Just another WordPress.com weblog

A. Pendahuluan

a) Latar Belakang Judul Diangkat
Anak merupakan anugerah, karunia dan nikmat Allah yang terbesar yang harus dipelihara, sehingga tidak terkontaminasi dengan lingkungan. Oleh karena itu, sebagai orang tua, maka wajib untuk membimbing dan mendidik sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya, dan menjauhkan anak-anak dari pengaruh buruk lingkungan dan pergaulan. Wajib mencarikan lingkungan yang bagus dan teman-teman yang istiqamah. Sebenarnya asumsi tersebut berbalik denagn kenyataan bila peneliti melihat fenomena yang terjadi pada pendidikan anak sekolah yang sangat memprihatinkan sehingga peneliti penasaran apa yang menyebabkan terjadinya penyimpangan output pendidikan di zaman sekarang. Peneliti mencoba menguak misteri di balik hal itu di sekolah kelas XII Al-Muhajirin di Bailang, Tuminting kota Manado.

b) Penjelasan dan pendapat para ahli
Lingkungan mempunyai pengaruh sangat besar dalam membentuk dan menentukan perubahan sikap dan perilaku seseorang, terutama pada generasi muda dan anak-anak. Bukankah kisah pembunuh 99 nyawa manusia yang akhirnya lengkap membunuh 100 nyawa itu berawal dari pengaruh buruknya lingkungan? Sehingga, nasihat salah seorang ulama supaya pembunuh tersebut mampu bertaubat dengan tulus dan terlepas dari jeratan kelamnya dosa, ialah agar ia meninggalkan lingkungan tempatnya bermukim dan pindah ke suatu tempat yang dihuni orang-orang baik yang selalu beribadah kepada Allah.
Keluarga adalah lingkungan pertama dan mempunyai peranan penting dan pengaruh yang besar dalam pendidikan anak. Karena keluarga merupakan tempat pertama kali bagi tumbuh kembangnya anak, baik jasmani maupun rohani. Keluarga sangat berpengaruh dalam membentuk aqidah, mental, spiritual dan kepribadian, serta pola pikir anak. Yang kita tanamkan pada masa-masa tersebut akan terus membekas pada jiwa anak dan tidak mudah hilang atau berubah sesudahnya.
Adapun bagi seorang pendidik, ia harus menjauhkan anak didiknya dari hal-hal yang membawa kepada kebinasaan dan ketergelinciran, serta mengangkat derajat mereka dari derajat binatang menjadi derajat manusia yang mempunyai semangat untuk mengemban amanat dan tugas agama.
Sebagai pendidik, seseorang harus menjadikan kepribadian Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai suri tauladan dalam seluruh aspek kehidupan dan dalam setiap proses pendidikan. Mengajak mereka untuk mengikuti jejak salafush-shalih serta memberi motivasi anak didik untuk selalu bersanding dengan ulama dan orang-orang shalih. Seorang pendidik juga harus memahami dampak buruk yang disebabkan oleh keteledoran dalam mendidik anak. Dan ia harus mewaspadai faktor-faktor yang bisa mempengaruhi proses pendidikan anak, yaitu lingkungan rumah, sekolah, media cetak dan elektronik, teman bergaul, sahabat serta pembantu.
Pada era globalisasi dan era informasi ini, umat Islam mengalami multi krisis, terutama krisis ilmu dan teknologi. Dari kedua krisis ini mengakibatkan muncul krisis lainnya, di antaranya adalah krisis kebudayaan, ekonomi dan pendidikan. Pendidikan suatu bangsa tidak akan pernah maju, kecuali bangsa itu secara terus menerus memperbaiki kualitas sumber daya manusianya yaitu pendidik dan peserta didik.
Kemajuan pendidikan suatu bangsa mempunyai peranan yang sangat penting pada pendidikan keluarga, sekolah dan lingkungan, karenanya kerja sama ketiga unsur pendidikan ini sangat dibutuhkan dalam memajukan dunia pendidikan, yaitu unsur keluarga mempunyai tanggung jawab orang tua, unsur sekolah mempunyai tanggung jawab pemerintah, dan unsur lingkungan mempunyai tanggung jawab masyarakat.
Pendidikan keluarga merupakan unit fundamental yang bertanggung jawab dan harus melayani kebutuhan fisik dan fsikis anak selama mereka dalam pertumbuhan menuju kedewasaan. Tanggung jawab dimaksud terutama berada dipundak orang tua, sehingga ia dituntut dapat benar-benar berfungsi sebagi pendidik. Karena ternyata salah satu faktor dominan yang mempengaruhi pola prilaku anak dalam proses pendidikannya adalah lingkungan keluarga. Buku “Kaifa Turabbi Thiflak”, karya Prof. Dr. Muhammad Ali Murshafi, diterjemahkan oleh Muhtadi Kadi, dkk dengan judul “Mendidik Anak agar Cerdas dan Berbakti”, (Ziyad Visi Madia, 2009), ini mencoba memberikan gambaran, seberapa besar peranan orang tua dan sekolah serta problematika yang mereka hadapi untuk mencerdaskan anak,
prinsipnya setiap anak dalam Islam mempunyai hak-hak yang harus direalisasikan dengan sebaik-baiknya, maka pendidikan anak sangat banyak memberikan manfaat dalam pertumbuhan dan perkembangannya, melalui proses pengajaran dan pengarahan yang dilakukan pihak keluarga, dalam upaya membentuk sebuah generasi cerdas yang mempunyai kepedulian dan pengertian arti tanggung jawab. (Razaq Al-Hamshy, 2003:11)
Sekolah adalah sarana kedua yang bersama-sama dengan keluarga memberikan pendidikan sebaik mungkin kepada anak didik. Meskipun, ia merupakan sebuah sarana buatan yang didirikan oleh masyarakat demi mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan yang diharapkan. Jadi, jelaslah peranan sekolah tidak kalah pentingnya jika dibandingkan dengan peranan keluarga, bahkan pada hal-hal tertentu terkadang peranan sekolah lebih penting daripada keluarga.
Orang tua yang sibuk bekerja untuk meningkatkan tahap ekonomi keluarga, terkadang sedikit waktu luang berinteraksi dengan anak-anak mengindikasikan bahwa keluarga telah kehilangan banyak peranannya yang hakiki serta loyalitasnya terhadap anak. Sebab loyalitas itu telah mengarah pada lembaga-lembaga pendidikan lain yang memaksa keluarga bekerjasama dengannya, bahkan meyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pada sekolah.
Pada sisi pendidikan bagi anak-anak yang telah menerima perubahan yang baru dari berbagai aspek. Orang tua, keluarga dan sekolah tidak lagi menjadi sumber utama dalam membangun dan membentuk kepribadian anak didik. Namun, pendidikan telah muncul berbagai macam permainan di tempat-tempat hiburan, berbagai bentuk film-film kartun dan hayalan di TV pemerintah ataupun sewasta serta berbagai alat teknologi lainnya. Semua itu akan menjadi virus baru dalam pembentukan kepribadian anak.
Hal lain yang menambah besarnya tanggung jawab dalam menyiapkan kepribadian anak adalah sedikitnya waktu tersedia kebersamaan para orang tua dengan anak-anaknya, karena mereka disibukkan dengan pekerjaan dan kegiatannya di luar rumah, pendidikan anak diserahkan kepada pembantu. Padahal terdapat perbedaan antara budaya pembantu dan anak. Hal inilah yang menjadi persoalan.
Di sinilah pentingnya pemikiran mengenai tata cara mendidik anak, apa lagi kita sekarang hidup di abad era informasi dan globalisasi. Saat ini sangat diperlukan untuk membangun generasi yang kuat yang bersenjatakan iman dan ilmu, mampu memimpin perkembangan dan pembaharuan, serta mampu menaklukkan teknologi, demi membantu terialisasinya tujuan-tujuan negara dan umat di bawah nilai-nilai pendidikan Islam.
Anak merupakan amanah ditangan kedua orang tuanya dan kalbunya yang masih bersih merupakan permata yang sangat berharga. Jika dia dibiasakan untuk melakukan kebaikan, niscaya dia akan tumbuh menjadi baik dan menjadi orang yang bahagia di dunia dan diakhirat. Sebaliknya, jika dibiasakan dengan keburukan serta diabaikan seperti hewan ternak, niscaya dia akan menjadi orang yang celaka dan binasa. (Jamaal, 2005:19)
Karenanya, Islam mewajibkan para orang tua untuk berusaha semaksimal mungkin dan secara terus menerus memperbaiki karakter anak hingga dewasa dengan membiasakan mereka melakukan kebiasaan-kebiasaan yang baik, agar hal itu membantu mereka beradaptasi secara baik dengan anggota-anggota masyarakat di sekitar mereka.

Faktor-faktor dari lingkungan yang mempengaruhi pendidikan anak sekolah:
1. Radio dan Televisi
Dunia telah terbuka lebar bagi kita, dan dunia pun sudah berada di hadapan kita, bahkan di depan mata kita melalui beragam chenel TV. Sarana-sarana informasi, baik melalui beragam radio dan televisi memiliki pengaruh yang sangat berbahaya dalam merusak pendidikan anak.
Dari sisi lain, radio dan televisi sebagai sumber berita, wahana penebar wacana baru, menimba ilmu pengetahuan dan menanamkan pola pikir pada anak. Namun kedua media itu juga menjadi sarana efektif dan senjata pemusnah massal para musuh Islam untuk menghancurkan nilai-nilai dasar Islam dan kepribadian islami pada generasi muda, karena para musuh selalu membuat rencana dan strategi untuk menghancurkan para pemuda Islam, baik secara sembunyi maupun terang-terangan.
Dalam kitab Protokolat, para pemuka Yahudi menyatakan, bila orang Yahudi hendak memiliki negara Yahudi Raya, maka mereka harus mampu merusak generasi muda. Oleh karena itu, mereka sangat bersungguh-sungguh dalam menjerat generasi muda, terutama anak-anak. Mereka berhasil menebarkan racun kepada generasi muda dan anak-anak melalui tayangan film-film horor atau mistik yang mengandung unsur kekufuran dan kesyirikan. Tujuannya, ialah untuk menanamkan keyakinan dan pemikiran yang rusak pada para pemuda dan anak-anak. Misalnya, seperti film-film yang berjudul atau bertema Manusia Raksasa, Satria Baja Hitam, Xena, Spiderman. Atau seperti halnya film-film Nusantara yang kental dengan nilai-nilai yang merusak moral dan lain-lain. Atau film dunia hewan, seperti Ninja Hatori dan Pokemon. Atau film peperangan antara makhluk luar angkasa dengan penduduk bumi, atau manusia planet yang menampilkan orang-orang telanjang yang tidak menutup aurat dan mengajak anak-anak untuk hidup penuh romantis atau berduaan antara wanita dan laki-laki yang bukan mahram, atau melegalisasi perbuatan zina sehingga mereka melakukan zina dengan mudah, gampang dan bukan suatu aib, serta tidak perlu dihukum; bahkan dalam pandangan mereka orang yang mampu merebut wanita dari tangan orang lain dianggapnya sebagai pahlawan. Lebih parah lagi, film-film sejenis itu banyak ditanyangkan dan cukup banyak diminati oleh kalangan muda dan orang dewasa.
Acara televisi seperti itu sangat berbahaya. Ia dapat menghancurkan kepribadian dan akhlak anak, serta merobohkan sendi-sendi aqidah yang telah tertanam kokoh, sehingga para pemuda menjadi generasi yang labil dan lemah, tidak memiliki kepribadian.
Ada seorang dokter yang kini aktif di salah satu yayasan. Di salah satu stasiun televisi, dia bercerita bahwa dirinya mulai mencoba merokok sejak kelas 4 SD, kemudian minum minuman keras, menghisap ganja, dan itu terus berlangsung hingga saat kuliah di kedokteran dengan kadar semakin besar. Yang menarik disini, ternyata yang menjadi motivasi sang dokter ini melakukan hal itu, karena ia ingin meniru gaya yang ditampilkan di dalam film koboi, bahwa seorang tokoh koboi kelihatan gagah berani dengan menenggak minuman keras. Sang dokter juga mengatakan, selama melakukan hal itu tidak ada yang memberi pengajaran atau pun mengingatkannya. Oleh karena itu, orang tua harus berhati-hati dan waspada terhadap bahaya televisi.
2. Internet.
Dari hari ke hari, semakin nampak jurang pemisah antara peradaban barat dan fitrah manusia. Setiap orang yang menggunakan hati kecil dan pendengarannya dengan baik, pasti ia akan menyaksikan, betapa budaya barat telah merobek dan mencabik-cabik nilai kemanusiaan, seperti dalam hal internet. Media ini telah menyumbangkan dampak negatif, sebab bahaya yang timbul dari internet lebih banyak daripada manfaatnya. Bahkan media ini sudah mengenyampingkan nilai kemuliaan dan kesucian dalam kamus kehidupan manusia.
Misalnya, ada suatu situs khusus yang menampilkan berbagai gambar porno, sehingga dapat menjerat setiap muda mudi dengan berbagai macam perbuatan keji dan kotor. Akibat yang ditimbulkan ialah kehancuran.
Inilah perang pemikiran yang paling dahsyat dan berbahaya yang dicanangkan Yahudi untuk menghancurkan nilai Islam dan generasi muslim. Banyak negara-negara Eropa dan Arab merasa sangat terganggu dan mengalami berbagai kenyataan pahit akibat kehadiran media internet ini.
3. Telepon.
Manfaat telepon pada zaman sekarang ini tidak diragukan lagi, dan bahkan telepon telah mampu menjadikan waktu semakin efektif, informasi semakin cepat dan berbagai macam usaha ataupun pekerjaan mampu diselesaikan dalam waktu sangat singkat. Dalam beberapa detik saja, anda mampu menjangkau seluruh belahan dunia. Namun sangat disayangkan, ternyata kenikmatan tersebut berubah menjadi petaka dan bencana yang menghancurkan rumah tangga umat Islam.
Telepon, jika tidak digunakan sesuai dengan manfaatnya, maka tidak jarang justru akan menimbulkan bencana yang besar bagi keluarga muslim. Seringkali kejahatan menimpa keluarga muslim berawal dari telepon, baik berupa penipuan, pembunuhan, maupun perzinaan. Dan yang sering terjadi, baik pada remaja maupun orang dewasa, yaitu hubungan yang diharamkan bermula dari telepon. Karena dengan telepon, kapan saja hubungan bisa terjalin dengan mudah; apalagi sekarang, alat ini semakin canggih dan biayapun semakin murah.
Ada sebuah kisah nyata, seorang gadis belia menyerahkan kehormatannya kepada seorang laki-laki yang haram untuknya karena telepon. Awalnya, dari saling berbicara kemudian mengikat janji untuk bertemu, dan akhirnya perbuatan keji terjadi. Akhirnya, siapakah yang nanggung derita? Banyak juga terjadi, seorang ibu rumah tangga atau kepala rumah tangga berselingkuh berawal dari telepon, wa iyyadzubillah
Oleh karena itu, kita harus waspada terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh pesawat ini. Gunakan telepon dengan semestinya. Hindari penggunaan yang tidak penting, disamping menghemat biaya juga terhindar dari bahaya. Dan yang perlu diwaspadai, telepon dengan lawan jenis, baik seorang murid dengan gurunya, atau seorang thalabul ‘ilmi dengan ustadz, apalagi di antara para remaja putra maupun putri; karena setan tidak akan membiarkan kalian selamat dari jeratannya. Allahu musta’an.

4. Majalah dan Cerpen Anak
Majalah dan buku-buku cerita sangat berperan penting dalam membentuk pola pikir dan ideologi anak. Sementara itu, majalah anak yang beredar di negeri kita, baik majalah anak-anak maupun majalah remaja, isinya sangat jauh dari nilai-nilai Islam. Yang banyak ditonjolkan adalah syahwat dan hidup konsumtif. Ironisnya, media ini banyak dijadikan sebagai rujukan oleh anak-anak dan para remaja kita.
Pengaruh majalah tersebut sangat besar dalam mempengaruhi generasi muda, sehingga banyak kita temui gaya hidup dan pola pikir mereka meniru dengan yang mereka dapatkan dari majalah yang kebanyakan pijakannya diambil dari budaya orang-orang kafir.
Padahal Al-Qur`an yang mulia, banyak memuat cerita-cerita, seperti kisah tentang sapi Bani Israil, kisah tentang Ashabul-Kahfi dan pemilik kebun dalam surat al-Kahfi, kisah pertarungan antara kekuatan hak dengan batil, dan kisah-kisah umat-umat zaman dahulu yang diberi sanksi Allah akibat pelanggaran mereka terhadap perintah-Nya, serta seluruh kisah-kisah para nabi dan rasul. Disamping itu, masih banyak kisah-kisah yang benar dari as-Sunnah untuk menanamkan keteladanan para sahabat dan umat sebelumnya.
Oleh sebab itu, majalah dan buku-buku cerita memiliki peran yang sangat urgen, memiliki pengaruh sangat signifikan dalam membentuk pola pikir dan tingkah laku serta pendidikan anak. Anak-anak sangat gemar dan tertarik dengan berbagai kisah, karena kisah mengandung daya tarik, hiburan, lelucon, kepahlawanan, amanah, dan kesatriaan.

5. Komik dan Novel.
Komik banyak digandrungi oleh anak-anak kecil atau remaja, bahkan orang dewasa. Namun bacaan ini, sekarang banyak memuat gambar-gambar yang tidak sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan anak. Begitu pula novel, rata-rata berisi percintaan, dongeng palsu, cerita legendaris, penuh dengan muatan syirik dan kekufuran, serta cerita romantika picisan.
6. Teman dan Sahabat.
Teman memiliki peran dan pengaruh besar dalam pendidikan, sebab teman mampu membentuk prinsip dan pemahaman yang tidak bisa dilakukan kedua orang tua. Oleh sebab itu, Al-Qur`ân dan as-Sunnah sangat menaruh perhatian dalam masalah persahabatan. Allah berfirman, yang artinya: “Dan bersabarlah kamu bersama-sama orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya”. [al-Kahfi/18:28].
Allah berfirman, yang artinya: “Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur`an ketika Al-Qur`an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia”. [al-Furqân/25:28-29]. Dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ “Seseorang tergantung agama temannya, maka hendaklah seorang di antara kalian melihat teman bergaulnya”.
Dari Abu Musa al-Asy’ari, ia bersabda:
إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيْسِ الصَّالِحِ وِالْجَلِيْسِ السُّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِحِ الْكِيْرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا طَيِّبَةً, وَنَافِحُ الْكِيْرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيْحًا مُنْتِنَةً

“Sesungguhnya, perumpamaan teman baik dengan teman buruk, seperti penjual minyak wangi dan pandai besi; adapun penjual minyak, maka kamu mendapatkan olesan atau membeli darinya atau mendapatkan aromanya; dan adapun pandai besi, maka boleh jadi ia akan membakar pakaianmu atau engkau menemukan bau anyir”.
Sahabat memberi pengaruh dan mewarnai perilaku temannya, seperti kata Imam Syafi’i dalam syairnya:
Saya mencintai orang-orang shalih walaupun aku tidak seperti mereka.
Semoga dengan mencintai mereka aku mendapatkan syafaat-Nya.Aku membenci seseorang karena kemaksiatannya, meskipun kami dalam hal perbelakan hampir sama. Wahai para pendidik, pilihkan untuk anak-anakmu teman yang baik sebagaimana engkau memilihkan untuk mereka makanan dan pakaian yang terbaik.

B. Jalanan.
Jalanan tempat bermain dan lalu lalang anak-anak terdapat banyak manusia dengan berbagai macam perangai, pemikiran, latar belakang sosial dan pendidikan. Dengan beragam latar belakang, mereka sangat membahayakan proses pendidikan anak, karena anak belum memiliki filter untuk menyaring mana yang baik dan mana yang buruk.
Di sela-sela bermain, anak akan mengambil dan meniru perangai serta tingkah laku temannya atau orang yang sedang lewat; sehingga terkadang mampu merubah pemikiran lurus menjadi rusak, apalagi mereka mempunyai kebiasaan rusak, misalnya perokok, pemabuk dan pecandu narkoba; maka mereka lebih cepat menebarkan kerusakan di tengah pergaulan anak-anak dan remaja.
F. Pembantu dan Tetangga.
Para pembantu memiliki peran cukup signifikan dalam pendidikan anak, karena pembantu mempunyai waktu yang relatif lama tinggal bersama anak, terutama pada usia balita. Sedangkan pada fase tersebut, anak sangat sensitif dari berbagai macam pengaruh. Pada masa usia itu merupakan masa awal pembentukan pemikiran dan aqidah, serta emosional. Begitu juga tetangga, mereka bisa membawa pengaruh, karena anak-anak kita kadang harus bermain ke rumahnya.
C. Deskripsi Kasus
Pada suatu hari jam 06 pagi aku berangkat ke sekolah seperti buasa mengajar kepada anan-anak yang sudah menantiku untuk memberikan apa yang aku punya kepada mereka. Jam 07.15 pagi saatnya mereka masuk kelas. Aku masuk kekelas XII Aliyah Al-Muhajirun, dan aku teringat pada saat aku mengajar setengaj jam lalu bahwa aku akan melakukan penelitian pengaruh lingkungan terhadap pendidikan anak di sekolah Al-Muhajirin. Lalu terjadilah dialog yang melatarbelakanggi pembuatan makalah kasus ini.
Peneliti: biasanya kalian kalau keluar jalan-jalan jam berapa?”
Susanti Abas: biasanya sih kami pergi jam 4 en orang tua tidak tau kami keluar
Peneliti: lalu apakah orangtua kamu tidak mara?
Susantu Abas: enggak
Peneliti: apa alasan dari teman-teman anda selalu menyahut ketika guru menjelaskan
Susanti Abas: yang serbenarnya sih …, jujur pak kalu anak-anak seperti itu selalu bersuara (menyahut) ke orang tua?
Peneliti : terus kenapa kalian selalu ribut di kelas, apalagi yang di belakang?
Susanti Abas: yah kesel ke guru soalnya belajar terus………!!
Peneliti: apa yang mempengaruhi kalian ketika punya sifat kayak gitu di sekolah?
Susanti Abas: dari pergaulan pak?
Dari dialog diatas dapat saya simpulkan bahwa faktor lingkungan sangat mempengaruhi pendidikan anak, tidak cukup dari sekolah saja pendidikan tersebut tapi pihak orang tua sangat membantu pendidikan anak dimasa depan. Tetapi apakah sekolah dan orang tua cukup memberikan pengaruh pada pendidikan anak ? tentu tidak karena yang sangat mempengaruhi dan menonjol pengaruhnya yaitu faktor lingkungan, yang mungkin dari orangtua tidak sadar akan bahaya pergaulann yang mungkin di geluti oleh anak-anak sekolah.
D. Bedah Kasus
PENGARUH KESHALIHAN ORANG TUA
Keshalihan kedua orang tua memberi pengaruh kepada anak-anaknya. Bukti pengaruh ini bisa dilihat dari kisah Nabi Khidhir yang menegakkan tembok dengan suka rela tanpa meminta upah, sehingga Musa menanyakan alasan mengapa ia tidak mau mengambil upah. Allah berfirman, yang artinya: Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaan dan mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Rabbmu dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. [al-Kahfi/18:82].
Dalam menafsirkan firman Allah Azza wa Jalla “dan kedua orang tuanya adalah orang shalih,” Ibnu Katsir berkata: “Ayat di atas menjadi dalil bahwa keshalihan seseorang berpengaruh kepada anak cucunya di dunia dan akhirat berkat ketaatan dan syafaatnya kepada mereka, maka mereka terangkat derajatnya di surga agar kedua orang tuanya senang dan berbahagia sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Al-Qur`ân dan as-Sunnah”.
Allah telah memerintahkan kepada kedua orang tua yang khawatir terhadap masa depan anak-anaknya agar selalu bertakwa, beramal shalih, beramar ma’ruf nahi mungkar dan berbagai macam amal ketaatan lainnya, sehingga dengan amalan-amalan itu Allah akan menjaga anak cucunya. Allah Azza wa jalla berfirman, yang artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”.[an-Nisâ`/4:9].
Dari Said bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhu, berkata: “Allah Azza wa jalla mengangkat derajat anak cucu seorang mukmin setara dengannya, meskipun amal perbuatan anak cucunya di bawahnya, agar kedua orang tuanya tenang dan bahagia. Kemudian beliau membaca firman Allah, yang artinya : “‘Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan. Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya’.” [ath-Thûr/52:21].
Ibnu Syahin meriwayatkan, bahwasanya Haritsah bin Nu`man Radhiyallahu ‘anhu datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam namun ia sedang berbicara dengan seseorang hingga ia duduk tidak mengucapkan salam, maka Jibril Alaihissallam berkata: “Ketahuilah bila orang ini mengucapkan salam, maka aku akan menjawabnya?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Jibril: “Kamu kenal dengan orang ini?” Jibril Alaihissallam menjawab: “Ya, ia termasuk delapan puluh orang yang sabar pada waktu perang Hunain yang telah dijamin rizki oleh Allah bersama anak-anak mereka nanti di surga”.
Syaikh Siddiq Hasan Khan rahimahullah berkata: “Sesungguhnya Allah mengangkat derajat anak cucu seorang mukmin, meskipun amalan mereka di bawahnya, agar orang tuanya tenang dan bahagia, dengan syarat mereka dalam keadaan beriman dan telah berumur baligh bukan masih kecil. Meskipun anak-anak yang belum baligh tetap dipertemukan dengan orang tua mereka”.
Cara yang paling tepat untuk meluruskan anak-anak harus dimulai dengan melakukan perubahan sikap dan perilaku dari kedua orang tua. Begitu pula dengan merubah sikap dan perilaku kita kepada kedua orang tua kita, yaitu dengan berbuat baik dan taat kepadanya, serta menjauhi sikap durhaka kepadanya”.
Kita harus menanamkan komitmen dan berpegang teguh terhadap syariat Allah pada diri kita dan anak-anak. Barang siapa yang belum sayang kepada diri sendiri dengan berbuat baik kepada kedua orang tua, maka hendaklah segera bersikap sayang kepada anak-anaknya, yaitu dengan berbuat baik kepada orang tuanya agar nantinya anak cucunya berbuat baik kepadanya, sehingga mereka selamat dari dosa durhaka kepada kedua orang tua dan murka Allah. Karena anak-anak saat ini adalah orang tua di masa yang akan datang dan suatu ketika ia akan merasakan hal yang sama ketika menginjak masa tua.
A. lingkungan keluarga
Rumah adalah tempat pendidikan pertama kali bagi seorang anak dan merupakan tempat yang paling berpengaruh terhadap pola hidup seorang anak. Anak yang hidup di tengah keluarga yang harmonis, yang selalu melakukan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla, sunah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditegakkan dan terjaga dari kemungkaran, maka ia akan tumbuh menjadi anak yang taat dan pemberani.
Oleh karena itu, setiap orang tua muslim harus memperhatikan kondisi rumahnya. Ciptakan suasana yang Islami, tegakkan sunnah, dan hindarkan dari kemungkaran. Mohonlah pertolongan kepada Allah agar anak-anak kita menjadi anak-anak yang bertauhid, berakhlak dan beramal sesuai dengan sunnah Rasulullah serta mengikuti jejak para salafush-shalih.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اَ تَجْعَلُوْا بُيُوْتُكُمْ مَقَابِرَ , إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ .

“Janganlah engkau jadikan rumahmu seperti kuburan; sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat al-Baqarah”.
Dalam hadits ini, terdapat anjuran untuk memperbaiki rumah supaya tidak seperti kuburan dan menjadi sarang setan, sehingga anak-anak yang tumbuh di dalamnya jauh dari Islam, bahkan kemungkaran setiap saat terjadi di rumahnya dan percekcokan orang tuanya menghiasi hidupnya, maka tidak disangsikan anak akan tumbuh menjadi anak yang keras dan kasar.
Kelurga dengan kebudayaan serta nilai-nilai pendidikan yang memilikinya dapat memberikan dan mengarahkan anak agar memperoleh pusaka kebudayaan dan nilai-nilai pendidikan tersebut. Di antara nilai-nilai pendidikan yang terpenting adalah kejujuran dan amanah. Namun, hal itu sangat tergantung pada tipe interaksi keluarga dan jenis-jenisnya, sebagaimana yang dijelaskan oleh Herbert Gans yang membagi tipe interaksi keluarga menjadi tiga macam.
Pertama, Keluarga yang berpusat pada orang dewasa. Yaitu keluarga yang diperankan oleh orang dewasa untuk orang dewasa. Pada keluarga tipe ini, anak mengikuti jejak orang tuanya. Para anak berusaha sendiri untuk mengikuti semua perilaku orang dewasa. Orang tua dalam keluarga tipe ini tidak memiliki kesadaran dalam mendidik anak mereka, tidak memperhatikan pendidikan anak-anak mereka sesuai tujuan yang harus dilaksanakan, tidak memiliki pandangan yang jelas tentang posisi sosial di masa depan. Juga, mereka tidak tahu sama sekali bagaimana membangun masa depan anak-anak mereka, selama proses mendidik anak.
Kedua, Keluarga yang berpusat pada anak kecil, yaitu ayah merancang masa depan anak, tingkat ambisi ayah mempengaruhi anak yang akan dilahirkan, keluarga yang berpusat pada anak diliputi oleh persaudaraan. Para ayah menghabiskan banyak waktu untuk bermain bersama anak-anak mereka. Mereka melakukannya dengan sepenuh hati, senantiasa membuat masa kecil anak lebih bahagia dari yang dirasakan oleh ayahnya dulu, dan para ayah berangan-angan bahwa anak-anaknya akan menuai kesuksesan kelak dan mendapatkan profesi yang lebih baik daripada ayahnya.
Ketiga, keluarga yang dikendalikan orang dewasa, dengan tipe keluarga mempunyai ciri yaitu: Mereka telah mengenyam pendidikan perkuliahan, para orang tua lebih memahami keinginan anak-anak mereka dibandingkan orang tua yang terdapat dalam keluarga tipe pertama. Sedangkan anak-anak mereka mempunyai ciri yaitu: Cenderung berkembang sendiri, selalu berjuang demi mengembangkan dirinya, sesuai dengan tabiat yang khusus untuk kepribadian mereka
Meskipun pada kenyataannya tipe-tipe keluarga di atas sangat berpengaruh terhadap pengasuhan anak serta penyampaian kebudayaan masyarakat dan tingkah laku keluarga, akan tetapi tetap saja ibu lebih dulu berperan dalam pendidikan sosial. Karena, ibu merupakan agen pertama dalam pendidikan sosial. Bahkan, dia merupakan orang pertama dalam masyarakat yang dijumpai anak melalui perhatian, perasaan, serta simbol-simbol yang dapat mengajarkan tabiat kemanusiaan kepada anak.
B. Lingkungan Sekolah.
Sekolah merupakan lingkungan baru bagi anak. Tempat bertemunya ratusan anak dari berbagai kalangan dan latar belakang yang berbeda, baik status sosial maupun agamanya. Di sekolah inilah anak akan terwarnai oleh berbagai corak pendidikan, kepribadian dan kebiasaan, yang dibawa masing-masing anak dari lingkungan dan kondisi rumah tangga yang berbeda-beda.
Begitu juga para pengajar berasal dari berbagai latar belakang pemikiran dan budaya serta kepribadian. Bagaimanakah keadaan mereka? Apakah memiliki komitmen terhadap aqidah yang lurus? Ataukah sebagai pengekor budaya dan pemikiran barat yang rusak? Ataukah para pengajar memiliki pemikiran dan keyakinan yang dibangun berdasarkan nilai agama? Ataukah hanya sekedar pengajar yang menebarkan racun pemikiran dan budaya busuk, sehingga menghancurkan anak-anak kita?
Seorang pengajar adalah merupakan figur dan tokoh yang menjadi panutan anak-anak dalam mengambil semua nilai dan pemikiran tanpa memilah antara yang baik dengan yang buruk. Karena anak-anak memandang, guru adalah sosok yang disanjung, didengar dan ditiru, sehingga pengaruh guru sangat besar terhadap kepribadian dan pemikiran anak. Oleh sebab itu, seorang pengajar harus membekali diri dengan ilmu dîn (agama) yang Shahîh sesuai dengan pemahaman Salafush-Shalih dan akhlak yang mulia, serta rasa sayang kepada anak didik.
Dan tidak kalah penting, dalam membentuk kepribadian anak di sekolah, adalah kurikulum pendidikan. Apakah kurikulum tersebut berasal dari manhaj Islam, sehingga dapat mendukung untuk menegakkan ajaran Allah, sunnah Rasul dan ajaran Salafus-Shalih? Ataukah hanya sekedar menegakkan nilai dan wawasan kebangsaan, semangat nasionalisme dan kesukuan? ekolah juga memiliki komitmen total dalam membantu anak untuk meningkatkan kemampuannya sebaik mungkin. Suksesnya seluruh proses sosialisasi bergantung pada seberapa jauh keluarga dan sekolah senantiasa memelihara dan memperaktekkan nilai-nilai, baik dalam ucapan maupun perbuatan.

D. Penutup
 Kesimpulan
i. Lingkungan mempunyai pengaruh sangat besar dalam membentuk dan menentukan perubahan sikap dan perilaku seseorang, terutama pada generasi muda dan anak-anak. Seorang pendidik juga harus memahami dampak buruk yang disebabkan oleh keteledoran dalam mendidik anak. Dan ia harus mewaspadai faktor-faktor yang bisa mempengaruhi proses pendidikan anak, yaitu lingkungan rumah, sekolah, media cetak dan elektronik, teman bergaul, sahabat serta pembantu.
ii. Dalam mendidik kepribadian anak, baik pendidikan keluarga maupun sekolah mengalami berbagai kendala dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan yaitu kejujuran dan amanah kepada diri anak. Dalam membangun kepribadian anak, sangat strategis peranan pendidikan, baik pendidikan oleh orang tua lingkungan rumah tangga, pendidikan sekolah maupun pendidikan di lingkungan masyarakat.
iii. Keluarga, sebagimana berperan dalam menentukan profesi anak di masa depan, dia juga berperan dalam memberikan pendidikan dalam masyarakat. Di samping mengarahkan anak dengan cara menjadi teladan dalam aktivitas sehari-hari, membiasakan beribadah secara teratur, serta membandingkan dan mencontoh aktivitas yang baik dari seseorang, keluarga juga harus mengarahkan anak tentang kebudayaan-kebudayaan yang ada di dalam masyarakat.
iv. Agar sekolah tidak ditinggalkan oleh masyarakat, namun dapat melakukan perannya dalam pendidikan sosial dengan baik, maka ia harus berupaya mewujudkan kebutuhan-kebutuhan anak, khususnya yang berhubungan dengan beberapa kegiatan dan gerakan. Sehingga sekolah tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan saja, namun harus diselingi dengan kegiatan yang mengandung hiburan atau permainan yang dapat memotivasi kecintaan belajar.
 Saran
i. Jagalah anak-anak didik dari semua pengaruh yang bisa merusak pendidikkan anak-anak didik.
ii. Bekali mereka dengan aqidah yang shahih dan akhlak mulia.
iii. Ajarkan kepada mereka sirah Nabi dan perjalanan hidup para ulama.
iv. Tanamkan pula kesabaran dalam menunaikan segala kewajiban yang diperintahkan Allah, dan kesabaran dalam meninggalkan apa yang dilarang Allah.
v. angan biarkan anak-anak kita terpengaruh oleh tingkah laku dan perangai orang-orang yang rusak dan jahat; yang dengan sengaja membuat strategi dan tipu daya untuk menghancurkan generasi umat Islam.
vi.

E. Daftar Pustaka

Ustadz Abu Ahmad Zainal Abidin bin Syamsuddin PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP PENDIDIKAN ANAK Rabu, 10 Maret 2010 15:44:21 wib lihat di http://www.almanhaj.or.id/content/2679/slash/0

——–.dan Juntika N. (2005). Landasan pengaruh lingkungan terhadap anak didik. Bandung : PT. Remaja Rosda Karya.

Juntika N.). Landasan pengaruh lingkungan terhadap anak didik. (Bandung : PT. Remaja Rosda Karya), 2005

Shahîh, diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahîh-nya dalam kitab Shalat Musafirin (1821).

Woolfolk, Anita E. 1995. Educational Psychology. Boston : Allyn & Bacon.

Shahîh, diriwayatkan Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya (4833), at-Tirmidzi dalam Sunan-nya (2379), dan beliau berkata: “Hadits ini hasan,” dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya, 2/ 303, 334.

Shahîh, diriwayatkan Imam al-Bukhari dalam Shahîh-nya (2101) dan Imam Muslim dalam Shahîh-nya (6653).

Woolfolk, Anita E. 1995. Educational Psychology. Boston : Allyn & Bacon.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: