Just another WordPress.com weblog

Alkisah pada kira – kira tahun 550 M Pendeta BUDHA UTAMA ke-28 yaitu DARMA TAISHI hijrah dari tempat tinggalnya di BRAMEN INDIA ke TIANGKOK dan menetap disebuah KUIL bernama SHORINJI didekat Kota ENSHI, di PROPINSI KWA NAN.
Selama 9 tahun beliau bertapa menyusun suatu ilmu mempertahankan diri yang dimaksudkan sebagai syarat/mata pelajaran bagi calon pendeta BUDHA. Ilmu beladiri yang diciptakan itu dimaksudkan oleh DARMA agar pengikutnya berbadan sehat, guna melanjutkan usaha penyebaran agamanya yang berat itu.
Mula – mula ilmu beladiri itu diciptakan untuk dilatihkan khusus bagi calon – calon BIKSHU secara didalam Kuil SHORINJI itu. Selain anggota, tidak diperolbolehkan menonton atau masuk kedalam halaman Kuil itu. Namun demikian ilmu itu telah menjadi buah bibir orang yang dengan secara kebetulan menyebutnya SHORINJI KEMPO atau berarti Ilmu Berkelahi Dari Shorinji.
Berhubung lengkapnya ilmu beladiri ini dan tingginya mutu Kempo maka kemudian Kempo mulai dicurigai oleh pihak pendatang dari Barat. Maka terjadilah PERANG BOXER yang bersejarah itu pada Tahun 1900 – 1901
Asal dari perang ini ialah sebenarnya masuknya kebudayaan barat yang sifatnya Kolonialistis melalui pendeta – pendeta Kristen. Hal mana ditambah denga orang – orang Barat “Organisasi Rahasia” ini menyebabkan bangkitnya para penganut BUDHISME. Pemberontakan ini disokong oleh RATU TZE SJI yang ingin membersihkan tanah airnya dari penjajah, sehingga menjadi sebuah pergerakan Nasional dengan bala bantuan yang hebat dipihak penjajah, akhirnya pemberontakan ini dapat dikalahkan.
Pengikut – pengikut DARMA dibinasakan, organisasinya dilarang dan Kuil SHORINJI dirusakan. Walaupun pemberontakan ini dinyatakan telah selesai namun kekaguman orang – orang barat akan tingginya tekhnik perkelahian pengikut – pengikut Kempo, sehingga kini tidak pernah diragukan. Pengikut – pengikut dan BIKSHU – BIKSHU yang sempat bersembunyi (kebanyakan yang masih muda – muda dan belum tamat), kemudian melarikan ke Timur dan mengajarkan aliran SHORINJI ini melalui pedagang – pedagang JEPANG, TAIWAN, dan OKINAWA.
Berhubung tiada organisasi yang teratur, maka ajaran Kempo ini mulai luntur, sehingga ada guru – guru yang hanya menguasai bagian – bagian JU – HO (lemah) saja ataupun menguasai yang GO – HO (keras) saja. Dari JU – HO ini kita ketahui JU – JITSU (JU – HALUS, LENTING, FILE – FLEKSIBEL).
Di Jepang sendiri dari JU – HO ini lahirlah AIKIDO dan JUDO. Dari guru – guru yang mempelajari GO – HO saja lahirlah KARATE (setelah diolah dengan silat OKINAWA dan THAI BOXING di THAILAND). Untuk beberapa waktu lamanya nama Kempo hilang dari udara, tapi setelah kaum KUN CHAN TANG berkuasa, maka Kempo di modernisasikan menjadi apa yang mereka sebut TAI KYOKU YEN yang lebih merupakan senam missal tekhnik beladiri.
Setelah lama tak terdengar lagi nama Kempo, maka mulai dikembangkan lagi oleh seorang pemuda JEPANG SHO DOSIN yang dikirim kedaratan TIONGKOK dalam pasukan Ekspedisi tentara JEPANG ke MANCHURLA pada Tahun 1928. Pemuda SHO DOSIN yang tidak sepaham dengan cara – cara penjajahan, kemudian melarikan diri dari pasukannya dan mengembara ke barat, dimana ia ditolong oleh Pendeta BUDHA dan membawanya ke KUIL SHORINJI. Disitu ia bertemu dengan SIHANG (Maha Guru) ke-20 yaitu WEN TAY SHON dan belajar terus hingga tahun 1945.
Berhubung baktinya kepada SHORINJI, maka pemuda SHO DOSIN di beri hak menjadi SIHANG KE-21 untuk meneruskan ajaran Kempo di JEPANG. Demikianlah sekarang dengan pengikutnya yang melebihi 500.000 orang disebuah pusat Kempo di Kota TODATSHU PROPINSI KAGAWA di Pulau SHIKOKU JEPANG.
Di Indonesia telah diperkenalkan ajaran Kempo, dan dibentuk pada tanggal 2 Februari 1966 oleh beberapa pemuda Indonesia yang telah menamatkan pelajarannya di JEPANG. Yaitu, UTIN SYAHRAZ, INDRA KARTA SASMITA DAN GINANJAR SASMITA. Bertekad untuk menyusun organisasi ini berazaskan persaudaraan dengan diberi nama : PERSAUDARAAN BELADIRI KEMPO INDONESIA (PERKEMI), dan diterima sebagai anggota KONI pada Tahun 1970.
Sebagai lambang organisasi Kempo yang juga dipakai oleh PERKEMI adalah “Manji” yaitu semacam tanda Swastika yang berputar kekiri yang berarti KASIH SAYANG DAN KEKUATAN.
Sesuai dengan Doktrin SHORINJI yaitu: “KEKUATAN TANPA KASIH SAYANG ADALAH KEZALIMAN, KASIH SAYANG TANPA KEKUATAN ADALAH KELEMAHAN”
Dalam tindakan sehari – hari sering diartikan, dimana ada kekuatan harus ada kebijaksanaan, dan kebijaksanaan baru disertai kekuatan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: