Just another WordPress.com weblog

absolutisme tuhan dan kebebasan manusia

A. Pendahuluan
Pertama-tama penulis mengucakan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmatnya dan berkatnya atas tugas kelompok ini bisa terselesaikan dengan baik dengan tidak kurang suatu apapun.Penulis menyusun makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah ilmu kalam semester III yang diberikan oleh pak Yusno A.Otta.MA.g.
Absolutisame Tuhan dan kekebasan manusia merupakan suatu konsep yang saling terkait dan tidak dapat terpisahkan. Tuhan dalam segala aspeknya ada dalam pikiran setiap manusia dan ada dalam imajinasi setiap manusia. Manusia meruakan ciptaann Tuhan yang memliki bentuk kesempurnaan yangs ercara tidak langsung mmeberikan perbedaan yang sangat mendasar terhadap makhluk lainnya.
Fungsi dari kajian Absolutisme Tuhan ini yaitu terhadap orang-orang agamawan yang cenderung memahami konsep tuhan dengan segala aspeknya. Tujuan dari pembuatan makalah ini tidak sekedar pada memenuhi tugas mata kuliah tapi bias memnuhi orang-orang pragmatis yang haus akan konsepsi pendapat ilmiah.
B. Latar Belakang Masalah
Absolutisme Tuhan berkaitan denagn eksistensinya. Dalam hal ini, eksistensi Tuhan tersebut terdapat pada kepercayaan akan Tuhan pada setiap manusia. Dalam pandangan ini, al-Qur’an mengetuk hati nurani manusia untuk merasakan benar-benar bahwa keyakinan tentang eksistensi Allah adalah pembawaan fitrah manusia.
Sedangkan kebebasan manusia dalam pandangan ilmu kalam yaitu bebas sepenuhnya yang secara logis harus di pertanggungjawabkan dihadapan Tuhan. Kekebasan manusia merupakan anugerah Tuhan dalam arti bahwa mannusia bebas memilih jalan mana yang baik dan jalan mana yang tidak baik.

B. Absolutisme Tuhan dan Kebebasan Manusia
a. Absolutisme Tuhan
Sebelum kita masuk dalam pembahasan ini, terlebih dahulu kita harus mengetahui dulu apa sih itu absolutisme? Penulis mengemukakan bahwa absolutisme merupakan jamak dari absolute yang berarti mutlak, tidak terbatsa, dll. Tuhan merupakan sang penguasa alam raya ini yang tiada serupa dengan dia. Dalam pandangan Islam Tuhan merupakan penentu takdir seseorang dan dialah yang satu dan tdak ada yang serupa dengan dia. Dialah Allah swt pencipta alam semesta dan isinya.
Menurut penulis, bahwa Tuhan dan manusia adalah sesuatu yang tak terpisahkan karena Tuhan pada hakekatnya mencptakan manusia untuk menjadikan dia sebagai hambanya sekalgus khalifah. Demikian juga halnya manusia, pada hekekatnya manusia selalu meminta dan bersandar hanya kepada Tuhan. Manusia sekafir apapun pasti akan menggigat Tuhannya, ketika ia melakukan kesalahan. Sama halnya dengan tujuan eksistensi manusia tersebut dalam pandangan Islam manusia tercipta di dunia ini hanya untuk semata-mata beribadah, menghambakan diri, serta patuh dan setia kepada Allah swt.
Tuhan dalam segala aspeknya sangatlah berbeda menurut pandangan masing-masing orang ataupun menurut kepercayaan masing-masing. Tuhan menurut agama hindu beda dengan Tuhan menurut orang kongfucu, dan sebaliknya. Dalam hal peridabatan tata caranya berbeda tapi tujuan dari eksistensinya sama. Ada suatu hal yang penting yang berhubungan dengan pengertian keadilan Tuhan, dan hal itu bertentangan baik dengan Agama maupun filsafat (pandangan hidup) yaitu
kebebasan manusia.
b. Kebebasan Manusia
Persoalan utama yang muncul berkaitan dengan kebebasan manusia adalah: Apa itu kebebasan? Benarkah manusia itu bebas? Benarkah tindakan-tindakan yang kita lakukan itu sungguh-sungguh keluar dari kebebasan kita? Atau justru sebaliknya: Apakah semua yang terjadi dan yang akan terjadi dalam hidup kita ini sudah dideterminasi oleh determinan-determinan yang melingkupi hidup kita? Seandainya hidup dan tindakan kita ini sebenarnya merupakan produk dari determinasi-determinasi, di mana letak kebebasan manusia? Apakah dalam situasi demikian itu manusia masih bisa dikatakan sebagai makhluk yang bebas? Persoalan-persoalan di atas akan menjadi pusat perhatian penulis dalam karya ilmiah ini, karena penulis melihat bahwa secara hakiki manusia menginginkan kebebasan secara penuh. Namun apa yang ditemui dalam realitas kehidupan? Perang, kelaparan, kemiskinan, perampokan, penindasan hak-hak asasi manusia, ketidakadilan, dan lain sebagainya. Kenyataan itu menunjukkan bahwa sebenarnya harapan dan dambaan manusia akan kebebasan belum teraktualisasikan secara penuh. Kebebasan manusia dan segala macam persoalannya itu akan menjadi semakin rumit kalau kita kaitkan dengan pandangan dari aliran determinisme.
Baik filosof maupun guru-guru Agama berbeda pendapat mengenai masalah ini. Sebagian mereka menganjurkan kebebasan manusia dan bahwa apapun yang ia lakukan adalah atas kebebasan kemauannya sendiri; sebagian menolak kebebasan ini dan berfikir bahwa apa yang nampaknya menjadi suatu tindakan yang bebas atau tidak bebas dari manusia adalah tunduk pada aturan yang sudah digariskan lebih dulu.

Penulis telah membaca beberapa bacaan Islam bahwa Islam mempercayai Takdir dan bahwa semua yang dikerjakan manusia telah ditakdirkan oleh Tuhan, dan bahwa manusia tidak dapat merubah arah-arah yang sudah ditetapkan. penulis mengemuakan juga bahwa perbedaan pandangan Islam yang menganjurkan kebebasan manusia dan menolak pengertian Takdir pada tindakan manusia atau tidak bertindaknya manusia. Saya sekarang ingin membicarakan dengan anda masalah ini dan memeriksa apakah Islam benar-benar mengajarkan hal yang penting. Hal ini memerlukan penjelasan bahwa pembicaraan kita tidak mencakup kondisi-kondisi tertentu yang tidak disebabkan oleh keinginan manusia itu sendiri, seperti penyakit, kebutaan dan kematian.
Di dalam hal ini ketidak bebasan manusia telah jelas. Tak seorangpun dapat menggugat bahwa manusia mempunyai kebebasan di dalam kondisi-kondisi demikian, sebab masalah ini tidak terjadi karena pilihan manusia. Pembicaraan kita hanya mencakup kerja manusia dan tindakannya dimana manusia bertindak oleh pilihannya sendiri dan kemauannya. Pertentangan lama masih ada dan membagi manusia menjadi dua bagian: ada yang berpegang pada kebebasan manusia, dan yang lain berpegang pada takdir. Islam, seperti yang anda ketahui, menerangkan pada kita bahwa Tuhan melahirkan firman-firman tertentu: bahwa Dia akan menghadiahi orang-orang yang patuh pada firman-firmanNya, dan bahwa Dia akan menghukum orang yang tidak patuh yaitu orang-orang yang tidak memenuhi permintaan firman-firman ini. Suatu Agama dapat kukuh hanya bila menganjurkan kebebasan manusia. Suatu Agama yang menganjurkan kedua-duanya yaitu keadilan Tuhan dan Takdir, jelas akan bertentangan bila Agama itu menerangkan bahwa Tuhan akan menghadiahi orang-orang yang patuh pada firman-firmanNya dan menghukum yang tidak patuh. Bila bertindaknya manusia atau tidak bertindaknya adalah tidak lebih dahulu ditentukan oleh Tuhan, manusia tidak akan dapat merubah tujuannya. Dia tidak akan dapat melakukan sesuatu setelah dia ditakdirkan tidak melakukan hal itu. Manusia akan seperti mesin. Sebuah mesin tidak dapat berputar dengan sendirinya, merubah tujuannya, dan mustahil mengatakan sebuah mesin memenuhi permintaan pesanan tertentu, mustahil menghadiahi mesin atau menghukum mesin. Melenyapkan kebebasan manusia akan merusak seluruh pengertian (konsep) Agama. Sebenarnya, bila kita menolak kebebasan manusia maka tidak akan perlu ilham atau wahyu. Dan tidak perlu mengirim Nabi-nabi untuk mengajarkan dan memimpin manusia. Bila seseorang ditakdirkan menjadi Atheist dia tidak akan menjadi orang yang beragama, dan tidak ada nabi vang akan dapat merubah hatinya. Seorang yang ditakdirkan jahat, tidak akan menjadi warga yang baik Kebebasan manusia sebenarnwa merupakan dasar seluruh pengertian Agama, dan Islam dengan jelas menganjurkan kebebasan manusia.

B. Pemikiran dari Para Ahli-ahli Filsafat Ketuhanan
a. Absolutisme tuhan
1. Pengertian menurut bahasa
Pada pembahasan sebelumnya bahwa absolutisme merupakan jamak dari kata absolute yang berarti mutlak, sedangkan menurut Daryanto di dalam kamusnya “Kamus Bahasa Inodnesia” bahwa absolutisme dalam arti luas adalah bentuk pemerintahan tanpa Undang-Undang Dasar, bentuk pemerntahan dengan semua kekuasaan terletak di tangan penguasa (raja, kaisar, diktaktor, dll.).
By John M. Echole dan Hassan Shadly to say:
Absolutime to ariginate from the word ‘absolute’ it means unconditional, not limited, completed unrequisite, obvious, and can’t hesitate again (absolutisme Tuhan adalah yang mutlak, tak terbatas, sepenuhnya, tanpa syarat, nyata, dan tidak dapat diragukan lagi).
2. Pengertian Absolutisme menurut istilah
Menurut Yasin P. Al-Jibouri bahwa dalam agama yang mempercayai eksistensi Tuhan, konsep tentang Tuhan menjadi inti dari seluruh keyakinan, ajaran, dan praktiknya. Konsep tentang Tuhan juga memberikan batas-batas apa yang boleh dan apa yang tidak boleh yang mempercayai eksistensi Tuhan itu. Konsep ini membentuk sikap pemeluk agama tersebut terhadap kaum yang mereka sebut ‘kafir’.
Absolutisme Tuhan berkaitan dengan eksistensinya, dalam hal ini menurut seorang filosof iran yang kontemporer yang bernama Muhammad Taqi misbah Yazdi bahwa eksistensi Tuhan tersebut terdapat pada kepercayaan akan Tuhan pada setiap manusia. Dalam pandangan ini Al-qur’an mengetuk hati nurani manusia untuk merasakan benar-benar bahwa keyakinan tentang eksistensi Allah adalah pembawaan asal atau fitrahnya. Akan tetapi pembawaan fitrah itu sering di pengaruhi oleh berbagai factor sehingga perlu dibangktkan kembali dengan suatu keadaan yang tidak di senangg.

‘Apabila seseorang menjalani suatu penderitaan ia mengadu kepada kami, baik dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah penderitaannya itu telah kami hilangkan , ia (kembali) melakukan jalan yang sesat, seolah-olah belum pernah mengadu kepada kami, tentang sesuatu yang dialaminya’ (Q.S Yunus (10):12
Al-qur’an juga menempuh cara lain yang lebih singkat yaitu dengna menggugah akal fikiran manusia agar memikirkan kejadian dirinya dan alam sekitarnya yang menjadi bukti nyata tentang eksistensi Tuhan . Tuhan memperkenalkan dirinya bahwa dia memang ada dengan cara yang pantas sesuai dengan kesuciannya. Al-qur’an mengajarkan adanya Tuhan lewat akal fikiran dan memberi bimbingan tentang metode berpikir sistematis, untuk mengenal Tuhan. Bukti-bukti adanya Tuhan dapat diketahui dengan menggunakan dasar-dasar cosmologia,astronomi, antropologia, psikologia.

B. Pengertian manusia dalam kebebasannya
Manusia adalah makhluk yang memiliki derajat yang tinggi diantara makhluk lain yang Tuhan ciptakan. Menurut seorang Mahasiswa STAIN MANADO bahwa manusia merupakan makhluk social yang artinya bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri, selalu membutuhkan orang lain. Manusia adalah makhluk yang dinamis, selalu berpasang-pasangan satu sama lan. Manusia jika membandingkan dengan makhluk lainnya tidak ada bedanya yaitu memiliki persamaan sifat makan, minum, beraktivitas, berjalan, dan sebagainya. Tetapi yang membedakannya dengan yang lainnya yaitu manusia adalah makhluk yang memiliki daya pikr, mempunyai kecerdasan, mempunyai kemampuan dalam membangun peradaban yang pada akhirnya juga memilik kebebasan. Manusia adalah ciptaan Tuhan, yang membedakannya dengan makhluk lainnya yaitu Tuhan memberikan manusia otak, kecerdasan, dengan hal tersebut maka manusia bisa meninggikan derajatnya dan bisa pula merendahkan derajatnya dalam pandangan Tuhan.

Kebebasan manusia dalam pandangan ilmu kalam menurut pak Yusno. A. Otta. MA.g adalah bukan berarti bebas sepenuhnya, ada konsekuensinya. Yang secara logis harus di pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Artinya kebebasan manusia ada konsekuensi logisnya. Kebebasan manusia merupakan anugerah Tuhan dalam arti bahwa bebas memilih jalan mana yang baik dan jalan mana yang buruk? Ketika manusia dihadapkan dua plihan tersebut dalam hidupnya maka mau atau tidak mau harus mempertanggungjawabkan apa yang telah di perbuatkannya dihadapan Tuhan.
Pandangan Pak Yusno A. Otta. MA.g sejalan dengan pemikiran seorang filosof muslim iran, dia mengatakan bahwa manusia merumuskan pemahaman mereka tentang peran mereka dalam kehidupan, tentang perilaku mereka, tentang apa yang mesti di perbuat ketika berbuat dosa atau melakukan kesalahan. Konsep tentang Tuhan menetapkan batas-batas kualitas kemanusiaan mereka, dan memberikan standar untuk mengukur kualitas kaum lain. Juga menginstruksikan kepada mereka bagaimana bersikap terhadap makhluk lain di sekeliling mereka bagaimana memandang tanggungjawab mereka untuk melindunggi dan melestarikann alam.
Harun Nasution di dalam bukunya menyatakan bahwa keyakinan pada kesanggupan akal dan pada kebebasan manusia mempunyai pengaruh terhadap konsep kehendak mutlak Tuhan. Jika keyakinan pada kebebasan dan kesanggupan manusia membawa kepada ketidakabsolutan kehendak Tuhan, keyakinan pada ketergantungan manusia sepenuhnya pada Tuhan membawa kepada keyakinan kemutlakan kehendak Tuhan. Agama Islam memerintahkan umat manusia untuk mengikuti bimbingan Yang Maha Kuasa selama hidupnya. Seluruh bumi in merupakan mesjid tempat manusia harus bertindak dalam segala aspek kehidupannya demi beribadah hanya kepadanya. Tujuan eksistensi manusia adalah untuk menghambakan diri dan patuh kepadalarangan dan perintahnya.
Dari pernyataan para filosof muslim ini mungkin pembaca menyangka bahwa manusia (dalam pandangan Islam) tidak memiliki hak-hak selain hanya kewajiban-kewajibannya. Pandangan ini tentu saja keliru. Menurut A. K Brohi, dalam penelitiannya mengatakan bahwa ’dalam totaltas Islam, kewajiban manusia terhadap Allah swt mencakup kewajibannya kepada setiap individu yang lain. Maka secara paradoks hak-hak setiap individu itu dilindunggi oleh segala kewajiban dibawah hukum ilahi. Sebagaimana suatu negara secara bersama-sama dengan rakyat harus tunduk kepada hukum, yang ebrarti negara juga harus melindunggi hak-hak individual.

Kebebasan merupakan problem yang terus-menerus digeluti dan diperjuangkan oleh manusia. Keinginan manusia untuk bebas merupakan keinginan yang sangat mendasar. Dalam konteks ini kita juga dapat mengambil contoh pemikiran Louis Leahy tentang kebebasan manusia. Bahwa ia berpendapat yaitu kebebasan merupakan salah satu karakter dasar manusia. Manusia adalah makhluk yang secara esensial berkehendak. Dalam perbuatan berkehendaknya keakuan manusia hadir dalam dirinya dan menguasainya. Karena itu pada dasarnya manusia tidak dapat tidak berkehendak.
Asumsi Louis Leahy mengemukakan bahwa gagasan kebebasan semacam ini selalu aktual dalam hidup manusia selain karena kebebasan merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dari diri manusia, juga karena kebebasan itu dalam kenyataannya merupakan suatu yang bersifat “fragile”; kebebasan bersifat sensitif dan rapuh. Manusia adalah makhluk yang bebas, namun sekaligus manusia adalah makhluk yang harus senantiasa memperjuangkan kebebasannya. Aktualitas ide kebebasan manusia juga didasarkan pada kenyataan adanya perkembangan arti kebebasan sesuai dengan situasi dan kondisi manusia. Arti dan makna kebebasan pada jaman sekarang tidak bisa disempitkan hanya pada pengertian kebebasan dalam masyarakat kuno atau masyarakat pra-modern. Pada jaman penjajahan kebebasan mungkin lebih diartikan sebagai keadaan terlepas dari penindasan oleh penjajah. Namun pada masyarakat modern, di mana bentuk penjajahan terhadap kebebasan juga semakin berkembang, misalnya dengan adanya gerakan modernisasi dan industrialisasi yang membawa perubahan yang radikal pada cara berpikir manusia, arti kebebasan juga mempunyai makna yang lebih luas. Kebebasan pada jaman sekarang bukan hanya berarti sekedar terbebas dari keadaan terjajah, namun mungkin lebih berarti bebas untuk mengangtualkan diri di tengah-tengah perkembangan jaman ini
Masih menurut Louis Leahy bahwa pengakuan manusia akan kebebasan dirinya menjadi segala-galanya dalam hidupnya.Dari sisi lain kita juga bisa melihat bahwa perkembangan pemikiran manusia di jaman modern telah membuahkan kemajuan dalam pelbagai bidang kehidupan manusia, seperti di bidang ekonomi, komunikasi, teknologi, dan sebagainya. Cara-cara memproduksi barang dan jasa dalam dunia modern tidak lagi dilakukan secara manual atau tradisional, tetapi secara mekanis. Tidak dapat disangkal bahwa arus modernisasi membawa akibat yang sangat positif bagi kehidupan manusia, namun kita juga tidak bisa menutup mata pada akibat-akibat yang negatif.
Menurut Jalaluddin Rahman tentang konsep perbuatan manusia menurut qur’an bahwa terdapat dua golongan kalam Islam dalam memandang yaitu Jabariya-Asy’ariyah dan Qodariyah-Mu’tazilah, pelaku perbuatan. Manusia dapat pula berbuat, berkehendak, dan berkemauan bebas dalam pilihan dan putusan, bedanya dan berkemampuan. Semuanya itu mengakibatkan manusia bersifat aktif dan kreatif serta produktif. Hasilnya terwujud dalam bentuk berbagai perbuatan baik atau jelek. Dengan demikian hasil atau perbuatan tersebut menuntut pertanggungjawaban manusia dengan logis.

C. Relevansi
Pernyataan penulis bahwa absolutisme merupakan jamak dari absolute yang berarti mutlak, tidak terbatsa, dll. Tuhan merupakan sang penguasa alam raya ini yang tiada serupa dengan dia. Dalam pandangan Islam Tuhan merupakan penentu takdir seseorang dan dialah yang satu dan tdak ada yang serupa dengan dia. Dialah Allah swt pencipta alam semesta dan isinya. Dalam hal ini menurut Daryanto di dalam kamusnya “Kamus Bahasa Inodnesia” bahwa absolutisme dalam arti luas adalah bentuk pemerintahan tanpa Undang-Undang Dasar, bentuk pemerntahan dengan semua kekuasaan terletak di tangan penguasa. Absolutisme Tuhan merupakan kekuasaan Tuhan yang mutlak, dalam arti semua yang ada di langit dan dibumi tunduk pada kekuasaanya. Al-qur’an menggugah akal fikiran manusia agar memikirkan kejadian dirinya dan alam sekitarnya yang menjadi bukti nyata tentang eksistensi Tuhan.

Penulis melihat bahwa secara hakiki manusia menginginkan kebebasan secara penuh. Kenyataan itu menunjukkan bahwa sebenarnya harapan dan dambaan manusia akan kebebasan belum teraktualisasikan secara penuh. Kebebasan manusia dan segala macam persoalannya itu akan menjadi semakin rumit kalau kita kaitkan dengan pandangan dari aliran determinisme. Pendapat penulis serupa dengan asumsi dari Louis Leahy dia mengatakan bahwa pengakuan manusia akan kebebasan dirinya menjadi segala-galanya dalam hidupnya. Dia melihat bahwa perkembangan pemikiran manusia di jaman modern telah membuahkan kemajuan dalam pelbagai bidang kehidupan manusia, seperti di bidang ekonomi, komunikasi, teknologi, dan sebagainya. Cara-cara memproduksi barang dan jasa dalam dunia modern tidak lagi dilakukan secara manual atau tradisional, tetapi secara mekanis. Tidak dapat disangkal bahwa arus modernisasi membawa akibat yang sangat positif bagi kehidupan manusia, namun kita juga tidak bisa menutup mata pada akibat-akibat yang negatif.
Menurut penulis Pembahasan ilmu kalam sebagai hasil pengembangan masalah konsep tentang Tuhan yang memberikan batas-batas apa yang boleh dan apa yang tidak boleh yang mempercayai eksistensi Tuhan tersebut. Sedangkan menurut Jalaluddin Rahman Konsep ini membentuk sikap pada pemeluk agama tersebut terhadap kaum yang mereka sebut ’kafir’. Berkaitan dengan perbusatan manusia muncul dua golongan yaitu Jabariyah dan Qadariyah, para ahli agama, filosof dalam berbagai kurun waktu aktif membahas apakah manusia bebas berbuat sesuatu sesuai dengan kehendaknya atau kehendaknya itu di sebabkan oleh sesuatu yang diluar dirinya. Dalam Islam, pembahsan itu muncul dari ilmu dalam tujuan eksistensi manusia di dunia ini menurut Islam semata-mata untuk beribadah kepadanya.
Keyakinan pada kesanggupan akal dan pada kebebasan manusia mempunyai pengaruh terhadap konsep kehendak mutlak Tuhan. Jika keyakinan pada kebebasan dan eksanggupan manusia membawa kepada ketidakabsolutan kehendak Tuhan, keyakinan pada ketergantungan manusia sepenuhnya pada Tuhan membawa kepada keyakinan akan kehendak Tuhan.

DAFTAR PUSTAKA

Daryanto, kamus Besar Bahasa Indonesias, Apollo, Surabaya, 1997

Yasin T. Al-Jibori, Konsep Tuhan Menurut Islam, Cet. Ke-1, PT. Lentera Basri Tama, Jakarta, 2003

Harun Nasution, Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah, Cet. Ke-1, Universitas Indonesia Perss, Jakarta, 1987

Syekh Syaukat Hussain, Hak-Hak Asasi Manusia Dalam Islam, Cet. Ke-1. Gema Insani Perss, Jakarta, 1996

Jalaluddin Rahman, Konsep Perbuatan Manusia menurut Qur’an, Bulan Bintang, Jakarta, 1992

Budi Purnama, lihat dimakalah I tentang “Absolutisme Tuhan dan Kebebasan Manusia”. Kamis, 07 Januari 2009 STAIN MANADO

s
Lihat Q.S Al-Mukminun (40):67

Lihat Q.S Al-Baqarah (2): 164

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: