Just another WordPress.com weblog

2.1. KAJIAN PUSTAKA
2.1.1. Pajak
Pengertian pajak menurut Soemitro,(2010:65) adalah :
“ Pajak merupakan iuran rakyat pada kas Negara berdasarkan Undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal balik (kotraprestasi) yang langsung dapat ditunjukan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum”.
2.1.2. Pemeriksaan Pajak
Definisi pemeriksaan pajak menurut Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2000 tentang Ketentuan Umum Perpajakan (UU KUP) adalah sebagai berikut:
“Pemeriksaan Pajak adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan dan mengolah data dan/atau keterangan lainnya untuk mengetahui potensi pembayarab pajak, untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.”
a. Jenis Pemeriksaan Pajak
Pada prinsipnya pemeriksaan dapat dilakukan terhadap semua Wajib Pajak, namun karena keterbatasan sumber daya manusia atau tenaga pemeriksa di Direktorat Jenderal Pajak, maka pemeriksaan tidak dapat dilakukan terhadap semua Wajib Pajak. Pemeriksaan hanya akan dilakukan terutama terhadap Wajib Pajak yang Surat Pemberitahuan-nya menyatakan Lebih Bayar karena hal ini telah diatur dalam Undang-Undang Ketentuan Umum Perpajakan. Disamping itu pemeriksaan dilakukan juga terhadap Wajib Pajak tertentu dan Wajib Pajak yang tingkat kepatuhannya dalam pembayaran pajak dianggap rendah.
b. Sasaran Pemeriksaan Pajak
Yang menjadi sasaran pemeriksaan adalah untuk mencari adanya :
a. Interpretasi Undang-undang yang tidak benar.
b. Kesalahan hitung.
c. Penggelapan secara khusus dari penghasilan.
d. Pemotongan dan pengurangan tidak sesungguhnya, yang dilakukan Wajib Pajak dalam melaksanakan pemeriksaan kewajiban perpajakan.
c. Tujuan Pemeriksaan Pajak
Untuk Menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan:
1. Surat Pemberitahuan lebih bayar dan atau rugi.
2. Surat Pemberitahuan tidak atau terlambat disampaikan.
3. Surat Pemberitahuan memenuhi kriteria yang ditentukan Direktur Jenderal Pajak untuk diperiksa.
4. Adanya indikasi tidak dipenuhi kewajiban-kewajiban selain kewajiban nomor 1-3.
2.1.3. Fungsi Pajak
Menurut Mardiasmo, (2010:125) ada dua fungsi pajak, yaitu :

a. Fungsi budgetair
Fungsi budgetair merupakan fungsi utama pajak dan fungsi fiscal yaitu suatu fungsi dimana pajak dipergunakan sebagai alat untuk memasukkan dana secara optimal ke kas negara berdasarkan undang-undang perpajakan yang berlaku, segala pajak untuk keperluan negara berdasarkan undang-undang.
b. Fungsi Mengatur (regulerend)
Fungsi mengatur dan sebagainya juga fungsi pajak dipergunakan oleh pemerintah sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu, sebagai fungsi tambahan karena fungsi ini hanya sebagai pelengkap dari fungsi utama pajak.
2.1.4. Sistem Pemungutan Pajak
Menurut Prof. Dr. Mardiasmo, MBA, Ak, ada dua fungsi pajak, yaitu :
a. Official Assessment System Adalah suatu sisitem pemungutan yang memberikan wewenang kepada pemerintah (fiscus) untuk menentukan besarnya pajak yang terhutang oleh Wajib Pajak
b. Self Assessment System Adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada Wajib Pajak untuk menuntukan sendiri besarnya Pajak yang terutang.
c. With Holding System Adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak ketiga (bukan fiskus dan bukan pula Wajib Pajak yang bersangkutan ) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh Wajib Pajak.
2.1.5. Wajib Pajak
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2007 Tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan (subjek pajak) yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan ditentukan untuk melakukan kewajiban perpajakan, termasuk pemungut pajak atau pemotong pajak tertentu. Wajib pajak bisa berupa wajib pajak orang pribadi atau wajib pajak badan.
2.1.6. Bank
Kata bank berasal dari bahasa Italia banque atau Italia banca yang berarti bangku. Para Bankir Florence pada masa Renaissans melakukan transaksi mereka dengan duduk di belakang meja penukaran uang, berbeda dengan pekerjaan kebanyakan orang yang tidak memungkinkan mereka untuk duduk sambil bekerja.
Menurut Udang – Udang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 tanggal 10 November 1998 tentang perbankan, dapat disimpulkan bahwa usaha perbankan meliputi tiga kegiatan, yaitu menghimpun dana,menyalurkan dana, dan memberikan jasa bank lainnya. Kegiatan menghimpun dan menyalurkan dana merupakan kegiatan pokok bank sedangkan memberikan jasa bank lainnya hanya kegiatan pendukung. Kegiatan menghimpun dana, berupa mengumpulkan dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan giro, tabungan, dan deposito. Biasanya sambil diberikan balas jasa yang menarik seperti, bunga dan hadiah sebagai rangsangan bagi masyarakat. Kegiatan menyalurkan dana, berupa pemberian pinjaman kepada masyarakat. Sedangkan jasa-jasa perbankan lainnya diberikan untuk mendukung kelancaran kegiatan utama tersebut. Inilah beberapa manfaat perbankan dalam kehidupan:
1. Sebagai model investasi, yang berarti, transaksi derivatif dapat dijadikan sebagai salah satu model berinvestasi. Walaupun pada umumnya merupakan jenis investasi jangka pendek (yield enhancement).
2. Sebagai cara lindung nilai, yang berarti, transaksi derivatif dapat berfungsi sebagai salah satu cara untuk menghilangkan risiko dengan jalan lindung nilai (hedging), atau disebut juga sebagai risk management.
3. Informasi harga, yang berarti, transaksi derivatif dapat berfungsi sebagai sarana mencari atau memberikan informasi tentang harga barang komoditi tertentu dikemudian hari (price discovery).
4. Fungsi spekulatif, yang berarti, transaksi derivatif dapat memberikan kesempatan spekulasi terhadap perubahan nilai pasar dari transaksi derivatif itu sendiri.
5. Fungsi manajemen produksi berjalan dengan baik dan efisien, yang berarti, transaksi derivatif dapat memberikan gambaran kepada manajemen produksi sebuah produsen dalam menilai suatu permintaan dan kebutuhan pasar pada masa mendatang.
a. Bank Badan Usaha Milik Negara
Bank Pemerintah adalah bank yang sebagian besar modalnya dimiliki oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah.
b. Bank Umum Swasta Nasional Devisa
Bank devisa adalah bank yang melaksanakan transaksi luar negeri atau transaksinya berhubungan dengan valas.

c. Bank Umum Swasta Nasional Non Devisa
Bank Non Devisa adalah bank yang tidak diperbolehkan melakukan transaksi dengan luar negeri atau berkaitan dengan valas.
d. Bank Pembangunan Daerah
Bank Pemerintah Daerah Adalah bank-bank yang sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Daerah. Bank milik Pemerintah Daerah yang umum dikenal adalah Bank Pembangunan Daerah (BPD), yang didirikan berdasarkan UU Nomor 13 Tahun 1962. Masing-masing Pemerintah Daerah telah memiliki BPD sendiri. Di samping itu beberapa Pemerintah Daerah memiliki Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Bank Perkreditan Rakyat adalah salah satu jenis bank yang dikenal melayani golongan pengusaha mikro, kecil dan menengah dengan lokasi yang pada umumnya dekat dengan tempat masyarakat yang membutuhkan.
e. Bank Campuran
Bank campuran adalah bank yang modalnya dimiliki swasta nasional Indonesia dan asing, dan pada umumnya sebagian besar sahamnya dimiliki oleh swasta Indonesia.
f. Bank Asing
Bank asing adalah bank yang sebagian besar atau seluruh modalnya dimiliki oleh asing, baik swasta maupun pemerintah asing.
2.1.7. Benchmarking
Benchmarking adalah suatu proses yang biasa digunakan dalam manajemen atau umumnya manajemen strategis, dimana suatu unit/bagian/organisasi mengukur dan membandingkan kinerjanya terhadap aktivitas atau kegiatan serupa unit/bagian/organisasi lain yang sejenis baik secara internal maupun eksternal. Dari hasil benchmarking, suatu organisasi dapat memperoleh gambaran dalam (insight) mengenai kondisi kinerja organisasi sehingga dapat mengadopsi best practice untuk meraih sasaran yang diinginkan.
Kegiatan benchmarking tidaklah harus peristiwa yang dilakukan satu kali waktu, namun bisa juga merupakan kegiatan berkesinambungan sehingga organisasi dapat memperoleh manfaat dalam meraih praktek aktifitas organisasi yang terbaik untuk mereka.
Proses benchmarking memiliki beberapa metode. Salah satu metode yang paling terkenal dan banyak diadopsi oleh organisasi adalah metode 12, yang diperkenalkan oleh Robert Camp, dalam bukunya The search for industry best practices that lead to superior performance. Productivity Press .1989.
Langkah metode 12 terlalu luas untuk dijabarkan. Agar mudah, metode 12 tersebut bisa diringkas menjadi 6 bagian utama yakni :
1. Identifikasi problem apa yang hendak dijadikan subyek. Bisa berupa proses, fungsi, output dan sebagainya.
2. Identifikasi industri/organisasi/lembaga yang memiliki aktifitas/usaha serupa. Sebagai contoh, jika anda menginginkan mengendalikan turnover karyawan sukarela di perusahaan, carilah perusahaan-perusahaan sejenis yang memiliki informasi turnover karyawan sukarela.
3. Identifikasi industri yang menjadi pemimpin/leader di bidang usaha serupa. Anda bisa melihat didalam asosiasi industri, survey, customer, majalah financial yang mana industri yang menjadi top leader di bidang sejenis.
4. Lakukan survey pada industri untuk pengukuran dan praktek yang dilakukan. Anda bisa menggunakan subyek, agar bisa relatif untuk mendapatkan data dan informasi yang relevan sesuai problem yang diidentifikasi di langkah awal.
5. Kunjungi ’best practice’ perusahaan untuk mengidentifikasi area kunci praktek usaha. Beberapa perusahaan biasanya rela bertukar informasi dalam suatu konsorsium dan membagi hasilnya didalam konsorsium tersebut.
6. Implementasikan praktek bisnis yang baru dan sudah diperbaiki prosesnya. Setelah mendapatkan best practice perusahaan, dan mendapatkan metode/teknik cara pengelolaannya, lakukan proyek peningkatan kinerja dan laksanakan program aksi untuk implementasinya.
2.1.8. Benchmarking Pajak
Rasio merupakan alat yang penting dalam melakukan analisa laporan keuangan. Rasio (%) digunakan untuk mengkonversi angka-angka dalam laporan keuangan ke dalam bentuk yang lebih layak untuk diperbandingkan dengan data tahun-tahun lainnya untuk satu wajib pajak (vertikal) ataupun dibandingkan antar wajib pajak dalam bidang industri tertentu (horizontal). Rasio bisa lebih menggambarkan posisi satu wajib pajak dibandingkan dengan wajib pajak lainnya dalam satu industri yang sama dibandingkan dengan angka-angka rupiah laporan keuangan. Secara umum, analisa rasio akan berguna untuk:
a. Memahami kinerja satu industri;
b. Membandingkan kinerja perusahaan (wajib pajak) dengan benchmark-nya;
c. Melakukan komparasi dengan tahun-tahun lainya;
d. Membantu dalam menentukan tingkat risiko ketidakpatuhan di wajib pajak.
Untuk lebih mendayagunakan analisa rasio, perlu dilakukan penetapan standar kinerja operasional untuk wajib pajak dalam satu bidang usaha tertentu atau dibuat satu benchmark (patokan) kinerja yang nantinya akan digunakan untuk mengukur apakah kinerja satu wajib pajak kurang, sesuai atau melebihi benchmark-nya. Hal ini didasari asumsi bahwa kelompok wajib pajak dalam satu industri tertentu akan mempunyai perilaku biaya yang cenderung sama. Dalam hal ini, penting untuk diperhatikan adalah proses pembuatan benchmark itu sendiri. Metode statistik seperti rata-rata, median, simpangan dan simpangan baku akan sangat membantu dalam membuat benchmark yang dapat diandalkan. Hal lain yang juga tidak kalah penting adalah data yang digunakan untuk membuat benchmark dan analisanya serta variabel-variabel yang dianggap mewakili dalam menentukan kinerja satu wajib pajak dalam industri tertentu.
1. Rasio –Rasio Benchmarking
Menindaklanjuti ketentuan angka 7 (tujuh) Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak nomor SE-96/PJ/2009 tanggal 5 Oktober 2009 tentang Rasio Total Benchmarking, maka Rasio-rasio yang dilakukan benchmarking tetap terdiri dari 14 (empat belas) rasio, yaitu :
a. Gross Profit Margin (GPM)
Gross Profit Margin (GPM) merupakan perbandingan anatara laba kotor terhadap penjualan. Nilai GPM dihitung sebagai berikut:
GPM = Laba Kotor X 100% Atau Penjualan – HPP X 100%
Penjualan Penjualan

Nilai GPM menunjukkan seberapa besar proporsi penjualan perusahaan yang tersisa setelah digunakan untuk menutupi ongkos ubtuk menghasilkan atau memperoleh produk yang dijual.
b. Operating Profit Margin (OPM)
Operating Profit Margin Merupakan perbandingan antara laba bersih dari operasi terhadap penjualan. Nilai OPM dihitung sebagai berikut:

OPM = Laba Bersih Dari operasi X 100%
Penjualan

Nilai OPM menunjukkan seberapa besar proporsi penjualan perusahaan masih tersisa setelah digunakan untuk menutup seluruh biaya operasional perusahaan. Makin besar nilai OPM makin efisien dalam memanfaatkan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan penjualan.
c. Pretax Profit Margin (PPM)
Pretax Profit Margin (PPM) merupakan perbandingan antara laba bersih sebelum pajak terhadap penjualan. Nilai PPM dihitung sebagai berikut:
PPM = Laba Bersih Sebelum Pajak X 100%
Penjualan

Nilai PPM menunjukkan besarnya laba bersih perusahaan relatif terhadap niali penjualan. Makin besar PPM menunjukkan makin tingginya tingkat laba bersih yang dihasilkan baik dari kegiatan operasional maupun dari kegiatan lainnya.
d. Corporate Tax to Turn Over Ratio (CTTOR)
CTTOR = PPH Terhutang X 100%
Penjualan
Corporate Tax to Turn Over Ratio (CTTOR) merupakan rasiopajak penghasilan terutang terhadap penjualan. Nilai CTTOR dihitung sebagai berikut:

Nilai CTTOR menunjukkan besarnya PPh yang terutang dalam suatu tahun relaif terhadap penjualan yang dilakukan oleh perusahaan. Makin besar CTTOR menunjukkan makin besar proporsi hasil penjualan perusahaan yang digunakan untuk membayar pajak penghasilan.
e. Net Profit Margin (NPM)
Net Profit Margin (NPM) merupakan perbandingan antara laba bersih setelah pajak terhadap penjualan. Nilai NPM dihitung sebagai berikut:
NPM = Laba Bersih Setelah Pajak X 100%
Penjualan

Nilai NPM menunjukkan besarnya laba bersih yang dihasilkan perusahaan setelah memperhiyungkan PPh yang terutang. Makin besar NPM menunjukkan makin tingginya kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bagi pemilik (pemegang saham).
f. Dividend Payout Ratio (DPR)
Dividend Payout Ratio (DPR) merupakan rasio nilai pembayaran dividen terhadap laba bersih. Niali DPR dihitung sebagai berikut:
DPR = Pembayaran Dividen Tunai X 100%
Laba Bersih Setelah Pajak

Nilai DPR menunjukkan seberapa besar proporsi laba bersih yang dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen tunai.
g. Rasio PPN Masukan Terhadap Penjualan
Rasio PPN merupakan rasio total pajak masukan yang dikreditkan oleh pengusaha kena pajak dalam satu tahun pajak terhadap penjualan, tidak termasuk pajak masukan yang dikreditan dari transaksi antar cabang. Nilai Rasio PPN dihitung sebagi berikut:
pn = Jumlah Pajak Masukan Januari s/d Desember X 100%
Penjualan

h. Rasio Biaya Gaji Terhadap Penjualan (g)
Rasio Gaji/Penjualan merupakan rasio antara jumlah biaya gaji, upah dan tunjangan atau yang sejenisnya yang dibebankan dalam suatu tahun terhadap paenjualan. Nilai Rasio Gaji/Penjualan dihitung sebagai berikut:
g = Jumlah Biaya Gaji X 100%
Penjualan

Nilai g menunjukkan besarnya proporsi hasil penjualan yang digunakan untuk membayar biaya tenaga kerja seperti gaji, upah, tunjangan dan pembayaran lainnya yang berhubungan dengan penggunaan tenaga kerja. Makin tinggi nilai g menunjukkan bahwa suatu perusahaan membutuhkan biaya tenaga kerja yang lebih tinggi.
i. Rasio Biaya Bunga Terhadap Penjualan (b)
B = Jumlah Beban Bunga X 100%
Penjualan

j. Rasio Biaya Sewa Terhadap Penjualan (s)
Rasio Sewa/Penjualan merupakan rasio antara total beban dan royalti terhadap penjualan. Nilai Rasio Sewa/Penjualan dihitungn sebagai berikut:
S = Jumlah Biaya Sewa X 100%
Penjualan

k. Rasio Biaya Penyusutan Terhadap Penjualan (py)
RasionPenyusutan/Penjualan merupakan rasio antara total beban penyusutan dan amortisasi terhadap penjualan. Nilai Rasio Penyusutan/Penjualan dihitung sebagai berikut:
Py = Jumlah Biaya Penyusutan X 100%
Penjualan

l. Rasio “Input Antara” Lainnya Terhadap Penjualan (x)
Rasio Input Lainnya merupakan rasio antara total biaya-biaya yang dibebankan dalam suatu tahun buku selain beban gaji/upah, sewa, bunga, penyusutan dan beban luar usaha terhadap penjualan. Nilai Rasio Input Lainnya/Penjualan dihitung sebagai berikut:
X = Jumlah Beban Lainnya X 100%
Penjualan

m. Rasio Penghasilan Luar Usaha Terhadap Penjualan (pl)
Bl = Penghasilan di Luar Usaha X 100%
Penjualan

n. Rasio Biaya Luar Usaha Terhadap Penjualan (bl)
Rasio Biaya Luar Usaha/Penghasilan merupakan rasio antara total biaya luar usaha terhadap penjualan. Nilai Rasio Biaya Luar Usaha/Penjualan dihitung sebagi berikut:
Bl = Biaya Luar Usaha X 100%
Penjualan

2. Pemanfaatan Total Benchmarking dalam Mengetahui Potensi Pembayaran Pajak Pada Wajib Pajak.
Untuk dapat menilai kewajaran kinerja keuangan dan pembayaran pajak, perlu dilakukan adalah membandingkan analisis rasio-rasio keuangan wajib pajak dengan dengan analisis lingkungan usaha berdasarkan persamaan Total Benchmarking.
Dalam pengujian kepatuhan wajib pajak dalam benchmarking yaitu dengan menguji aspek biaya usaha. Biaya usaha meliputi Harga Pokok Penjualan. Biaya usaha wajib pajak dapat dibandingkan dengan benchmark dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Membandingkan rasio HPP/Penjualan terhadap rasio benchmark, HPP/Penjualan = 100% – GPM.
b. Membandingkan rasio biaya usaha lain/penjualan terhadap rasio benchmark dengan rasio, Biaya Usaha Lain/Penjualan = GPM – OPM.
c. Membandingkan hasil penjumlahan rasio HPP/penjualan dan Biaya Usaha Lain/Penjualan diatas dengan rasio benchmarknya.
d. Melakukan analisis terhadap hasil pembandingan tersebut.
2.1.9. Laporan Keuangan
a. Laporan laba rugi (Income Statement atau Profit and Loss Statement) adalah bagian dari laporan keuangan suatu perusahaan yang dihasilkan pada suatu periode akuntansi yang menjabarkan unsur-unsur pendapatan dan beban perusahaan sehingga menghasilkan suatu laba (atau rugi) bersih.
b. Laporan Perubahan Modal
Laporan perubahan modal (ekuitas) adalah laporan keuangan suatu perusahaan yang dihasilkan pada suatu periode akuntansi yang menunjukan perubahan modal yang dihasilkan untuk satu periode.
c. Neraca
Neraca atau laporan posisi keuangan (balance sheet atau statement of financial position) adalah bagian dari laporan keuangan suatu entitas yang dihasilkan pada suatu periode akuntansi yang menunjukkan posisi keuangan entitas tersebut pada akhir periode tersebut. Neraca terdiri dari tiga unsur, yaitu asset, kewajiban, dan ekuitas yang dihubungkan dengan persamaan berikut:

d. Laporan Arus kas
Laporan arus kas (cash flow statement atau statement of cash flows) adalah bagian dari laporan keuangan suatu perusahaan yang dihasilkan pada suatu periode akuntansi yang menunjukkan aliran masuk dan keluar uang (kas) perusahaan.
2.2. Penelitian Sebelumnya
Penelitian tentang Rasio Benchmarking telah diteliti oleh Meilani Karlina dengan Judul “Tinjauan Pemanfaatan Total Benchmarking Atas Kebenaran Pembayaran Pajak Di Kpp Pratama Bandung Majalaya” Mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Komputer Indonesia Bandung pada tahun 2010.
2.3. Kerangka Pemikiran
Berdasarkan kajian pustaka seperti yang di uraikan diatas, maka kerangka pemikiran yang akan dibuat oleh penulis sehubungan dengan Pemanfaatan Total Benchmarking Dalam Mengetahui Potensi Pembayaran Pajak Pada Wajib Pajak Bank Perkreditan Rakyat di Sulawesi Utara adalah :
2.3.1. Mengelompokkan wajib pajak berdasarkan jenis dan nilai aset. Pengelompkan ini penting untuk meningkatkan daya kesebandingan di antara wajib pajak yang dianalisa.
2.3.2. Menentukan rata-rata kinerja industri yang nantinya akan dijadikan benchamrk kinerja wajib pajak perbankan, langkah pertama yang dilakukan adalah menentukan rata-rata kinerja industri untuk setiap kelompok wajib pajak (berdasarkan jenis dan nilai aset).
2.3.3. Identifikasi Risiko Ketidakpatuhan Wajib Pajak Yang Di Bawah Benchmark.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: