari di sekolah menjadi lebih relevan dengan kenyataan dan kebutuhan yang ada di masyarakat.
iii. Pengajaran dapat lebih merangsang kreativitas anak. Sedangkan kekurangan dari metode ini, yaitu:
iv. Memerlukan persiapan yang melibatkan banyak pihak.
v. Memerlukan perencanaan dengan persiapan yang matang.
vi. Dalam karyawisata sering unsur rekreasi menjadi prioritas dari pada tujuan utama, sedangkan unsur studinya terabaikan.
vii. Memerlukan pengawasan yang lebih ketat terhadap setiap gerak – gerik anak didik di lapangan.
viii. Biayanya cukup mahal.
ix. Memerlukan tanggung jawab guru dan sekolah atas kelancaran karya wisata dan keselamatan anak didik. Terutama karyawisata jangka panjang dan jauh.
x. Kadang – kadang dalam proses belajar – mengajar siswa perlu di ajak keluar sekolah, untuk meninjau tempat tertentu atau obyek yang lain.
Sedangkan menurut Roestiyah (2001:85), karyawisata bukan sekedar rekreasi, tetapi untuk belajar dan memperdalam pelajarannya dengan melihat kenyataannya. Karena itu di katakan teknik karyawisata, apabila cara mengajar yang di laksanakan dengan mengajak siswa ke suatu tempat atau obyek tertentu di luar sekolah untuk mempelajari atau menyelidiki sesuatu seperti meninjau pabrik sepatu, bengkel mobil, toko serba ada, dan sebagainya.

b. Metode Pemberian Tugas dan Resitasi
Menurut Ibid metode resitasi (penugasan) adalah metode penyajian bahan di mana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Jadi bisa di simpulkan bahwa metode tugas dan resitasi adalah metode pembelajaran yang di lakukan dengan memberikan tugas tertentu kepada siswa untuk di kerjakan dan hasilnya dapat di pertanggungjawabkan. Tugas yang di berikan guru dapat memperdalam materi pelajaran dan dapat pula mengevaluasi materi yang telah di pelajari. Sehingga siswa akan terangsang untuk belajar aktif baik secara individual maupun kelompok. Keunggulan – keunggulan dari metode tugas dan resitasi, yakni:
i. Baik sekali untuk mengisi waktu luang dengan hal – hal yang konstruktif.
ii. Memupuk rasa tanggung jawab dalam segala tugas sebab dalam strategi ini siswa harus mempertanggungjawabkan segala sesuatu (tugas) yang telah di kerjakan.
iii. Memberikan kebiasaan siswa untuk kegiatan belajar.
iv. Memberikan tugas siswa untuk siswa yang praktis. Dalam metode ini ada pula kelemahannya, yaitu:
v. Tidak jarang pekerjaan yang di tugaskan itu di selesaikan dengan meniru pekerjaan orang lain.
vi. Karena perbedaan individu, maka tugas apabila di berikan secara umum mungkin beberapa orang di antaranya merasa sukar sedangkan sebagian lainnya merasa mudah menyelesaikan tugas tersebut.
vii. Apabila tugas di berikan, lebih – lebih bila itu sukar di kerjakan. Maka ketenangan mental para siswa menjadi terpengaruh.

D. Prinsip-Prinsip Interaksi Edukatif
Pendidikan dan pengajaran adalah salah satu usaha yang bersifat sadar tujuan dengan sistematis dan terarah pada perubahan tingkah laku menuju kedewasaan anak didik. Pestalozi mengatakan bahwa makna dan tujuan pendidikan itu adalah hilfe zur selbsthilfe, artinya adalah pertolongan untuk pertolongan diri.
Interaksi edukatif dalam pelaksanaanya tidak sepi dari masalah, ketika teori itu sudah dianggap sempurna atau sesuai teori, namun dalam pelaksanaanya ternyata banyak menemui kendala di antaranya ketika seorang pendidik dalam proses mengajarnya telah sesuai dengan teori dan stratergi pembelajarannya namun murid belum mampu memahami dari pelajaran yang telah di berikan.
Maka untuk membantu guru dalam membuat paham palajaran terhadap anak didik, ada beberapa prinsip untuk menuju anak didik yang kreatif dan aktif. Di dalam penerapan prinsip-prinsip ini harus mempertimbangkan akibat kepada anak didik, apabila prinsip ini tidak di kuasai dengan benar oleh pendidik maka tidak akan terjadi pengajaran yang kondusif seperti yang telah direncanakan sejak awal. Prinsip-prinsip itu adalah:
1. Prinsip Motivasi.
Motivasi adalah membuat anak didik menjadi semangat untuk belajar, motivasi anak didik yang satu dengan yang lain berbeda sehingga perlu ada variasi di dalam memberikan motivasi. Motivasi ekstrinsik yang bersumber dari luar perlu di berikan oleh pendidik, salah satunya dengan di berikan hadiah, pujian dan sebagainya, kemudian pendidik harus mampu mendorong rasa ingin tahu, ingin mencoba, mandiri, dan ingin maju dari dalam anak didik, sehingga anak didik dapat tumbuh dan berkembang dan berhasil.
2. Prinsip Berangkat dari Persepsi yang di Miliki.
Setiap anak didik mempunyai latar belakang pengalaman dan pengetahuan yang berbeda, maka dengan latar belakang itu seorang pendidik harus memperhatikan bahan apersepsi dari yang di bawa setiap anak didik dari lingkungan kehidupan mereka, apabila latar belakang itu dapat di kaitkan dengan penjelasan guru, maka akan memudahkan anak didik dalam menerima pelajaran, memahami pengalaman, dan dapat memusatkan perhatian anak didik.
3. Prinsip Mengarah Kepada Titik Pusat Perhatian Tertentu.
Pelajaran yang di rencanakan dalam suatu bentuk pola akan dapat mengaitkan bagian yang terpisah dalam suatu pelajaran, pola dapat membantu anak didik dalam memusatkan suatu masalah yang hendak di pecahkan, merumuskan pertanyaan yang hendak di jawab dan merumuskan konsep yang hendak di temukan.
4. Prinsip Keterpaduan.
Penjelasan yang di kaitkan antara satu pokok bahasan dengan pokok bahasan yang lain dalam mata pelajaran yang berbeda. Misalnya, dalam menjelaskan pokok bahasan moral dalam mata pelajaran pendidikan Pancasila, guru menghubungkannnya dengan masalah akhlak dalam mata pelajaran akidah akhlak. Katerpaduan dalam pembahasan dan peninjauan ini akan membantu dalam memadukan perolehan belajar dalam kegiatan interaksi edukatif.
5. Prinsip Pemecahan Masalah yang di Hadapi.
Interaksi edukatif dalam kegiatannya perlu menciptakan masalah untuk di pecahkan anak didik di kelas sebagai proses pembelajaran, ini di kaitkan dengan indikator kemampuan anak didik terhadap pelajarannya, sehingga anak didik mampu menyelesaikan masalah yang akan di hadapinya.
6. Prinsip Mencari, menemukan, dan Mengembangkan Sendiri.
Anak didik sebagai individu yang mempunyai potensi mencari dan mengembangkan dirinya. Anak didik harus di beri ruang yang secukupnya oleh guru agar dapat mencari, menemukan, dam mengembangkan infomasi yang ada.
7. Prinsip Belajar Sambil Bekerja.
Prinsip yang dikembangkan dalam konsep belajar secara realistis, atau belajar sambil bekerja (learning by doing). Belajar sambil melakukan aktifitas lebih banyak mendatangkan hasil bagi anak didik lebih tahan lama tersimpan di dalam benak anak didik.
Sebuah teori tidak akan mampu tersimpan dengan lama apabila tidak di sertai dengan praktek, praktek akan lebih mudah di ingat dalam otak karena suatu pekerjaan itu sudah pernah di lakukan.
8. Prinsip Hubungan Sosial
Arti dalam hubungan sosial ini adalah saling bekerja sama dalam proses belajar, yaitu belajar dalam model kelompok. Belajar bersama merupakan salah satu cara untuk menggairahkan anak didik dalam menerima pelajaran dari guru, anak didik yang bersemangat apabila belajar sendiri akan lebih bersemangat apabila di libatkan dalam kerja kelompok. Tugas akan lebih mudah di kerjakan, apabila di kerjakan dengan berkelompok.
9. Prinsip Perbedaan Individual
Dalam proses pembelajaran, guru di hadapkan dengan segala perbedaan yang berasal dari setiap individu, maka seorang pendidik harus mampu memahami setiap perbedaan-perbedaan yang muncul dari anak didik. Keberhasilan akan dicapai dengan sukses apabila pendidik mampu memahami anak didiknya tersebut.

B. Tahap-Tahap Interaksi Edukatif
R.D. Conners, mengidentifikasikan tugas mengajar guru yang bersifat suksesif menjadi tiga tahap. Tahap-tahap tersebut adalah tahap sebelum pangajaran (pre-active), tahap pengajaran (inter-active), dan tahap sesudah pengajaran (post-active).

Dengan tahap-tahap itu maka guru dapat mengikuti uraian sebagai berikut:
a. Tahap Sebelum Pengajaran
Tahap ini adalah penyusunan program oleh seorang guru, seperti pelaksanaan kurikulum, program tahunan, dan perencanaan program pembelajaran. Adapun aspek yang berkaitan dengan perencanaan program di atas yaitu:
1. Bekal bawaan anak didik.
2. Perumusan tujuan pembelajaran.
3. Pemilihan metode.
4. Pemilihan pengalaman-pengalaman dalam belajar.
5. Pemilihan bahan dan peralatan belajar.
6. Mempertimbangkan jumlah dan karakteristik anak didik.
7. Mempertimbangkan jumlah jam pelajaran yang tersedia.
8. Mempertimbangkan pola pengelompokan.
9. Mempertimbangkan prinsip-prinsip belajar.
b. Tahap Pengajaran
Antara guru dan anak didik di sini akan berinteraksi begitu juga anak didik dengan sesamanya. Dan dengan kelompok ini adalah tahap pelaksanaan dari aspek-aspek yang telah di rencanakan, di antaranya dengan pertimbangan sebagai berikut:
1. Pengelolaan dan pengendalian kelas.
2. Penyampaian informasi.
3. Penggunaan tingkah laku verbal dan nonverbal.
4. Merangsang tanggapan balik dari anak didik.
5. Mempertimbangkan prinsip-prinsip belajar seperti yang telah di jelaskan di atas.
6. Meneliti kesulitan-kesulitan dalam belajar.
7. Mempertimbangkan perbedaan individual.
8. Mengevaluasi kegiatan dari proses interaksi edukatif.
c. Tahap Setelah Pelajaran.
Pada tahap ini di laksanakan setelah proses tatap muka antara guru dan anak didik, di antaranya adalah:
1. Menilai pekerjaan anak didik.
2. Menilai dari individu seorang guru.
3. Membuat perencanaan untuk pertemuan berikutnya.
E. Faktor – Faktor Interaksi Edukatif
Ada beberapa faktor yang mendasari terjadinya interaksi edukatif,di antaranya:
a) Faktor Tujuan.
Dalam tujuan pendidikan atau pengajaran yang bersifat umum atau khusus, umumnya berkisar pada tiga jenis, yaitu:
1. Tujuan Kognitif, yaitu tujuan yang berhubungan dengan pengertian dan pengatahuan.
2. Tujuan Afektif, yaitu tuuan yang berhubungan dengan usaha merubah minat, setiap nilai dan alasan.
3. Tujuan Psikomotoric, yaitu tujuan yang berkaitan dengan ketrampilan berbuat yang menggunakan telinga, tangan , mata, alat indra dan sebagainya.
4. Faktor Bahan/materi/isi, yaitu bahan atau materi pengajaran harus tersusun dengan baik sehingga dapat mempermudah anak didik mempelajarinya selain itu dapat memberikan gambaran yang jelas sebagai petunjuk dalam menetapkan metode pengajaran. Dalam menentukan materi harus didasarkan pada upaya pemenuhan tujuan pengajaran dengan begitu, pertimbangan penetapan metode atas dasar maeri tidak akan jauh berbeda hasilnya dengan dasar pertimbangan tujuan.
b) Faktor guru dan peserta didik.
Guru dan peserta didik adalah dua subjek dalam interaksi pengajaran guru sebagai pihak yang berinisiatif awal untuk menyelenggarakan pengajaran sedangkan peserta didik sebagai pihak yang mendapatkan manfaat dari proses pengajaran. Ada beberapa bidang yang dapat menunjang proses profesionalitas kerja guru, ialah:
1. Guru harus mengenal peserta didik.
2. Guru harus memiliki kecakapan memberi bimbingan.
3. Guru harus memiliki dasar yang luas tentang tujuan pendidikan atau pengajaran.
4. Guru harus memiliki pengetahuan yang dalam tentang ilmu yang diajarkan.
Adapun bagi peserta didik ada beberapa hal yang pelu diperhatikan, yaitu:
1. Peserta didik harus mendahulukan kesucian jiwa. Al-ghazali pernah berkata mendahulukan kesucian jiwa dari kerendahan akhlak dan sifat-sifat peserta didik.
2. Peserta didik harus rajin untuk menuntut ilmu, bersedia untuk mencurahkan tenaga, jiwa dan pikiran serta minat dalam berkonsentrasi pada ilmu yag di pelajarinya.
3. Tidak sombong atas ilmu yang di perolehnya.
4. Peserta didik harus mengetahui kedudukan ilmu yang dipelajarinya.
c) Faktor metode
Metode suatu cara kerja yang sistematik dan umum, yang berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan. Semakin baik suatu metode semakin baik dan efektif dalam mencapai tujuan.

Dalam penerapan suatu metode pengajaran harus memiliki relevansi diantaranya:
1. Relevansi dengan tujuan.
2. Relevansi dengan bahan/ materi.
3. Relevansi dengan kemampuan guru.
4. Relevansi dengan keadaan pesert didik.
5. Relevansi dengan situasi pengajaran.

d) Faktor situasi
Yang di sebut situasi adalah suasana belajar atau suasana kelas pengajaran termasuk di sini adalah keadaan peserta didik keadaaan cuaca, keadaan guru dan keadaan kelas di antara keadaan tersebut ada yang dapat di perhitungkan dan ada yang tidak dapat di perhitungkan terhadap situasi yang dapat di perhitungkan guru dapat menyediakan alternatif metode-metode mengajar menurut perhitungan perubahan situasi. Adapun situasi yang tidak dapat di perhitungkan yang di sebabkan oleh perubahan yang mendadak atau tiba-tiba di perlukan kecekatan dalam mengambil keputusan terhadap metode yang di gunakan.
e) Faktor sumber pelajaran.
Sumber belajar sesungguhnya banyak sekali. Pemanfaatan sumber-sumber pengajaran tersebut tergantung pada kreativitas guru, waktu, biaya serta kebijakan-kebijakan lainnya.
Interaksi edukatif tidaklah berproses dalam kehampaan, tetapi ia berproses dalam kemaknaan. Di dalamnya ada sejumlah nilai yang di sampaikan kepada anak didik . Nilai-nilai itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi di ambil dari berbagai sumber guna di pakai dalam proses interaksi edukatif.
f) Faktor alat dan peralatan.
Alat dan peralatan adalah segala sesuatu yang dapat di gunakan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Alat tidak hanya sebagai pelengkap, tetapi juga sebagai pembantu mempermudah usaha mencapai tujuan.
Alat dapat di bagi menjadi dua yaitu :
1. Alat Non material, yang terdiri dari suruhan, perintah, larangan, nasihat dan sebagainya.
2. Alat material, yang dapat berupa globe, papan tulis, batu kapur, gambar, diagram, lukisan, slide dan sebagainya.

g) Faktor evaluasi.
Evaluasi adalah suatu kegiatan yang di lakukan untuk mendapatkan data tentang sejauh mana keberhasilan anak didik dalam belajar dan keberhasilan guru dalam mengajar. Evaluasi dapat di lakukan oleh guru dengan memakai seperangkat istrumen penggali data seperti tes perbuatan, tes tertulis dan tes lisan.
Tujuan evaluasi sendiri untuk :
1. Mengumpulkan data-data yang membuktikan taraf kemajuan anak didik dalam mencapai tujuan yang diharapkan.
2. Memungkinkan guru menilai aktifitas/pengalaman yang di dapat dan menilai metode mengajar yang di pergunakan.
F. Proses Interaksi Edukatif
Menurut R.D Corner, tugas mengajar guru dapat di bagi dalam tiga tahapan, yaitu:
1. Tahap Sebelum Pengajaran
Dalam tahap ini guru harus menyusun program tahunan pelaksanaan kurikulum, program semester, program satuan pelajaran (satpel), dan perencanaan program pengajaran.

Dalam merencanakan program-program tersebut di atas perlu di pertimbangkan aspek-aspek yang berkaitan dengan :
1. Bekal bawaan anak didik.
2. Perumusan tujuan pembelajaran.
3. Pemilihan metode.
4. Pemilihan pengalaman – pengalaman belajar.
5. Pemilihan bahan dan peralatan belajar.
6. Mempertimbangkan jumlah dan karakteristik anak didik.
7. Mempertimbangkan jumlah jam pelajaran yang tersedia.
8. Mempertimbangkan pola pengelompokan.
9. Mempertimbangkan prinsip – prinsip belajar.
2. Tahap Pengajaran
Dalam tahap ini berlangsung beberapa interaksi, yaitu: { interaksi antara guru dengan anak didik},{ anak didik dengan anak didik}, {anak didik dalam kelompok} atau {anak didik secara individual}. Tahap ini merupakan tahap pelaksanaan apa yang telah direncanakan. Ada beberapa aspek yang perlu di pertimbangkan dalam tahap pengajaran ini, yaitu :
1. Pengelolaan dan pengendalian kelas.
2. Penyampaian informasi.
3. Penggunaan tingkah laku verbal non verbal.
4. Merangsang tanggapan balik dari anak didik.
5. Mempertimbangkan prinsip – prinsip belajar.
6. Mendiagnosis kesulitan belajar.
7. Memperimbangkan perbedaan individual.
8. Mengevaluasi kegiatan interaksi.
3. Tahap Sesudah Pengajaran
Tahap ini merupakan kegiatan atau perbuatan setelah pertemuan tatap muka dengan anak didik. Beberapa perbuatan guru yang di lakukan pada tahap sesudah mengajar, antara lain :
i. Menilai Pekerjaan anak didik.
ii. Menilai pengajaran guru.
iii. Membuat perencanaan untuk pertemuan berikutnya.
G. Komponen – komponen Interaksi Edukatif.
Dalam proses belajar – mengajar sebagai suatu sistem interaksi, maka kita akan di hadapkan kepada sejumlah komponen – komponen. Tanpa adanya komponen – komponen tersebut sebenarnya tidak akan terjadi proses interaksi edukatif antara guru dengan anak didik (murid).

Komponen – komponen yang di maksud adalah:
1. Tujuan.
Tujuan merupakan hal yang pertama kali harus di rumuskan dalam kegiatan interaksi edukatif. Sebab, tujuan dapat memberikan arah yang jelas dan pasti kemana kegiatan pembelajaran di bawa oleh guru. Dengan berpedoman pada tujuan guru dapat menyeleksi tindakan mana yang harus di lakukan dan tindakan yang mana yang di tinggalkan.
2. Bahan Pelajaran.
Bahan pelajaran adalah unsur inti dalam kegiatan interaksi edukatif, sebab tanpa bahan pelajaran proses interaksi edukatif tidak akan berjalan dalam pemilihan pelajaran harus di sesuaikan dengan kondisi tingkatan murid yang akan menerima pelajaran. Selain itu bahan pelajaran mutlak harus di kuasai oleh guru dengan baik.
3. Metode
Metode adalah suatu cara yang di pergunakan untuk mencapai tujuan yang telah di tetapkan. Metode diperlukan guna menunjang terciptanya tujuan pembelajaran.
4. Alat.
Alat adalah segala sesuatu yang dapat di pergunakan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Dalam interaksi edukatif biasanya di pergunakan, alat non material dan alat material. Alat material biasanya berupa suruhan, perintah, larangan, nasehat, dan sebagainya. Sedangkan alat bantu material biasanya; globe, papan tulis, batu, gambar, dan sebagainya.
5. Sarana
Komponen ini sangat penting juga dalam rangka menciptakan interaksi, sebab interaksi hanya mungkin terjadi bila ada sarana waktu, tempat, dan sarana – sarana lainnya.

H. Peran Pendidik dalam Interaksi Edukatif.
Salah satu tujuan dari interaksi membantu pribadi anak mengembangkan potensi sepenuhnya. Dalam interaksi harus ada perubahan tingkah laku dari siswa sebagai hasil belajar. Siswalah yang terutama menentukan berhasil tidaknya kegiatan pembelajaran dalam proses interaksi tersebut. Selain itu juga peranan guru atau pendidik yang tepat dalam proses interaksi pembelajaran juga akan menjamin tercapainya tujuan interaksi edukatif. Antara lain sebagai fasilitator, pembimbing, motivator, narasumber, dan organisator.
Sardiman menjelaskan, bahwa peranan guru dalam interaksi edukatif adalah informatory, organisator, motivator, pengarah, atau director, inisiator, transmitter, fasilitator, mediator, dan evaluator. Lebih banyak lagi Djamarah menyebutkan di antara peranan – peranan guru antara lain, korektor, inspirator, informator, organisator, motivator, inisiator, fasilitator, pembimbing, demonstrator, pengelolaan kelas, mediator, supervisor, dan evaluator.
Dari beberapa penjelasan di atas dapat di simpulkan bahwa di antara peranan – peranan guru dalam interaksi edukatif adalah:
a. Fasilitator, ialah menyediakan situasi dan kondisi yang di butuhkan oleh individu yang belajar.
b. Pembimbing, ialah memberikan bimbingan siswa dalam interaksi belajar, agar siswa mampu belajar dengan lancer dan berhasil secara aktif dan efesien.
c. Motivator, adalah pemberi dorongan dan semangat agar siswa mau dan giat belajar.
d. Organisator, ialah mengorganisasikan kegiatan belajar mengajar siswa maupun guru.
e. Evaluator, dalam perannya sebagai evaluator, guru mempunyai otoritas untuk menilai prestasi anak didik dalam bidang akademis maupun tingkah laku sosialnya, sehingga dapat menentukan bagaimana anak didiknya berhasil atau tidak.
f. Informator, sebagai informator, guru harus dapat memberikan informasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, selain sejumlah mata pelajaran yang telah di programkan dalam kurikulum.
g. Inisiator, dalam perannya sebagai inisiator , guru harus dapat sebagai pencetus ide – ide kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran. Proses interaksi edukatif yang ada sekarang harusyang merupakan suatu di perbaiki sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pendidikan.
I. Macam – Macam Pola Interaksi Edukatif
Belajar – mengajar adalah sebuah interaksi yang bernilai normatif, yang merupakan suatu proses yang di lakukan dengan sadar dan bertujuan. Tujuan sebagai pedoman kearah mana akan di bawa proses belajar – mengajar akan berhasil bila hasilnya mampu membawa perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, dan nilai – nilai dalam diri anak didik.
Dalam interaksi edukatif unsur guru dan anak didik harus aktif, tidak mungkin akan terjadi proses interaksi edukatif bila hanya satu unsur yang aktif. Aktif dalam arti sikap, mental, dan perbuatan. Dalam sistem pengajaran dengan pendekatan ketrampilan proses, anak didik harus lebih aktif dari pada guru. Guru hanya bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator.
Nana Sudjana, menyatakan ada tiga pola komunikasi antara guru dan anak didik dalam proses interaksi edukatif, yaitu (1) komunikasi sebagai aksi, (2) komunikasi sebagai interaksi, dan (3) dan komunikasi sebagai transaksi.
a. Komunikasi sebagai aksi, dapat juga di katakan sebagai komunikasi satu arah yang menempatkan guru sebagai pemberi aksi dan anak didik sebagai penerima aksi. Guru aktif di dalam dan anak didik pasif. Mengajar di pandang sebagai kegiatan menyampaikan bahan pelajaran.
b. Kominkasi sebagai interaksi, di katakan juga sebagai komunikasi dua arah, yang memungkinkan guru berperan sebagai pemberi aksi atau penerima aksi. Demikiann pula halnya dengan anak didik, bisa sebagai penerima aksi. Antara guru dan anak didik akan terjadi dialog.
c. Komunikasi sebagai transaksi, dapat di sebut sebagai komunikasi banyak arah, komunikasi ini tidak hanya terjadi antara guru dan anak didik, akan tetapi bisa juga dari anak didik ke guru, atau dari anak didik ke anak didik. Anak didik di tuntut lebih aktif dari pada guru seperti halnya guru, dapat berfungsi sebagai sumber belajar bagi anak didik yang lain.
Dari pembahasan diatas, dapat di kemukakan bahwa suatu model pembelajaran bertujuan agar siswa berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran sangatlah baik namun yang terpenting haruslah guru sebagai pendidik sekaligus pengajar harus dapat menggunakan berbagai teknik. Strategi dan model pembelajaran interaktif yang sesuai dengan minat siswa. Selain itu, guru juga harus pandai menggunakan model interaktif yang cocok dengan materi yang akan di ajarkan, tujuan dari pembelajaran dan memahami karakter siswa agar mudah untuk mengarahkan siswa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: